MY IMAM

MY IMAM
Episode 26 Mantan kekasih Ananda ternyata



Kepulangan Abi kerumahnya langsung di sambut dengan teriakan sang istri yang memang telah menunggu kepulangannya di ruang tamu sedari tadi.


"YA AMPUN MAS ABI !!" Ananda histeris saat melihat wajah suaminya terdapat banyak plaster luka serta bercak darah yang masih segar dimana-mana.


"Mas kenapa?" Ananda segera membawa suaminya itu untuk duduk di atas sofa di ruang tamu rumah mereka.


Abi hanya tersenyum tipis dan enggan untuk menjawab. Meski begitu Ananda segera berlari ke arah kotak p3k di dapur dan kembali untuk segera memperbaharui plaster luka di wajah suaminya agar tidak menimbulkan kuman penyebab infeksi.


Ananda begitu serius dengan pekerjaannya saat ini yaitu mengobati luka-luka yang ada di wajah lelaki tampannya tersebut. Ekspresi khawatir pun begitu jelas tergambar di wajah cantiknya.


Abi tersenyum bahagia saat menyadari bahwa istrinya mengkhawatirkannya. tangannya dengan perlahan menyentuh perut Ananda dan berkata, "Anak ayah lagi apa?" Tanyanya.


Ia bahkan kini mencoba menempelkan telinganya ke permukaan perut Ananda namun belum juga sampai wajahnya telah di tarik untuk menegak lagi.


"Lagi bobok." Jawab Ananda malas dan mencubit lengan Abi menimbulkan teriakan kesakitan dari orang yang dicubitnya, "Pinter banget ngalihin pembicaraan. Aku tanya kenapa Mas kok bisa sampai begini?" Ananda di tengah kalimat merubah nadanya menjadi lebih serius.


Abi menggaruk tengkuknya takut-takut jika saat dia jujur pada Ananda nanti, istrinya ini akan bereaksi dengan marah-marah padanya atau lebih-lebih bahkan membencinya karena telah menghajar Zian.


Tapi kalau tidak dijawab, sama saja Ananda akan bereaksi dengan mendiaminya.


Abi kini pun menyesal sudah berkelahi.


"Kamu jangan marah tapi ya kalau mas jujur."


Ananda menaikan salah satu alisnya, "Engga usah kayak anak kecil deh mas." Katanya.


"Beneran dek, jangan marah ya?"


Ananda segera menegakkan tubuhnya dan mulai menatap serius suaminya, "Iya. Aku engga marah. Sekarang cerita,"


"Um... tadi Mas berantem di lokasi pemotretan."


"APAAA?!" Teriak Ananda terkejut membuat Abi spontan menutup telinganya.


Abi lalu mengangguk membuat Ananda memandang suaminya itu dengan tatapan aneh. Ananda berpikir kalau suaminya itu cukup dewasa untuk tidak melakukan hal-hal semacam itu. Namun dia salah sekarang suaminya ini tidak lebih dari bocah nakal yang suka sekali berkelahi. Atau memang hal yang menjadi pemicu suaminya berkelahi itu adalah masalah serius?.


"Kenapa bisa berantem?" Tanya Ananda lagi.


"Tadi ada yang mancing emosi mas di lokasi, jadi mas kelepasan dan akhirnya. Kami berkelahi." Tutur Abi.


"Karyawan mas?"


Abi menggeleng, "Bukan, tapi pemilik studionya."


Ananda makin mengernyit keheranan.


"Sudah kamu engga perlu tahu. Masalah laki-laki. Mas mandi dulu ya," Kata Abi sambil mengecup puncak kening istrinya dan berlalu dari sana untuk selanjutnya ke kamar mereka.


Ananda Terpaksa lagi-lagi dia harus bertanya sesuatu tentang suaminya itu kepada seseorang yang Ananda ketahui tidak pernah menyukai dirinya, Faiz. Lagi-lagi Ananda harus meninggalkan harga dirinya untuk meminta bantuan pada adik laki-laki dari suaminya itu. Yang terkadang memiliki mulut yang begitu pedas saat bertutur kata dengannya.


Ananda meraih handphonenya dan membuka aplikasi obrolan berlogo warna hijau yang sering dipakai oleh orang kebanyakan.


**Ananda;


Kamu tahu Mas Abi berantem dengan pemilik studio?


Faiz;


Berantem?


Kenapa?


Ananda;


Engga tahu, dia diem saja ditanyain


Faiz;


Oke**.


*****


Di lain tempat.


