
Selesai bermain di pantai keduanya memutuskan untuk kembali pulang karena hari yang mulai sore, di perjalanan ketika hampir samapi ke rumahnya Ananda meminta Abi untuk singgah di sebuah minimarket untuk membeli beberapa keperluannya.
Ananda masuk sendiri tanpa ditemani Abi karena ia berkata hanya sebentar dan tidak tidak perlu ditemani.
Di tengah mencari-cari keperluannya Ananda bertemu dengan Raline yang tengah ditemani oleh seorang gembul yang Ananda taksir berusia sekitar 10 tahunan.
Raline yang saat itu tengah mengambil barang yang tidak dapat diraih oleh bocah gembul itu terkaget saat Ananda mendekatinya.
"Hai, Mbak Ananda." Sapa Raline duluan mencoba berbasa-basi dengan istri dari bosnya.
"Hai." Balas Ananda singkat dan senyum terpaksa.
"Belanja mbak?" Tanya Raline membuat Ananda mengangguk dengan senyuman singkat dan kembali berkutat dengan mengambil satu-persatu barang yang ia ingin beli.
"Mbak Raline! Ayo pulang aku udah selesai belanjanya." Suara bocah tadi menarik atensi keduanya baik Raline maupun Ananda.
"Bener, udah engga ada lagi yang dicari Lang?" Tanya Raline memastikan pada si bocah yang dipanggil dengan sebutan 'Lang' atau 'Gilang' adik sepupunya.
"Iya mbak, ayo pulang!" Gilang dengan paksa menarik lengan Raline membuatnya hampir terjatuh.
"Pelan-pelan dong Lang ih! Mbak hampir jatuh tauk!" Protes Raline membuat Gilang terkikik geli.
Raline lalu menoleh ke arah Ananda untuk berpamitan pulang, "Pamit ya mbak," Ucap Raline sopan.
"Iya." Jawab.
Setelah itupun Raline pergi meninggalkan Ananda sendiri bersama barang belanjaannya.
Tiga menit kemudian setelah itu Ananda memutuskan untuk menyudahi acara berbelanjanya karena ia pikir telah semua barang yang ia butuhkan telah lengkap di keranjang belanjanya iapun segera menuju ke tempat kasir berada untuk membayar barang-barang belanjaannya hingga tidak lama Ananda pun telah keluar dari minimarket tersebut dengan dua buah kantung plastik besar di tentengannya.
Udara panas dari teriknya matahari pun langsung menerpa kulit Ananda setelah sebelumnya dinginnya AC minimarket menemaninya selama berbelanja. Namun yang membuat dirinya tidak kalah panas lagi adalah saat ini Ananda menangkap suaminya tengah berbincang dengan Raline di samping mobil mereka.
Abi tampak beberapa kali tertangkap tersenyum karena wanita itu membuat hati dan otak Ananda tiba-tiba mendidih seketika membayangkan Abi tersenyum untuk wanita lain.
Namun, sedetik kemudian Ananda berusaha untuk mengatur emosinya agar tidak membuatnya melakukan hal-hal yang dapat membuatnya malu di muka umum.
Dengan itu ia lalu mempercepat langkahnya dan segera mengajak Abi untuk pulang kerumahnya dan meninggalkan wanita itu.
"Mas," Panggil Ananda singkat membuat Abi terkaget.
Bisa Abi lihat mata Ananda menyiratkan sebuah perintah bukan panggilan.
"Hmmm, kalau gitu saya pulang dulu ya Line, salam buat keluarga." Abi memilih untuk pamit terlebih dahulu pada Raline.
"Iya Mas, nanti saya sampaikan," Ucap Raline.
BUKKK!!!!
Terdengar sebuah suara hantaman pintu mobil keras dari arah kiri mobil yang ternyata berasal dari Ananda yanh menutup mobil secara paksa membuat keduanya baik Abi dan Raline merasa tahu apa yang dipikiran Ananda saat ini.
"Saya pamit Line," Pamit Abi sekali pagi membuat Raline mengangguk dan segera menarik lengan adik sepupunya ke arah motor mereka yang tidak jauh dari mobil Abi berada.
