MY IMAM

MY IMAM
Episode 4



Ananda beberapa kali mengetuk-ngetukan


jemari lentiknya di atas meja makan ditemani beberapa menu makanan lezat yang baru saja ia masak sebagai makan malam. Perutnya sedari tadi terus berbunyi mungkin dikarenakan ia belum makan berat dari tadi siang, hanya es kopi yang berhasil ia masukan kedalam saluran pencernaannnya.


Ia masih setia menunggu kepulangan Abi dari kantor seperti malam-malam sebelumnya. Tapi entah kenapa malam ini waktu kepulangan Abi begitu lama tidak seperti biasanya.


“Mas Abi lama banget sih?” Desahnya


kesal.


Tidak lama berselang terdengar sebuah deru mesin mobil masuk kedalam perkarangan rumah pertanda sepertinya sang suami telah pulang, bergegas Ananda  bangkit dan membuka pintu. Ternyata instingnya benar, Abi terlihat keluar dari garasi. Sepertinya baru menyimpan mobilnya di dalam garasi di samping rumah.


Ananda segera meraih tas kerja Abi dan mencium tangan lelaki itu yang terulur kearahnya.


“Lama banget pulangnya Mas?” Tanya Ananda pada Abi.


“Ia tadi lembur ngerjain proposal buat proyek baru,” Ananda mengangguk, “Yaudah, mas mau mandi atau makan malam dulu?”


Abi berpikir sejenak, “Makan dulu aja deh, soalnya mas udah laper pingin ngerasain masakan kamu lagi, hehe.” Kelakar Abi.


Abi yang terbawa suasana tidak sengaja menggenggam jemari Ananda membuat wanita itu diam menegang seketika. Abi yang tersadar akan perbuatannya langsung melepas tautan kedua tangan mereka dengan cepat. “Maaf, mas engga sengaja,” Ucap Abi dengan nada tidak enak. Suasana canggung pun tercetak dari keduanya. Menyadari keadaan mulai tidak mengenakan. Abi segera mengambil alih keadaan dengan dalih ingin mandi terlebih dahulu.


“Mas, mandi dulu ajaya.” Ujar singkat Abi.


***


Seperti malam-malam sebelumnya, Abi akan mengambil sebuah bantal serta selimut untuk ia gunakan selama tidur di depan tv. Namun, sebelum selangkah lagi ia keluar dari kamar suara Ananda memanggilnya membuat Abi menoleh seketika.


“Udah cukup Mas, udah saatnya kita seperti pasngan-pasangan lain. Kita sudah seminggu menikah dan kita belum pernah sekalipun tidur seranjang.” Ucap Ananda begitu lancar.


“Aku cuman engga mau buat kamu risih dan aku cukup tahu kamu engga pernah suka sama aku.” Ananda menunduk. “Kamu cuman terpaksa menjalankan pernikahan ini Nand.” Lirih Abi lalu pergi meninggalkan Ananda di kamar tidur mereka.


Bulir air mata mulai mengalir di pelipis Ananda. Ia sadar bahwa selama seminggu ini ia hanya menjalankan tugas sebagai istri bukan sebagai seseorang yang mencintai suaminya. Jika boleh berkata jujur memang Ananda tidak setuju dengan pernikahan ini, tapi dikarenakan paksaan dari sang ayah membuatmya terjebak di dalam sebuah status pernikahan yang tidak ia inginkan. Tapi selama beberapa hari ini Ananda mencoba memaksakan hatinya untuk menerima keadaan yang telah terjadi bahkan ia mencoba untuk mencintai suaminya


itu, meski bayangan seorang mantan kekasih masih mengganggu pikirannya.


Ananda menangis sepanjang malam setelah mendengar penuturan Abi tadi, juga ada perasaan rindu yang tiba-tiba hinggap di dadanya pada Zian sang mantan kekasih yang tidak pernah menghubunginya lagi semenjak Ananda mengatakan bahwa ia menuruti keinginan ayahnya untuk dijodohkan. Biasanya jika sedang tertimpa sebuah masalah maka pundak Zian-lah yang menjadi tempat sandarannya untuk menangis. Dan setiap Ananda menangis tidak pernah sekalipun Zian akan menyuruhnya untuk berhenti, bahkan Zian akan diam saja hingga kemejanya basah kuyup karena air mata Ananda yang tumpah ruah. Dan juga tidak lupa tangan kekar lelaki itu yang akan mengusap punggung serta menyeka air matanya. Salahkah Ananda merindukan lelaki lain saat ia telah memiliki seorang suami?. Ananda pun jatuh ke alam mimpinya setelah pikiran-pikiran berat yang berkecamuk di kepalanya.