Faiz baru saja mengirim pesan balasan pada Ananda. Dia mengatakan bahwa dirinya akan segera mencari tahu perihal mengapa sang kakak bisa berkelahi dengan si pemilik studio.


Setahunya hubungan antara Abi dan pemilik studio yang tidak lain adalah Zian sang fotografer terlihat baik-baik saja bahkan tadi siang mereka terlihat kompak dalam melakukan proyek ini. Abi yang tidak mengerti sama sekali tentang estetika pemotretan foto malah di minta saran oleh Zian bagaimana melakukan pemotretan sesuai keinginan Abi.


Tapi kenapa sekarang Ananda mengatakan bahwa mereka telah berkelahi?.


Faiz yang saat itu berada di salah satu cafe bersama kelima temannya pun segera pergi tanpa memberikan sepatah kata pamit pun. Membuat teman-temannya yang lain merasa heran Faiz pergi begitu saja.


Faiz menancapkan gas secepat mungkin ke tempat terkahir dia meninggalkan Abi. Dia pun di sambut dengan Dion dan Zian di depan studio tersebut.


"Syukur lah kalian disini, gue mau nanyak tentang Abang gue." Tanya Faiz langsung ke inti permasalahan.


"Apa bener kalian berantem?" Tanya Faiz.


Dion memberi isyarat melalui pelototan mata pada Faiz yang menanyakan hal seperti itu di saat yang tidak tepat. Bagaimana tidak, lihat saja wajah Zian yang sudah seperti singa jantan yang siap menerkam apapun karena telah mengganggu tidurnya. Dion takut kalau nantinya emosi Zian tersulut lagi hingga menimbulkan korban kedua.


Faiz yang tidak paham akan situasi malah terus mencecar Zian dengan pertanyaannya membuat Zian yang sudah tidak tahan lagi dengan cecaran Faiz tiba-tiba saja menubrukan tubuh Faiz ke dinding dan hendak memukulnya. Beruntung kepalan tangan yang siap mendarat di wajah Faiz di tahan dengan cepat oleh tangan Dion.


"Bro. ingat kita perlu kerjaan ini! Jangan sampai emosi lu ngancurin semuanya." Peringat Dion, lalu dia menoleh ke arah Faiz yang semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, "Elu ikut gue!" Perintah Dion kepada Faiz.


Dion mengajak Faiz untuk keluar dari studio dan menuju ke parkiran. Dengan gamblang Dion mengatakan segalanya yang terjadi, mulai dari mengapa Zian dan Abi yang berkelahi sampai dengan penyebab keduanya memilih untuk berbaku hantam di dalam studio.


"Jadi Zian mantannya Ananda?" Tanya Faiz memastikan.


Dion mengangguk, "Iya dia mantan pacar kakak ipar lo itu."


"GILA!." Umpat Faiz.


"Pantes aja mereka segila itu berantemnya," Dion mengangguk setuju.


Dion lalu teringat sesuatu, "Oh ya, tapi kita tetap lanjutin proyek ini kan?"


Faiz mengangguk, "Jangan takut, gue engga akan sembarang main putusin kerja sama kita kok. Lagian kan ini masalah bisnis. Kurang etis rasanya kalau di campur dengan masalah pribadi. Gue tunggu hasilnya ya bro!" Faiz menepuk pundak Dion mencoba menenangkan nya.


"Pasti." Ucap Dion yakin.


"Yaudah makasi bro informasinya."


Setelah berpamitan mereka berdua pun berpisah.


****


Faiz mencoba terus fokus pada jalanan yang ia susuri saat berkendara dengan sepeda motor besarnya.


Tetapi kata-kata dari Dion tadi terus terngiang-ngian di dalam benaknya.


Zian ternyata mantan dari Ananda sang kakak ipar.


Tidak habis pikir Faiz ternyata masalah perjodohan ini semakin pelik saja. Perjodohan ini ternyata bukan hanya mengorbankan Raline sebagai orang yang tersakiti tetapi juga Zian yang harus mengalami suatu kehilangan juga. Kehilangan kekasihnya yang kini telah di persunting oleh kakak Faiz sendiri.


Faiz dengan cepat meraih handphonenya untuk memberi kabar ini pada Ananda. Namun sedetik kemudian, dia pun mengurungkan niat itu karena dia berpikir mungkin dengan kehadiran Zian di dalam masalah ini akan membuat rencananya berhasil.


Yaitu memisahkan Abi dan Ananda dan menyatukan Abi lagi dengan Raline.