"Itu siapa mbak?" Tanya Gilang yang tidak tahu-menahu akan duduk perkara pada Raline.
"Itu bos dikantor mbak," Jawab Raline.
Gilang lalu ber-O-ria namun mulutnya kembali lancang menanyakan sesuatu kembali. "Istrinya kok nampaknya galak sih mbak?"
"Ssssttttt. Engga boleh gitu," Tegur Raline.
"Iya-iya maaf. Kan aku cuma tanya."
"Hmm, yaudah ayo pakai ni helmnya," Ajak Raline lalu memberi sang adik helm.
"Aku yang bawa ya mbak, pliz," Gilang memohon untuk mengendarai motornya.
"Yah mbak, temennya aku aja banyak yang udah bawa motor kemana-mana," Rayu Gilang lagi.
"Kamu tahu engga sih, naik motor itu bahaya untuk anak kecil kaya kamu. Udah sini biar mbak aja yang bawa." Raline segera naik ke atas motor dan menyuruh Gilang untuk duduk di boncengannya.
"Lagian kurusin dulu itu badan baru boleh bawa motor, Kikikiki," Ledek Raline pada sang adik sepupu.
"MBAK RALINEEEEE!!!"
"Hahahaha"
Dan keduanya pun mulai melajukan arah menuju rumah mereka.
****
Di dalam mobil yang dikendarai Abi mendadak suasana yang tadinya diam kini tampak lebih canggung di antara Abi dan Ananda.
Bahkan Ananda kini hanya memalingkan wajah ke arah jendela seolah enggan untuk melihat ke arah sang suami.
Abi sadar bahwa kini sang istri tengah kembali lagi ke mood awalnya setelah tadi seharian Abi berhasil membujuk Ananda untuk mau berbicara padanya namun setelah tadi Abi yang kedapatan tengah berbincang dengan Raline mungkin membuat ananda kembali ke mood awalnya sebelum mereka berdua di pantai.
"Kamu jangan pikir macem-macem Nand, Mas tadi cuman ngomong masalah kantor sama Raline." Tutur Abi mencoba menjelaskan pada sang istri yang ia tahu kembali marah padanya.
"...."
"Mas tadi cuman nanya, kenapa Raline kok udah pulang kantor sementara jam kantor kan belum habis," Abi menoleh ke sisi Ananda yang masih membelakanginya dan seolah-olah enggan untuk menimpali perkataan Abi.
"Dia bilang kalau dia memang engga masuk hari ini karena di rumahnya lagi ada orangtuanya yang dari Jogja kesini. Dia juga tadi beli beberapa keperluan dia kok di minimarket,"
Abi lagi-lagi seperti orang gila yang berbicara sendiri sementara istrinya seperti membisu seribu bahasa.
"Nand," Panggil Abi.
"Iya mas aku ngerti," Jawab Raline dengan wajah yang masih membelakangi Abi.
"Yaudah."
*****
Ananda yang hendak turun dari mobil setelah sampai dirumahnya tidak lupa untuk menanyakan sesuatu pada suaminya.
"Mas mau pulang langsung atau mampir dulu?"
"Mas pulang aja terus ya."
"Oh oke," Jawab singkat Ananda lalu benar-benar turun dari mobil sang suami.
"Nand," Panggil Abi lagi yang kini menangkap pergelangan Ananda yang hendak turun.
"Ya?" Jawab Ananda pelan.
"Setepah mas nanti mecat Raline, kamu mau kan langsung balik ke rumah?" Pinta Abi dengan wajah yang begitu memelas dan jangan lupakan kilatan bening di matanya seolah ada air disana yang hendak tertumpah.
Ananda berpikir sejenak dan akhirnya iapun menggangguk.
"Iya Mas,"
Abi lega mendengarnya meski ada bagian dari ulu hati Abi yang tiba-tiba teras berdenyut kala menyebut nama Raline di antara keduanya.
"Baik, mas seneng dengarnya. Yaudah mas pulang ya?"
"Iya mas, hati-hati."
Dan dengan perlahan mobil Abi pun menghilang dari jarak pandang mata Ananda.