Tanpa Ananda sadari bahwa sedari tadi Abi masih memperhatikannya, memperhatikan bahwa pujaan hatinya harus menangis setiap malam karena dirinya. Abi merasa begitu bersalah mengapa ia harus menerima perjodohan ini meski ia begitu mencintai Ananda tetapi wanita itu telah memiliki pujaan hati lain sebelum ia datang ke kehidupan Ananda. Abi merutuki dirinya sekali lagi.


Paginya, suasana canggung begitu jelas terlihat. Beberapa kali pandangan keduanya bertemu namun dengan cepatnya mereka melepaskan tautan pandangan itu. Di meja makan hanya suara dentingan sendok dengan piring yang terdengar, rumah ini begitu sunyi. Semalam untuk pertama kali perdebatan mereka terjadi. Tidak seperti pasangan lain dimana di minggu-minggu awal pernikahan hanya ada canda dan tawa bahagia yang menemani namun di pernikahan mereka perdebatan telah terjadi bahkan di awal pernikahan mereka yang baru seumur jagung itu.


“Mas berangkat dulu ya kamu hati-hati di rumah, engga usah nganter sampai kedepan.” Ujar Abi sambil menyambar tas kerjanya.


“Iya mas hati-hati di jalan.”


Ananda pun segera mengambil peralatan makan yang telah kotor untuk segera ia cuci.


***


Sebuah ketukan dari pintu menghentikan acara mencuci piring Ananda, segera ia bergegas menuju pintu luar. Ternyata ibu mertuanya yang datang sepagi ini.


“Lho, Ibu kok engga bilang-bilang mau datang. Rumah masih berantakan lho bu.” Ucap Ananda sambil meraih tangan kanan mertuanya untuk ia kecup.


“Eh, emang ibu kaya mertua-mertua yang lain apa yang galak sama menantunya cuman gara-gara rumah berantakan.” Canda sang mertua, mertuaanya yang satu ini memang adalah orang yang begitu baik dan terkadang senang bercanda. Tipe-tipe mertua idaman kalau kata Vanessa sahabat Ananda.


“Abi udah berangkat ya.” Tanya mertuanya itu pada Ananda.


“Iya Bu, baru aja berangkat.”


“haduh telat ibu, padahal sengaja pagi-pagi mau berangkat biar bisa ketemu kalian berdua,”


“Memangnya ada apa bu? Ibu bilang aja sama Nanda. Nanti Nanda sampaikan ke mas Abi.”


Maryam-Ibu Abi—segera meraih tasnya mengambil dua buah kupon dari tasnya itu, “Ini lho ibu cuman mau ngasih paket liburan untuk kalian berdua, hitung-hitung untuk acara bulan madu kalian berdua.”


“Hah! Gimana bu?” Ananda melongo tidak percaya dengan perkataan mertuanya tadi, bagaimana mau berbulan madu bahkan memikirkan untuk berbulan madu saja ia tidak pernah. “Ibu serius?”.


“Serius dong, orang tiketnya udah Ibu pesanin.” Maryam memberikan dua tiket lain ke tangan Ananda. “Nih!”


“Aduh....harusnya ibu nanya dulu sama mas Abi. Kalau dia lagi sibuk di kantor gimana?”


“Ibu engga mau bantahan. Urusan kantor kan ada Faiz.” Sepertinya rencana ibu mertuanya ini sudah bulat untuk


membuatnya dan Abi berbulan madu hingga sampai melibatkan Faiz adiknya Abi untuk di pekerjakan menggantikan Abi sementara.


“Tapi kan Faiz baru lulus kuliah bu, takutnya dia belum bisa menghandle semuanya.” Ucap Ananda khawatir.


