
Tidak terhitung lagi sudah berapa kali Ananda menumpahkan isi perutnya pagi ini. Pagi yang biasanya hanya di isi oleh percakapan-percakapan basa-basi di rumah yang ditempati oleh pasangan Abi dan Ananda itu, tiba-tiba menjadi pagi yang cukup gaduh.
Abi hanya bisa membantu menggosokkan tengkuk sang istri yang berdiri di hadapan wastafel kamar mandi demi untuk memuntahkan isi perutnya yang seperti ingin keluar, namun sejak sedari tadi mencoba mengeluarkan isi perutnya, yang di dapat malah hanya cairan bening yang terasa tidak enak di lidah Ananda.
"Kamu salah makan kali dek," Ucap Abi mencoba menerka apa yang menyebabkan Ananda begini.
"Masa sih?! orang aku semalam cuman makan buah aja engga ada yang berat-berat," Kata Ananda sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing, Abi pun membantu memapah Ananda berjalan menuju kamar mereka.
"Ha! atau kamu masuk angin kali, kan cuman makan buah semalam,"
Ananda setuju, "Mungkin ya Mas,"
"Yaudah kamu istirahat aja dulu, Mas engga ke kantor hari ini," Ujar Abi lalu membaringkan tubuh lemas Ananda di atas kasur.
Ananda tidak membantah karena memang dirinya yang sangat butuh istirahat saat ini. Kepalanya seperti berdenyut-denyut tidak berirama membuatnya berkali-kali ingin memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya.
Abi memutuskan untuk keluar dari kamar meninggalkan Ananda guna membiarkan istrinya itu mengistirahatkan tubuhnya yang teras lemas dan lesu.
***
Di waktu siangnya, Abi kembali ke dalam kamar lalu membangunkan Ananda yang tertidur dengan raut muka yang pucat.
"Dek!" Panggil Abi mencoba membangunkan Ananda.
Tidur Ananda terusik lalu dia pun membuka matanya hingga matanya beradu pandang dengan Abi yang menatapnya sambil tersenyum.
"Makan dulu yuk! makanan tadi kan kamu muntahin. Pasti perut kamu kosong sekarang takutnya masuk angin kamu makin parah,"
Ananda mencoba memutuskan tatapan mata di antara keduanya, dia takut akan terbawa suasana.
"Eungh, tapi aku engga selera makan mas, sama aja nanti juga pasti aku muntahin lagi makanannya," Ucap Ananda dengan suara serak khas orang yang tidak sehat.
"Di coba aja dulu ya,"
Ananda tidak dapat membantah lagi, akhirnya dia pun meraih mangkuk yang berisi bubur ayam yang di bawa oleh Abi tadi ke dalam kamar.
Ananda mengernyit heran, "Mas masak?" Tanyanya.
"Go-food dek,"
"Hmmmm, pantes"
"Pantes kenapa?" Penasaran Abi.
"Harumnya enak soalnya hehe," Ananda berkata dengan nada yang mencoba meledek.
"Jadi kamu maksud kalau mas yang masak engga enak gitu? hah!" Kata Abi tidak terima karena kemampuan memasaknya diragukan oleh sang istri, meski memang apa yang dikatakan Ananda tadi benar adanya.
"Aku engga bilang ya,"
"hmmm."
Ananda pun lalu menyendok bubur ayam pertamanya namun sebelum bubur ayam itu menyentuh bibirnya, Teriakan dari Abi menginterupsinya.
"Eh! Tunggu! biar mas suapin aja," Abi langsung mengambil mangkuk dari tangan Ananda dan mulai menggenggamnya.
"Kamu kan masih sakit," Alasannya.
Ananda hanya terdiam tanpa berniat menjawab.
"Ayo di buka mulutnya," Perintah Abi dengan nada seperti menyuapi anak kecil.
Ananda menyubit pinggang Abi lumayan keras karena memperlakukannya seperti anak kecil yang sakit.
"Sakit dek ini pinggangnya mas,"
"Rasain, rese sih. Memangnya aku anak kecil di perlakuin kayak gitu?"
"Ya kan emang masih kecil hehe,"
"Mas Abiiiii!"
"Hehe, iya iya engga lagi,"
Kemudian Abi melanjutkan suapannya tadi, namun yang terjadi selanjutnya adalah pandangan mata mereka yang lagi-lagi malah mengunci satu sama lain.
Pandangan itu semakin intens hingga memunculkan suara debaran dada yang bisa di dengar oleh mereka masing-masing.
