MY IMAM

MY IMAM
Episode 5



Baik Abi maupun Ananda masih sama-sama mencerna tentang ide liar ibu dan mertua mereka. Mereka dipaksa berbulan madu, disaat keduanya masih terlibat suasana yang cukup canggung untuk berdua di


dalam sebuah ruangan.


“Kita batalin aja ya?, nanti aku yang


ngomong ke ibu.” Usul Abi. Keduanya masih berada di dalam dapur.


“Jangan!” Ucap Ananda membantah usul suaminya.


“Lho kenapa?” Abi heran.


“Aku engga mau ngecewain ibu kamu mas, dia sudah susah-susah beliin tiket dan paket liburan malah kita batalin. Aku engga tega,” Abi memberanikan diri mendekat pada Ananda. “Tapi kalau kamu ngelakuinnya karena terpaksa, aku juga engga tega Nand,” Ananda memberanikan diri untuk menatap mata hitam kelam milik sang suami untuk pertama kalinya secara intens. Tatapan itu begitu teduh membuat Ananda seolah tenggelam pada sesuatu yang ada di dalam diri Abi.


“Turuti kemauan ibu kamu mas, aku engga tega ngerusak perasaan dari seseorang yang sudah ngelahirin kamu dan juga pemilik dari surgamu,” Kalimat itu membuat Abi terdiam, tidak menyangka bahwa istrinya itu dapat berkata perkataan yang dapat mendiamkannya.


“Tapi aku juga engga mau ngerusak perasaan dari pemilik surga calon anak-anak ku kelak.” Ananda menitikan air mata tanpa sadar ia menghamburkan tubuhnya kepelukan Abi. Ananda kagum akan kesabaran laki-laki yang tengah memeluknya ini. Laki-laki hebat yang tidak pernah sekalipun memaksakan kehendak kepada wanita yang telah sah menjadi miliknya.


“Maafin aku mas.” Cuman itu yang dapat Ananda katakan pada Abi. Dan suaminya itupun semakin menggelamkan diri Ananda kedalam rengkuhan hangatnya. “Ajari aku untuk mencintai dan melupakan mas.”


Abi menghentikan usapan di punggung istrinya, “Pasti! Dan terima kasih sudah mau menuruti kemauan ibu aku.”


“Aku sudah ikhlas menerima pernikahan ini dan kamu. Itu berarti aku juga harus menerima orang-orang yang berada di balik kamu. Termasuk ibu kamu.”


Abi tersenyum bahagia akhirnya apa yang ia doakan selama ini terwujud Ananda mulai menerima kehadirannya di hati wanita cantik itu. Abi berharap agar tidak ada lagi yang dapat mengganggu kebahagiaan mereka yang hendak mereka mulai.


***


Seorang laki-laki baru saja menginjakan kakinya di atas pasir-pasir pantai di Bali. Pulau dengan julukan pulau para dewa ini menjadi tempatnya untuk berehat sementara dari rutinitas pekerjaannya sebagai seorang fotografer. Selain itu juga, ia sedang mencoba mendamaikan hatinya yang baru saja dipatahkan oleh kekasihnya. Harus menerima kenyataan dimana kekasih yang amat dicintai harus menikah dengan orang lain bukanlah hal yang mudah bukan?.


Ia pandangi langit sore yang mulai memerah sempurna serta merasakan angin yang berhembus menenangkan jiwanya. Hatinya kini mencoba melupakan rasa sakit yang ada dan disebabkan oleh wanita yang pernah ia pastikan akan menjadi miliknya suatu saat. Namun, ternyata takdir mengatakan perihal yang lain, kekasihnya itu malah lebih memilih untuk menikahi lelaki pilihan kedua orangtuanya.


“Ngegalau mulu Lo?” Sebuah tepukan dari teman lelaki itu mengagetkannya.


“Ck, Ganggu Lo!” Balas lelaki itu kesal.


Lelaki itupun kembali terhanyut dalam kenangan saat dulu dia dan mantan kekasihnya itu masih bersama, menghabiskan waktu duduk di bibir pantai sambil memandangi langit senja dan juga merasakan


bagaimana pernah menjai seseorang yang begitu dicintai. Zian rindu akan hal itu.


