
Jakarta tampak macet di seluruh penjuru jalan beraspalnya, kendaraan bermotor berlomba-lomba memberikan kontribusi asap polusinya ke udara. Puluhan mobil serta ratusan sepeda motor saling membunyikan klakson pertanda betapa mereka ingin cepat sampai pada tujuan mereka, tidak terkecuali motor milik Vanessa.
Vanessa yang mengendarai sepeda motor untuk mengantarkan Ananda pun beberapa kali mengeluh karena cuaca yang begitu terik menerpa kulit halusnya yang kini tiba-tiba terasa lengket dan kusam. Jalanan yang tampak seperti lautan kendaraan makin membuatnya jenuh. Keinginan Vanessa hanya satu sekarang, dia ingin cepat sampai pada tujuan.
Dan akhirnya setelah beberapa kali harus menerima makian serta teriakan dari para pengemudi yang lain karena dirinya yang menyalip secara paksa semua kendaraan itu dengan tidak sabar. Sampailah Vanessa di tempat yang ia tuju bersama Ananda.
Kantor Abi.
Ananda langsung menuju pintu lift untuk mengantarkannya ke lantai tempat dimana ruang suaminya berada dan Vanessa pun hanya bisa mengikutinya dari belakang dan sesekali celingukan melihat ruang-demi-ruang di kantor suami dari sahabatnya ini.
Bukan main memang arsitektur dari gedung ini dimana-mana terdapat titik-titik yang dapat memanjakan matanya terlebih setiap lorong di lengkapi dengan hiasan lukisan sebagai pemanis. Sungguh sempurna.
Langkah kaki keduanya terhenti di salah satu meja karyawan yang tidak lain adalah sekretaris Abi yang kini mulai berdiri menyambut kedatangan dari istri bosnya itu.
"Lho balik lagi Bu?," Tanya sekretaris itu pada Ananda.
"Iya ada keperluan sebentar, Oh ya, bapak di dalam kan?" Jawab dan Tanya Ananda yang langsung di angguki oleh sekretaris itu.
"Tapi kayaknya masih ada mbak Raline deh Bu di dalam."
"Lho ngapain dia?" Ananda spontan bertanya dengan nada heran dan dicampur kesal seketika.
Sekretaris itu hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu-menahu.
Vanessa yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pun akhirnya angkat bicara.
"Raline siapa Nand?" Tanyanya berbisik di kuping sahabatnya.
Ananda tidak menjawab, namun dari raut wajahnya Vanessa bisa membaca bahwa Ananda tidak menyukai siapa pun itu yang bernama Raline. Lihat saja wajah Ananda itu tidak lebih dari seekor singa betina yang siap menerkam mangsanya.
Dengan langkah seribu Ananda kini telah sampai di depan pintu ruangan Abi.
BRAKKKK!!!!!!
Ananda mendobrak pintu itu secara paksa dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat punggung dari seorang wanita telah condong membungkuk ke arah kursi sang suami. Ananda berkata bahwa suaminya itu telah selingkuh dan kini tengah berada di dalam ciuman wanita ular itu.
"Mas," Teriak Ananda memanggil suaminya itu. "Mas Abi!"
Abi baru tersadar akan hadirnya dirinya di saat Ananda memanggilnya untuk kedua kalinya. Ananda terlihat kecewa bukan main dengan Abi saat ini.
Dirinya yang semula ingin masuk ke ruangan Abi dan memarahi Raline tiba-tiba tidak memiliki daya lagi karena dirinya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa suaminya itu berselingkuh.
"Aku kecewa sama mas!" Pekik Ananda lantang membuat semua orang disana langsung bertanya akan hal apa yang sedang terjadi.
Abi terlihat berhenti mengejar Ananda dia pun memilih untuk kembali ke ruangannya.
"Antar gue pulang Ca," Pinta Ananda dengan air mata yang mulai membasahi pelipisnya. Vanessa tidak menimpali ucapan sahabatnya itu ia hanya berusaha mengangguk tanpa mau terlalu banyak bertanya meski dirinya juga masih penasaran dengan apa yang terjadi tadi.