Maryam tersenyum lagi dengan tenangnya seperti semua akan terjadi sesuai rencananya, “Sudah kamu jangan banyak mikir, yang terpenting sekarang kamu nikmati kehidupan kamu sebagai Nyonya Abimanyu


dan segera kasih ibu cucu, Ok!” Ternyata tidak selamaya memiliki mertua yang


baik terdengar menyenangkan, Ananda menyadari itu sekarang.


“Yaudah, Ayo ibu bantu masak untuk makan siang!” Seru Nyonya Maryam dengan gembiranya menghiraukan Ananda yang sedari tadi berpikir bagaimana caranya menolak perjalanan bulan madu ini.


***


Sesampainya di kantor, seperti biasa puluhan sapaan akan memenuhi telinga Abi sepanjang jalannya hingga ia berhasil terduduk di kursi kebesarannya sebagai seorang CEO.


“Masuk!” Seru Abi saat sebuah ketukan dari luar ruangannya. Raline berjalan mendekati meja atasannya itu dengan sopan. “Pak, ini laporannya.”


“Lho! Kok cepat sekali. Kamu begadang ngerjainnya?” Raline mengangguk lagi-lagi. Abi menghembuskan nafas pelan.”Kan sudah saya bilang semalam kalau laporannya bisa kamu kumpulin siang.”


“Enggak papa kok pak. Saya selesain cepat buat bisa ngerjain pekerjaan yang lain juga.” Kilah Raline.


Abi tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.


“Saya kembali dulu ya pak.” Abi mempersilahkan Raline untuk kembali ke mejanya. Diriya sekarang fokus membaca isi laporan keuangan yang baru aja di serahkan oleh Raline. Semuanya terlihat


begitu rapi di tulis oleh wanita itu. Tidak salah memang pihak HRD merekrut Raline untuk dipekerjakan disini.


beberapa kalinya. Segera ia menuju warung kecil untuk membeli kopi buatan ibu penjual langganannya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Abi sendiri untuk minum kopi disana daripada memesan di bagian dapur kantor yang biasanya setiap ada yang memesan kopi maka para OB akan mengantarkan kopi itu langsung ke meja sang


pemesan. Namun, tidak bagi Abi ia lebih suka kopi buatan ibu penjaga warung disana yang baginya begitu enak. Selain itu juga ia suka mengobrol dengan para pekerja kasar yang tengah membangun sebuah gedung di samping kantornya. Abi senang saat bisa bertukar cerita dengan para pekerja itu, banyak pelajaran


hidup yang ia dapat dari para pekerja disana yang kebanyakan merupakan


pendatang di kota ini. Pendatang yang meninggalkan anak dan istri maupun


keluarga di kampung halaman mereka.


“Kopinya satu bu!’’ Teriak Abi sambil mendekati para pekerja yang pagi ini sepertinya tidak akan bekerja karena


gerimis yang tiba-tiba datang.


“Iya Mas!” Balas ibu penjual pada Abi.


Para pekerja menyambut Abi untuk bergabung bersama mereka, “Wah, Mas Abi. Sini mas gabung!” teriak seorang pekerja itu.


“Mas-masnya engga kerja?” Tanya Abi berbasa-basi.


“Iyani mas, kayaknya mau hujan jadi kita libur aja mungkin hari ini. bahaya kalau manjat-manjat gedung pas hujan, takut jatoh,” Ujar seorang pekerja lain.


Dan jadilah Abi yang terlibat obrolan santai-hingga berat dengan para pekerja. Hingga salah satu pekerja menyinggung perihal masalah pribadi Abi. “Mas Abi ini udah nikah atau belum?” Tanya pekerja


itu takut-takut menyinggung perasaan yang ditanya.


Abi tersenyum ramah kembali meskipun tadinya sedikit terkejut. “Baru aja nikah seminggu yang lalu mas,” Ujarnya.


“Wah ternyata pengantin baru. Engga ngundang-ngundang nikahannya mas.” Ucap Udin yang menanyakan perihal masalah pribadi tadi. Gogo yang mendengar reaksi nyeleneh Udin segera menoyor kepalanya kuat.”Emang kita siapa. Sampai-sampai Mas Abi mau ngundang kita.” Ujarnya kesal pada Udin.


Abi lagi-lagi tersenyum melihat keakraban para pekerja itu yang baginya sekarang seperti teman. “Aduh saya


kelupaan Mas beneran. Soalnya yang ngurus undangan keluarga Istri. Maaf ya Mas engga ngundang-ngundang.” Abi merasa tidak enak kepada sahabat-sahabat barunya ini.


