
"Sahhhhhh!!"
"Alhamdulillah." Ucap serempak seluruh tamu undangan yang hadir pada akad nikah pasangan muda ini, seluruhnya nampak bahagia akan berlangsungnya pernikahan ini bahagia akan tercipatanya satu lagi keluarga yang di dasari pernikahan sah dimata Tuhan.
Semua tersenyum bahagia namun ternyata pernikahan itu menyimpan satu bibir yang sedari tadi tidak menampilkan raut bahagia. Raut wajahnya malah digantikan dengan wajah murung yang luar biasa, dia adalah sang pengantin wanita, Ananda Fitri.
Sang pengantin wanita yang sekarang telah sah menjadi seorang istri dari Abimanyu Respati- pengantin pria-. Dia tampak tak bahagia karena jujur dalam hatinya ia tak mau menikah terlalu muda di usia ke 22 tahunnya.
Disamping itu juga ia telah memiliki kekasih hati yang lain, yang begitu ia cintai bernama Zian Fikri sang kekasih yang hari ini memilih untuk tidak hadir karena kecewa akan pilihan hidup Ananda untuk menikah dengan pria selain dirinya.
Ananda sadar ia telah melukai hati lelaki iti dengan begitu kejam. mimpi-mimpi mereka telah mereka ukir bersama dengan tinta emas. Ada ribuan puisi yang telah mereka umbar satu sama lain. Ada malam-malam yang menemani mereka bersama. Ada puluhan senja yang mereka saksikan bersama. Namun, hari ini. Semua cerita Indah itu kandas akibat ucapan 'sah' dari semua saksi pernikahan Abi dan Ananda.
Sebenarnya Ananda bisa saja membatalkan pernikahan ini dengan berbagai alasan. Namun, ia memilih mengikuti kata sang ayah yang memang telah dari dulu menjodohkannya dengan Abi. Ayahnya menganggap bahwa Abi lah yang lebih pantas mendampingi Ananda ketimbang lelaki bernama Zian.
Terlebih sejak awal bertemu Zian, Ayah Ananda sangat tidak menyukai pemuda tersebut. Pemuda dengan Aksen Inggris tersebut.
***
Siang telah berganti malam. Tamu-tamu undangan di Acara pernikahan serta resepsi Abi dan Ananda telah pulang. Bahkan keduanya kini telah pulang di rumah mereka sendiri. Rumah yang telah dijadikan sebagai kado pernikahan dari kedua orangtua mempelai.
Abi baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya dari penatnya yang seharian ini menerima tamu undangan di pesta resepsinya. Bulir-bulir air masih membasahi setiap lekuk tubuh Abi yang dibalutkan bathrobe.
Dirinya kini menatap pada Ananda yang terduduk dipinggir ranjang dengan wajah yang menunduk. Abi sadar bahwa Ananda sebenarnya tak mencintainya namun gadis itu hanya ingin berbakti kepada orang tuanya dengan menikah bersama Abi.
Jujur sedari dulu sebenarnya Abi telah jatuh Cinta terhadap Ananda. Gadis yang merupakan anak dari teman karib sang ayah.
Gadis manis nan ceria itu, membuat Abi begitu semangat setiap kali sang ayah mengajaknya untuk bertandang kerumah orang tua sang gadis untuk sekedar mencuri pandang ataupun sekedar ingin berkenalan. Namun Abi tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya. Hingga suatu hari pak Lutfi- Ayah Abi- mengatakan bahwa Abi akan dijodohkan dengan Ananda gadis yang ia sukai. Dia pun dengan cepat menyetujui perjodohannya itu. Namun, entah kenapa sekarang dia menyesal akan hal itu karena harus membuat sang pujaan hati sedih dikarenakan perjodohan ini.
"Kamu udah mandi dek?"
Ananda tersentak dari lamunannya karena pertanyaan Abi tersebut.
"Eung, udah mas udah tadi. Bentar ya aku siapin baju mas dulu." Ananda bergegas kelemari yang telah penuh diisi oleh baju-baju mereka, ya para ibu keduanya sengaja membawa pakaian mereka yang berada di rumah kedua orangtuanya untuk dipindahkan kerumah yang sekarang telah menjadi hak milik mereka berdua.
"Nih mas," ihsan memberikan baju dan celana tidur kepada sang suami dan Abi pun menerimanya dengan senyum yang tidak lupa menghiasi wajah tampannya tersebut.
Jujur Abi begitu bahagia akan sikap sopan dan santun yang diberikan Ananda kepadanya tadi. Seolah-olah Ananda ingin berbakti kepada sang suami yang ia cintai. Namun, Abi sadar bahwa Ananda hanya berpura-pura bahagia atas penikahan ini. Ia hanya mencoba menjalankan kewajibannya sebagai pendamping Abi tidak lebih.
***
Saat ini keduanya telah berbaring diatas ranjang king size bed namun yang berbeda dengan pasangan lain dimalam pertama tidak ada percakapan romantis apalagi adegan lebih yang membuat para pasangan saling memadu kasih. Bahkan mereka tidur dengan saling membelakangi.
Belum ada yang tidur. Abi sadar dengan itu, dia merasakan ketidaknyamanan dari Ananda yang tidur disampingnya. Mungkin Istrinya itu merasa risih dengan hadirnya seseorang yang tidur bersamanya. Apalagi orang itu tidak disukainya.
Oleh karena itu Abi memilih untuk mengambil bantal dan berjalan keluar kamar untuk tidur di sofa depan tv.
Ananda yang merasa ada pergerakan langsung menoleh kearah Abi yang hendak keluar kamar.
"Mas Abi mau kemana?"
"Mas tidur diluar aja dek,"
"Kok tidur diluar?"
"Mas tau kamu gak nyaman ada mas disini." Ujar singkat Abi yang membuat Ananda serasa tertampar. Abi benar akan hal itu. Ananda menunduk, ia merasa bersalah untuk itu.
"Gapapa mas ngerti kok, kamu jangan sedih ya," Abi yang melihat ihsan mulai menunduk dan sedih, kini mencoba mendekati istrinya itu. Membawa wanita muda yang baru saja ia nikahi itu kedalam dekapannya.
"Kamu jangan sedih, mas ngerti kamu belum ikhlas terima perjodohan ini. Tapi mas minta kamu jangan pergi mas gak mau kita pisah. Prinsip mas dalam hidup adalah mas ingin menikah sekali seumur hidup dan pilihan mas jatuh kekamu, kamu gak perlu ngerasa bersalah, kita coba sama-sama ya?"
Ananda yang saat itu dalam dekapan Abi semakin terisak mendengarkan penuturan bijak lelaki yang kini telah berubah status menjadi suaminya. Jujur Ananda terkagum akan kedewasaan pria ini padahal seharusnya suaminya ini berhak meminta tugas yang seharusnya dilakukan istri dimalam pertama yaitu melayaninya tapi Abi tidak. Dia mengerti akan keresahan Ananda.
"Maafin Aku mas"
"Udah gapapa, sekarang kamu tidur ya" Abi membaringkan Ananda ditempat tidur kembali dan mulai berjalan keluar kamar untuk tidur di ruang tv.
'Aku mohon tetaplah bersamaku'