
Faiz mencoba menghirup angin dari atas sini, meski waktu telah bergulir ke siang bolong namun langit kini justru menggelap melingkupi mereka berdua.
Keduanya masih memilih untuk berdiam di atas gedung, di temani pemandangan lalu-lalang kendaraan di jalan raya di bawah sana.
Pikiran mereka melayang tidak tentu arah seolah mengenang kembali masa lalu yang mungkin sama-sama ingin mereka wujudkan kembali.
"Kakak engga mau tahu kenapa bang Abi bisa lupa ingatan?" Tanya Faiz berusaha menoleh untuk melihat wajah sendu Raline.
"Kecelakaan." Ujar Raline singkat sambil menahan air mata yang mulai menggenang dari pelupuk matanya.
"Dan kakak tahu kenapa bang Abi bisa kecelakaan?"
Raline bergeming. Tidak tahu ingin menjawab apa. Sebenarnya dia pun tidak tahu kenapa waktu itu Abi bisa mengalami kecelakaan, karena dirinya yang saat itu telah memutuskan pergi dan memutus kontak dari seluruh orang yang berhubungan dengan Abi. Barulah setahun belakangan dia mengetahui bahwa Abi mengalami lupa ingatan, itupun setelah dia membuka lagi hidupnya setelah bertahun-tahun terpuruk.
Faiz menarik nafas panjang lalu mulai bercerita.
"Kakak ingat, waktu kakak memutuskan semua kontak dengan bang Abi dan juga aku?," Raline mengangguk.
"Yah, Disaat itulah kami sadar bahwa kakak telah menghilang,"
Raline hikmat mendengarkan penuturan-penuturan dari Faiz.
"Bang Abi akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jogja buat cari kakak bahkan dia langsung pergi ke rumah kakak setelah landing di bandara. Tapi, yang di dapat bang Abi adalah rumah kosong tanpa penghuni. Setelah itu dia mutusin buat pulang kembali ke Jakarta setelah seharian nyari kakak di Jogja. Tapi...." Kalimat Faiz terhenti sejenak.
"Malamnya setelah dia landing di Jakarta, taxi yang di tumpanginya untuk pulang ke rumah malah nabrak pembatas tol, parahnya saat itu bang Abi lupa pakai sabuk pengaman dan malah nyuruh supir untuk ngebut dalam keadaan mengantuk. Dan berakhirlah kami sekeluarga di kabari bahwa bang Abi udah masuk UGD."
Rasa bersalah tiba-tiba menyelimuti dada Raline, seolah dialah yang paling bersalah karena kecelakaan yang di alami Abi.
"Kakak mohon maaf Iz," Lirih Raline seraya menunduk.
"Itu bukan salah siapa-siapa kak. Itu sudah takdir. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana membuat bang Abi ingat lagi dengan kakak," Tekat Faiz.
"Untuk apa?!" Ucap spontan Raline.
"Agar kalian balikan lagi kak,"
"Terus bagaimana dengan nasib istrinya sekarang, kamu mau buat pernikahan abang kamu cerai?"
Faiz mengangguk, "Toh mereka tidak saling mencintai,"
"Kamu engga boleh ngoming gitu Iz, pernyataan kamu itu bisa nyakitin banyak orang. Terlebih kedua orang tua kamu." Raline segera menyangkal ucapan Faiz.
"Aku engga perduli, toh, mereka juga pernah egois untuk misahin bang Abi dan kakak. Plis kak, egois lah untuk hati kakak,"
"....."
"Kak!"
"Maaf, kakak engga bisa Iz, Permisi, kakak harus kerja dulu." Raline akhirnya memutuskan untuk pergi dari hadapan Faiz menuju meja kerjanya karena kebetulan juga waktu makan siang yang telah habis.
Faiz sadar siapa itu Raline, gadis itu bukanlah orang jahat dan pendendam. Bahkan ketika dia pernah disakiti oleh keluarga Faiz, perempuan itu bahkan membalas mereka dengan senyuman keikhlasan melepas sang pujaan hati untuk di miliki oleh orang lain yang lebih dianggap pantas untuk keluarga mereka.
Namun, Faiz ingin sekali menyatukan kedua orang yang di sayangi nya itu meski akan begitu banyak masalah yang telah menunggu untuk di lalui.
Namun Faiz membulatkan tekat dan memilih percaya akan kekuatan cinta.
****
Hari ini adalah tepat kembalinya Abi ke rutinitas awalnya sebagai pemimpin dari perusahaan milik keluarganya, Respati Group.
Dia telah di jadwalkan untuk menandatangi beberapa kontrak-kontrak baru dengan beberapa investor demi menyuntikan dana untuk perusahaan milik keluarganya itu.
