MY IMAM

MY IMAM
Part 2



Setiap sapaan dari bawahannya dibalas dengan senyuman ramah oleh seorang Abi. Meski berpangkat atasan bukan berarti Abi adalah orang dengan sifat angkuh dan sombong, malah sifatnya yang ramah dan down to earth membuat para pegawainya merasa begitu dihargai sehingga semua pegawai merasa nyaman dan betah bekerja di perusahaan keluarga Abi.


“Jangan berdiri, duduk aja.” Perintah mutlak Abi saat ada seorang pegawai wanitanya yang tengah hamil besar hendak berdiri dari meja kerjanya mencoba memberi salam hormat pada Abi. Wanita pegawai itu tidak jadi berdiri dan kembali menyamankan duduknya. Abi lalu mendekati pegawai wanitanya itu lalu memerintahkan sesuatu.


“Mulai besok ambil cuti, saya engga mau kamu kenapa-kenapa. Kamu pegawai saya itu berarti kamu juga tanggung jawab saya.” Perintah Abi segera diangguki oleh pegawai wanita itu. Dengan senyuman meneduhkan serta ramah Abi kembali melajukan jalannya menuju ruang kerja miliknya sendiri, meninggalkan para pegawai wanita yang berstatus jomblo menahan teriakan.


“Haduh, udah kaya, ganteng trus perhatian lagi. Calon suami idaman memang.”


“Nikung suami orang boleh engga sih?”


“Kenapa Habis nikah, si bos makin ganteng sih?!.”


Kata-kata pujian terhadap Abi terus mengisi batin para pegawai wanita yang ada disana. Memang sedari dulu Abi adalah bos yang begitu diidolakan oleh para pegawai wanitanya. Selain tampan dan kaya, Abi juga memiliki sifat gentle yang membuat para wanita bertekuk lutut padanya.


Terkadang juga perhatian-perhatian kecil dari Abi dapat disalah artikan oleh orang lain tanpa Abi sadari. Abi memiliki sifat kegentle-an yang cukup tinggi hingga tidak jarang membuat orang yang diperhatikan merasa baper oleh perlakuan-perlakuan kecil Abi.


Dari tatapan-tatapan seolah menginginkan dari para pegawai tadi. Ada satu tatapan yang menatap Abi begitu lekat. Tatapan penuh harap akan perasaan jatuh cinta yang dapat terbalas oleh Abi. 5 tahun bukan waktu yang singkat bagi pemilik tatapan itu untuk sekedar memendam perasaan rindu pada Abi.


Perasaan yang harus kandas kemarin saat Abi dengan bahagianya tersenyum di pesta pernikahannya meninggalkan perasaan wanita itu untuk segera dikubur dalam-dalam. Raline sang pemilik rasa itu.


“Lin, Si bos makin ganteng ya. Gila! Perasaan menikung makin kuat nih!” Susi rekan kerja Raline kini menoleh kearahnya karena merasa perkataannya tadi sama sekali tidak ditanggapi oleh Raline.


“Lin, woi! Lin!.” Suara teguran membuat Raline kembali dari lamunannya tadi.


“Eh, iya kenapa Si.”


“God please! Ngelamun Lo?”


“Maap. Tadi lo ngomonng apa?”


“Ck. Engga ada ape-ape, yok ah balik kerja lagi.”


“Sorry.”


“iye.”


Sebelum berjalan kemeja kerjanya, sekali lagi Raline mencoba menoleh ke pintu ruangan si bos. Seolah dapat menatap wajah orang yang berada di balik pintu berwarana putih itu dengan perasaan rindu yang telah menggunung.


“Sejauh apa kamu lupain aku Bi?’’ Batin Raline.


“Raline, ini nanti gue minta ya laporannya.” Ucap seorang wanita dengan tubuh berisi sambil meletakan setumpuk berkas di meja Raline.


Wajah Raline melongo. “Sebanyak ini mbak?. Aku kan baru mbak, masak harus ngerjain sebanyak ini?”


“Yeh maemunah malah protes!’’ Ujar ketua divisi itu membuat seisi ruangan kerja terbahak-bahak.


“Ini laporan si bos langsung yang minta. Lagian itung-itung ospek pegawai baru untuk Lo!”


Raline mengerucutkan bibirnya. Ketua divisinya ini memang suka sekali membully dirinya sejak awal Raline bekerja di perusahaan ini.


“Gue tunggu email dari Lo besok, Oke.” Kata wanita itu dengan membulatkan jari jempol dan telunjuk. Wanita itupun segera menuju lift meninggalkan para bawahannya, biasanya dijam seperti ini wanita itu akan makan mie instan cup di bagian kantin.


