MY IMAM

MY IMAM
Episode 42 Pergi -2



"Sini mbak, biar saya antarkan ke kursinya," Ucap seorang pramugari cantik yang ditugaskan siang itu untuk melayani para penumpang pesawat yang menuju suatu tempat.


Raline sebagai si penumpang yang dilayani hanya mengangguk lalu mengikuti arahan si pramugari.


Mereka berjalan ke arah kursi Raline yang ternyata berada di samping sebuah jendela deretan barisan belakang.


Seorang pramugara membantu mengangkat koper besar Raline untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Koper yang untungnya diijinkan untuk di bawa ke dalam kabin pesawat sehingga ia tidak perlu nantinya untuk mengantri untuk pengambilan koper di bandara tujuan.


Raline perlahan mulai duduk di kursinya yan bersebelahan langsung dengan jendela pesawat. Terlihat jalanan aspal memanjang di lapangan lepas landas bandara ini.


Dirinya lalu teringat saat beberapa waktu yang lalu masih berada dalam stasiun kereta api menuju Jogja yang diantarkan oleh keluarga pamannya. Awalnya memang Raline memutuskan untuk kembali ke Jogja untuk kembali ke kampung halamannya disana, namun rencana awal Raline itu ia khianati dan lebih memilih untuk melarikan diri saja ke suatu tempat yang ia yakini dapat menenangkan fikirannya yang tengah kacau.


Ia tahu hal ini akan membuat orangtua serta kelurganya khawatir jika mengetahui bahwa Raline yang pergi ke suatu tempat tanpa memberi tahu mereka sebelumnya kemana ia hendak pergi. Namun, entahlah Raline sudah malas untuk memikirkan hal-hal lain lagi karena yang ada dalam pikirannya kini adalah bagaimana ia bisa menemukan ketenangannya terlebih dahulu sebelum bisa menatap dunia lagi dengan segala kefanaannya.


Bukan tanpa sebab Raline memilih pergi, yang mungkin lebih pantas disebut sebagai pelarian. Polemik pikirannya yang tak berujung serta ratusan sel cintanya masih memilih untuk bergetar ketika melihat seorang Abi.


Berbulan-bulan Raline hadapi sebagi seorang wanita yang mencoba kuat dan bertahan dikala ia tahu bahwa lelaki yang dicintainya tengah berbahagia dengan wanita lain.


Setiap malam Raline akan menangis di atas pembaringannya, menangis karena satu lelaki yang sedari dulu ia cintai. Sedari dulu ia tunggu saat yang tepat untuk memilikinya bahkan sekalipun Raline telah pergi dari hidup Abi beberapa tahun yang lalu, cintanya masih bertahan untuk lelaki itu.


Tidak sedikit lelaki baru-baru ini yang datang padanya, mencoba mendekatinya, mencoba untuk meminta sedikit saja sisi hati Raline yang mulai memudar dari nama Abimanyu. Namun semua tidak berjalan semana mustinya, lelaki-lelaki itu tetap akan pulang dengan rasa hampa karena memang hatinya yang terus mengucap ribuan kali nama Abi untuk ia cintai.


Terkadang tangisannya di setiap malamnya itu juga disebabkan akan rasa bersalah dan berdosanya ia akan seseorang yang telah resmi memiliki Abi.


Dia merasa berdosa kala dia sadar dalam hatinya ia ingin mengambil Abi kembali padanya, namun rasa marah Raline juga tidak kalah besarnya kala mengingat bahwa disini Anandalah yang merebut Abi darinya. Merebut cinta Abi darinya.


Kepala dan otak Abi mungkin tidak dapat bekerja lagi untuk mengingat Raline namun tidak dengan hati lelaki itu yang Raline yakin masih memiliki rasa padanya.


Raline bukannya ingin terlalu terlihat percaya diri dengan yakin bahwa Abi masih memiliki rasa padanya meski otaknya sudah tidak menyimpan lagi memori tentang mereka. Namun kala tatapan mereka bertemu setiap waktu Raline merasa bahwa masih ada semburat cinta dari Abi untuknya.


Bahkan cinta masih begitu kuat tertanam disana yang bahkan mungkin telah dihiasi akan akar kerinduan karena hati mereka yang telah lama tidak menegur satu sama lain.


Raline tahu cinta itu kejam, namun Raline tidak menyangka bahwa cinta juga dapat merusaknya. Merusak segalanya. Dengan itu Raline pergi serta mengucapkan salam perpisahan pada hatinya yang ia kirim lewat bentaian langit biru diatasnya.


Cinta aku pergi!


Tidak lama kemudian pesawat yang ditumpangi Raline mulai take-off dan berhasil membawa raga Raline bersama benda itu ketempat tujuan namun tidak dengan hati serta fikiran Raline yang terkadang masih berujung untuk menuju di tempat dimana mereka sebelumnya. Tempat dimana ada cintanya yang ia tinggalkan.