“Aduh engga papa kok mas santai saja. Saya cuman bercanda tadi, jangan dianggap serius. Lagian kalau kita diundang mau bawa apa kita ke nikahannya mas Abi? Masa bawa badan doang?” Kelakar Udin


lagi.


Mereka pun tertawa bersama lagi. Terkadang berbagi masalah kepada orang lain itu bisa meringankan beban di


pundak kita. Dan jangan lupa juga untuk bisa menjadi seorang pendengar bagi keluh kesah orang lain.


***


Abi tiba dirumah lebih cepat dari biasanya, ia melirik jam yang menunjukan pukul 4 sore.....


Abi membuka pintu rumah dengan pelan, aroma harum kue langsung menyambutnya dari arah dapur. “Apa Nanda lagi buat kue ya?” Batin Abi sambil terus melangkah ke arah dapur. Awalnya ia ingin segera ke


kamar untuk sekedar berganti pakaian namun di karenakan aroma kue yang menyerebak ke seluruh penjuru rumah membuatnya penasaran akan apa yang di buat oleh istrinya.


“Ananda, kamu buat ku—eh... kok ada Ibu?” Kejut Abi saat melihat Maryam tengah membantu Ananda mengaduk adonan.


“Hah! Akhirnya pulang juga kamu. Sini-sini bantuin kita.” Abi melangkah tanpa berkata apapun lagi.  Ia diberi sebuah mixer elektrik oleh Maryam, Abi meringis. Tidak pernah sekalipun ia terlibat dalam pembuatan kue tapi haruskah sekarang ia melakukannya. “Kamu adukin sampai benar-benar halus, kalau kental tambahin air dikit aja. Ibu mau ke toilet sebentar.” Abi mengangguk malas berdebat dengan perintah Ibunya itu.


Abi pun melirik Ananda yang terlihat sedang memasukan adonan kue ke dalam cetakan.


“Dari kapan ibu disini?” Tanya Abi dengan nada heran


“Dari pagi selepas kamu pergi Ibu sudah sampai disini.” Jawab sang istri


 


Abi heran ada perihal apa ibunya mengunjungi rumah mereka, ibunya itu bukan tipe yang suka berpergian keluar


rumah untuk hal yang tidak perlu. Lalu Ananda pergi keruang tengah tidak lama ia pun kembali dengan empat kertas persegi panjang ditangannya. Ananda pun menyerahkannya kepada Abi. “Ibu mau kita bulan madu.” Ujar Ananda.


“Apa?!”


“Iya ibu mau kalian bulan madu,” Kata Maryam yang akhirnya kembali bergabung dengan mereka berdua.


“Bu, kerjaan Abi lagi banyak di kantor. Engga sempet untuk bulan madu.” Maryam mendekat lalu menarik daun telinga anak sulungnya itu membuat sang empu telinga mengaduh kesakitan. “Mau durhaka kamu


engga mau nurutin keamauan Ibu?” Abi mendesah, penyakit lama ibunya kembali


kambuh, suka mendramatisir.


“Bukan engga mau nurutin bu, tapi memang dikantor lagi sibuk.” Keluh Abi


“Kalau masalah kantor kamu tenang saja. Kan ada Faiz.” Kata Maryam enteng.


Abi berdecak kesal, “Engga! Ngurus skripsi saja dia luntang-lantung. Gimana ngurus perusahaan.”


“Pokoknya Ibu engga mau tahu kalian berdua harus ikut acara liburan ini. Titik!.” Ucap Maryam lalu mengambil tasnya untuk kembali pulang. Namun, belum sempat raganya menjauh ia kembali berkata, “Malam ini kalian harus siap-siap karena....... besok kalian harus berangkat!”


Abi dan Ananda otomatis bertatapan kaget. “Besok?”


Maryam mengangguk lalu tersenyum jahil, “Lihat dong tanggal keberangkatannya.” Sepasang suami-istri muda itu pun memperhatikan tanggal keberangkatan yang tertera di tiket mereka masing-masing, disana tertulis tanggal


keberangkatan bulan madu mereka adalah................


 


 


BESOK.