“Dasar nenek lampir!’’ Umpat Raline membuat Susi yang mendengarnya tertawa namun ditahan takut di dengar oleh pegawai lain, “Udah sabar aja. Dulu waktu pertama gue kerja disini juga sering kok di bully sama ntuh nenek lampir.”


Raline menarik nafas panjangnya lalu mulai mengerjakan laporan yang sudah di deadline. Sepertinya dia harus lembur ‘lagi’ malam ini.


***


Pusat perbelanjaan tampak begitu ramai siang ini. Toko-toko di sesakkan oleh para belanja-holic yang sibuk berburu barang diskon akhir bulan. Termasuk Vanessa sahabat dekat dari Ananda.


Deringan telepon membuat acara belanja baju Vanessa terganggu. Dia menggerutu kesal namun saat tahu siapa yang menelponnya diapun tersenyum ceria.


“Halo.”


“Halo, kenapa ni pengantin baru nelpon gue?’’


“Gue udah sampe ni!” Ucap Ananda di seberang telpon.


“Ouh ya, bentar-bentar. Lo tunggu aja di cafe biasa bentar lagi gue nyusul, nih tinggal bayar gue kok?”


“Ck, ini akhir bulan Nan. Banyak diskon. Engga tahan gue liat baju-baju di Mal yang lucu-lucu.


“Kebiasaan Lo. Nanti marah lagi pacar Lo gara-gara Lo boros?”


“Peduli amat. Orang gue belanja pakai duit gue sendiri kok!”


“Yaudah iya. Cepetan ya!”


“Oke nyonya Abimanyu!’’


“Rese Lu!”


***


Vanessa masuk kesebuah cafe yang sudah menjadi tempat janjian pertemuannya dengan Ananda.


“Fiuh! Capek banget gue.” Ucapnya sambil menyeruput es kopi milik Ananda di atas meja.


“Kopi gue itu!” Protes Ananda


“Bagi. Elah pelit amat.”


“Engga ubah-ubah Lo!’’


Helaaan lega dari Vanessa bersamaan dengan pelayan yang datang kemeja mereka menanyakan pesanan Vanessa. “Hmmm. Saya pesen Lemon tea dingin aja deh, Mas Ganteng.”


Mata Ananda berputar malas mendengar godaan Vanessa tadi terhadap pelayan cafe yang memang memiliki paras tampan. Vanessa tidak henti-hentinya melihat wajah tampan pelayan itu hingga pelayan itu pergi pun Vanessa masih mencoba curi pandang padanya.


“Fix, Gue mau telpon Fadil.”


“Eh jangan. Ngambek nanti doi sama gue Nan!” Ujar tidak terima Vanessa saat Ananda berpura-pura hendak menelpon pacarnya yang sedang bertugas keluar kota.


“Lagian Lo. Udah punya pacar masih aja jelalatan ke cowok lain.”


“Elah cuman cuci mata doang kali! Btw lo mau curhat apasih? Ouh ya malam pertama Lo sama Abi gimana?” Ucapan terakhir Vanessa langsung berakibat kepalanya ditoyor oleh Ananda.


“Kepala gue kok ditoyor sih?”


“Bacotan Lo tuh dijaga tempat umum ni,”


“Iya-iya maap. Gue kan cuman penasaran.”


“Gue mau curhat tentang pernikahan Gue.” Nada bicara Ananda mulai memelan. Dia tidak tahu harus curhat dengan siapa lagi, beruntung dia memiliki Vanessa sang sahabat sejak zaman SMA. Sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.


“Kenapa memang?” Raut wajah Vanessa berubah menjadi serius seketika. Dia tahu Ananda sedang tidak baik-baik saja.


“Gue sama Mas Abi cuman melaksanakan pernikahan diatas nama hukum tapi belum melaksanakan pernikahan semana semestinya.’’


Kepala Vanessa tertarik kebelakang serta dahi Vanessa ikut mengkerut tidak mengerti akan perkataan Ananda tadi. “Lo ngomong apaan sih gue kagak ngerti. Bahasa Lo jangan tinggi-tinggi amat napa?”


“Ck, Lo kok bego banget sih?’’


“Iya Gue bego! Siapa suruh Lo mau temenan sama Gue?’’


“Ye malah ngegas. Mau curhat ni gue?”


“Sok lanjutkan.”


“Gue... sama mas Abi...... tidur pisah ranjang.”


“HAH! Kalian mau cere?!” Kaget Vanessa membuat mas-mas pelayan tampan tadi menumpahkan air minumnya tepat di atas tumpukan belanjaan milik Vanessa membuat sang pemilik memasang wajah semenyedihkan mungkin.


“Baju-Baju gue! HUWAAAA!” Teriak Vanessa lagi membuat beberapa pengunjung cafe tersentak kaget.


“Nyesel Gue curhat sama dia.” Batin Ananda.