Abi tahu bahwa dirinya memiliki memori di masa lalu yang banyak telah hilang akibat sebuah insiden. Dia bersyukur memori yang hilang darinya hanya memori empat tahun kebelakang, sehingga dirinya masih ingat siapa dirinya, namanya, keluarganya bahkan mantan-mantan Abi ketika SMA.
Namun dia kehilangan seluruhnya memori ketika dia masuk di perguruan tinggi. Abi terkadang bertanya pada dirinya, seberapa pintar ia ketika kuliah dulu atau apakah dirinya pernah menjalin kasih ketika duduk di bangku perkuliahan?.
Abi akan menghela nafas panjang saat tubuhnya tidak berhasil untuk dipaksakan mengingat memori-memori yang pernah hilang darinya.
Dia berharap suatu saat ada kejaiban yang mengantarkannya pada ingatannya yang pernah hilang. Bukan apa, dia hanya ingin bisa mengenang saat-saat perkuliahannya nanti ketika hari tua.
"Pak, ini beberapa proposal yang harus bapak tanda tangani," Kata sekretaris Abi saat dirinya telah duduk di atas singgasana kursi kebesaran di kantornya atau lebih etis disebut dibalik meja CEO.
Abi mengangguk mengerti, "Taruh saja di atas meja nanti saya baca dulu. Ouh ya, tolong panggilkan Faiz."
"Baik pak," Sang sekretaris pun menutup ruangan bosnya dan memanggil Faiz yang hari ini sudah kembali ke meja karyawan biasa.
Tidak lama pintu ruangan Abi pun terbuka serta menampilkan tubuh jenjang Faiz yang muncul dari luar ruangan.
"Kenapa pak?" Tanya sopan Faiz saat telah berdiri di depan meja kakak lakinya tersebut. Jangan merasa aneh jika Faiz memanggil Abi dengan sebutan 'pak' di jam operasional kerja, karena meski Abi adalah kakak kandungnya. Itu adalah sebuah peraturan yang Abi buat agar Faiz tidak merasa diistimewakan diantara karyawan lain.
Dan alasan itupun diterima oleh Faiz saat dirinya harus membiasakan diri memanggil kakaknya itu dengan sebutan 'pak' di jam kerja.
"Udah engga ada yang denger juga," Kekeh Abi geli saat melihat wajah sopan Faiz.
'fiuhhhhh'
"Cape gue bang harus gantiin lo disini," Dumel Faiz seketika saat sang kakak memberi isyarat untuk tidak berbicara formal lagi.
"Tau kan loe sekarang, gimana itu dunia kantor yang sebetulnya, Huh!" Ledek Faiz.
"Iya bang, nyesel gue nerima tawaran ibu," Dengus Faiz.
"Ck. gimanapun suatu saat lo juga akan kayak gue dek. Ngurus kantor, juga keluarga kecil yang lagi gue bangun sekarang."
"Tapi gue engga mau cepet nikah ya!" Protes Faiz sambil merogoh kantongnya yang ternyata adalah sebuah kotak rokok.
"Kapan sih lo berenti ngerokok Iz?" Semprot Abi pada adiknya saat Faiz hendak menyalakan sebatang rokok.
"Sekali-kali juga," Kata Faiz membela dirinya sendiri lalu mulai duduk di sofa empuk di ruangan itu.
Abi pun memasang wajah masam dan menarik remote AC serta mematikannya.
"Bang!" Panggil Faiz, membuat Abi yang mulai berkutat dengan laptopnya lagi kini harus menatap wajah menjengkelkan adiknya itu kembali.
"Apa?"
"Engga gue cuman penasaran aja. Lo beneran engga ingat apa tentang masa-masa Lo di Jogja dulu?"
Abi menggeleng, "Gue udah berusaha Iz, tapi tetep aja engga ada memori sama sekali yang bisa gue ingat, kecuali...."
Faiz menegakan tubuh seketika, karena segitu inginnya mendengar apa kelanjutan dari kata-kata Abi setelahnya. Dia berharap semoga ada puzzle-puzzle memori tentang Abi dan juga Raline ketika mereka bersama yang masih diingat oleh Abi.
"Entahlah, itu memori atau hanya sekedar halusinasi gue, samar-samar."
"Apa itu?" Faiz mulai penasaran di buat kakaknya itu.
"Gue....., sepertinya dulu gue pernah punya orang yang begitu dekat dengan gue di sana, di Jogja. Tapi gue engga bisa mastiin itu siapa. Yang jelas gue kayak ngerasa bahwa dia itu dekat banget sama gue. Bahkan yang selalu terlintas adalah senyuman dia aja yang manis,"
G O T C H A !!!!
Faiz kegirangan bukan main dalam hati, karena sangking senangnya mendengar bahwa ada secercah harapan mengenai sembuhnya memori Abi tentang dia dan Raline dahulu.