“Udahalah Yan. Udah saatnya Lo untuk move on, hidup harus tetep lanjut bro. Lagian juga si Ananda udah jadi istri orang.” Dion, sang sahabat mencoba menghibur kesedihan berlarut seorang Zian.


“Jujur gue masih belum ikhlas Yon.”


“Lo aja duluan gue masih mau disini.”


“Oke, tapi jangan bunuh diri Lo ya, HAHAHA?” Ucap Dion diakhiri tawa yang begitu menggelegar.


“Sialan Lo!” Umpat Zian.


Zian merebahkan dirinya di atas pantai dan menggunakan satu tangannya sebagai bantal untuk kepalanya sendiri. Ia coba pejamkan mata lagi, bayang-bayang masa lalu maih menghantuinya. Bagaiman bisa


ia bisa melupakan jika setiap saat senyuman gadisnya masih membayangi. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mencari pengganti sebagai sumpalan untuk luka hatinya yang masih menganga. Zian bukanlah lelaki sebrengsek itu untuk menggunakan orang lain sebagai alat untuk dia dapat melupakan.


Tarikan nafas panjang membuatnya ia kembali dari pikiran-pikiran kacaunya. Disaat itulah Azan maghrib berkumandang, mungkin itu cara Tuhan menjawab keresahannya. Tuhan ingin Zian sadar bahwa


telah lama ia tidak melakukan syukur pada sang pemilik alam semesta, segera ia bangkit.


Masjid sekarang adalah tujuannya melangkah.


***


Ananda berdiri di balik pintu kaca kamar tidur miliknya di salah satu resort di Bali. Selepas sampai di Bali tadi siang ia memutuskan untuk langsung tidur hingga terbangun hampir langit menggelap. Abi baru saja berangkat menuju salah satu Masjid untuk beribadah shalat maghrib. Ananda arahkan pandangannya ke arah pantai biru yang tampak menghitam karena cahaya yang semakin minim.


Dirinya lalu tersadar bahwa dirinya yang termenung terlalu lama mengabaikan Azan yang masih berkumandang. Segera ia tarik tirai penutup akses pandang dari luar kekamar dengan cepat hingga suatu bayangan lelaki melintas di depan kamarnya. Gerakan tangan Ananda secara otomatis berhenti mengikuti gerakan langkah kaki lelaki itu, baju kaos polo lelaki itu begitu familiar di mata Ananda. Baju itu persis seperti baju yang


pernah di belikannya untuk Zian--mantan kekasihnya—sebagai hadiah ulang tahun lelaki itu 7 bulan yang lalu.


Segera Ananda keluar dari kamarnya untuk melihat lebih seksama siapa lelaki itu yang begitu mirip dengan mantan kekasihnya. Namun sayang Ananda kehilangan jejak lelaki itu. Ananda lalu memukul kepalanya pelan, mungkin saja ia hanya terlalu banyak memikirkan perihal mantan kekasihnya hingga ia harus berhalusinasi akan kehadiran Zian di sekitarnya. Tapi separuh diri Ananda menyangkal dan meyakini bahwa apa yang ia


lihat tadi adalah benar-benar Zian.


Ananda mulai berbalik arah untuk kembali ke penginapannya bersama rasa penasaran yang masih begitu tinggi akan siapa lelaki tadi sebenarnya, mengapa dia bisa begitu mirip dengan Zian. Mulai dari cara lelaki itu melangkah, tangan yang selalu berada di dalam kantong celana serta baju yang ia pakai, mengapa begitu mendekati akan Zian. Atau apakah ini hanya halusinasinya?.


Hingga sebuah tangan menghentikan langkah lemas Ananda dan berkata.


“Kenapa kamu bisa ada disini?”


Suara itu, adalah suara yang Ananda rindukan selama beberapa minggu terakhir. Suara berat yang dimiliki


kekasihnya...


Ananda lalu berbalik hingga kedua matanya langsung bertemu akan mata berwarna coklat yang dulu begitu ia kagumi.


 “Zian!” Panggil Ananda.