Vanessa dengan cepat membawa Ananda menjauh dari gedung kantor dimana Abi berada dan mulai membelah jalanan kota Jakarta untuk kembali ke rumah Ananda dan suaminya itu.
Di perjalanan Ananda masih saja terus menangis dengan pilunya, meski kini dia memakai helm dan menutup kacanya rapat namun suara tangisannya itu masih saja bisa terdengar oleh dunia luar.
Ananda memutuskan untuk merubah arah tujuannya. Dia berpikir jika ia kembali ke rumahnya, dimana disana terdapat Abi di dalamnya sama saja ia akan merasakan bahwa dirinya tidak benar-benar pulang karena Ananda kini membutuhkan tempat dimana ia bisa merasa aman dan jauh dari orang-orang yang baru saja menyakitinya.
"Gue ikut ke apartment lu ya Ca," Ucapnya masih dengan isakan tangis mengiringi.
"Lho! katanya lo mau pulang?" Tanya Eca heran sambil sesekali melihat wajah sahabatnya itu dari kaca spion motor.
"Please Ca, gue ingin menjauh dulu dari suami gue." Mohon Ananda lagi hingga membuat Eca luluh untuk membawa Ananda ke tempat tinggalnya.
"Yaudah oke. Tapi Lo harus cerita ya,"
"Iya."
****
Sebuah unit apartment telah terbuka hingga dua orang wanita, Vanessa dan Ananda masuk dengan perlahan kedalamnya.
Ananda tampak lesu dan langsung merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu apartment Vanessa. Jiwanya masih saja terus melayang ke tempat kejadian tadi, bagaimana dirinya bisa melihat dengan matanya sendiri bahwa sang suami telah berselingkuh dengan salah satu karyawannya itu. Ternyata dugaan selamanya ini benar adanya, Abi memang telah berselingkuh dengan wanita itu. Wanita yang membuat Ananda merasa terancam akan posisinya sebagai wanita yang dicintai Abi satu-satunya.
Ananda merutuki dirinya yang begitu bodoh akan cinta, disaat dirinya sudah berhasil untuk jatuh cinta akan suaminya itu, kini malah ia yang harus kembali merasakan pedih karena ia telah di dua kan.
Kemana Abinya yang dulu rela untuk berkorban apapun demi menjaga perasaan Ananda. Kemana Abi yang dulu terus dan tidak hentinya mengucapkan kata cinta meski Ananda sama sekali belum bisa membalasnya. Kemana semua kesabaran Abi yang rela menunggu Ananda untuk membalas cintanya?. Apakah sekarang Abi telah menyerah. Apakah Abi telah bosan?.
Padahal belakangan ini Ananda telah merasakan satu perasaan cinta yang semakin hari semakin tumbuh di dadanya untuk lelaki itu. Tega kah Abi menyerah di saat kini Ananda telah mengandung anak mereka. Dan tegakah Abi meninggalkannya di saat Ananda telah mulai jatuh cinta pada lelaki itu.
Andaikan waktu bisa kembali dimana sang Ayah memutuskan untuk menjodohkannya dengan Abi. Ananda benar-benar ingin untuk mengatakan tidak atas perjodohan mereka dan menjauh dari lelaki seperti suaminya itu sekarang ini.
Karena jujur perselingkuhan adalah hal yang paling ia benci. Bukan sekali ia merasakan ini bahkan Zian pun pernah melakukan hal sama kepada dirinya.
Ananda merutuki dirinya yang lemah menjadi wanita yang gampang terpedaya oleh lelaki yang juga mudah mengatakan kata cinta.
Ananda lelah untuk berpikir hingga dirinya pun mulai terjatuh ke alam mimpi. Dirinya tidur dengan pulas sementara air mata masih mengalir setetes demi setetes dari mata indahnya.
Ananda berharap ketika ia terbangun semua ini hanya mimpi dan Abi berada di sampingnya untuk mencintainya.