Abi salah tingkah akibat dirinya yang terbawa suasana begitupun dengan Ananda.
"Hoeks!" Rasa mual Ananda kembali kambuh di saat yang tepat. Dia pun menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya dan berlari ke arah kamar mandi secepat mungkin.
Abi yang melihatnya pun segera menyusul Ananda dengan wajah yang khawatir.
Seperti tadi pagi, Ananda tidak dapat mengeluarkan apapun hanya cairan bening.
"Kerumah sakit ya," Bujuk Abi sambil membelai rambut Ananda selembut mungkin. Dirinya cukup khawatir sekarang ini dengan kesehatan Ananda.
"Tapi-"
"Ck, Jangan buat mas khawatir dek," Kesal Abi membuat Ananda melunak, "Yaudah iya,"
***
Pemeriksaan segalanya dalam tubuh Ananda pun telah di lakukan oleh salah satu dokter yang bertugas di klinik langganan Abi dan keluarganya.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya dokter itupun mendapatkan jawaban akan apa yang di derita oleh sang pasien.
Pria berjas putih itu didapati hanya tersenyum penuh arti ketika menyandarkan tubuhnya di atas kursi ruangannya yang terdapat pasangan Abi dan Ananda disana.
Mereka berdua pun di buat heran akan apa yang merasuki dokter di depan mereka ini hingga membuatnya tersenyum penuh arti seperti itu.
"Hmmm-" Dokter itu mulai menggumam, "Bagaimana ya saya harus mengutarakan nya, hmm, oke. sebenarnya tidak ada penyakit apapun yang di derita Ibu Ananda-"
"Alhamdulillah," Ucap Abi seketika tanpa rasa berdosa telah memotong perkataan dokter di depannya tadi.
"Eh maaf dok, lanjutkan," Tutur Abi lalu tersenyum tidak enak ke arah sang dokter.
Dokter menarik nafas pelan lalu melanjutkan kata-katanya yang tadi terpotong akibat interupsi dari Abi.
"Ibu Ananda Hamil!"
"APAAAAAA!" Teriak dua makhluk di depan dokter itu bersamaan.
"Bagaimana bisa dok?" Ananda yang masih syok hanya terdiam. Sedangkan Abi kembali bertanya.
"Ya begitulah dari hasil yang saya periksa, kalau tidak yakin kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut,"
"Engga usah dok, makasih. Tapi ini beneran kan?"
Lagi-lagi dokter itu mengangguk pelan membuat Abi yang di sana tersenyum bahagia, "Alhamdulillah," Ucapnya lalu menatap Ananda yang masih terdiam.
Tubuhnya mendekat ke arah Ananda yang terdiam, "Makasih dek," Bisiknya pelan di telinga Ananda.
Dirinya pun lalu meraih tangan istrinya dan mulai berdiri meninggalkan ruangan klinik itu dengan wajah yang 180 derajat berbeda daripada saat dia masuk ke dalan ruangan tersebut.
"Kamu kok diem aja?" Tanya Abi saat mereka telah berada di dalam mobil.
Melihat wajah Ananda yang terdiam saja dari tadi membuatnya penasaran.
"Kamu engga senang?" Tebak Abi yang langsung membuat Ananda kelabakan untuk menjawab 'tidak'.
Abi terdiam seketika, senyum yang tadi terhias di wajahnya kini pun sedikit memudar. Dia sadar bahwa Ananda mungkin masih belum bisa menerimanya dan kini malah dia harus mengandung buah hati mereka dari hubungan diantara keduanya.
Abi memaksakan senyum untuk terukir di wajahnya lagi, dia tidak mau merusak kabar gembira yang di terimanya tadi sang dokter.
Dia lantas menarik sabuk pengaman yang terdapat di kursi samping pengemudi dan memasangkannya untuk istrinya itu.
Meski tahu bahwa cintanya yang lagi-lagi belum terbalaskan, namun Abi telah berjanji, bahwa apapun yang akan terjadi, dia akan terus berusaha menjaga Ananda sebaik mungkin. Apalagi kini telah hadir calon malaikat kecil di antara keduanya yang Abi harap dapat membuat hubungan di antara keduanya semakin mendekat.
Abi berjanji bahwa sampai kapanpun dia akan terus menunggu Ananda membalas cintanya.
Meski dia tahu, akan ada ribuan luka lagi yang harus dia rasakan.
***
**Ayo kita buat team!
Lebih setuju Abi dengan siapa?
Ananda or Raline?
"TeamAbixAnanda or #TeamAbixRaline**