
Perhatian! : Aku merubah beberapa kata panggilan disini. Seperti Abi dan Faiz yang sebelumnya aku-kamu menjadi Lo-Gue agar lebih enak di dengar.
--------------------
Zian dan Dion terlihat begitu serius mengerjakan pemotretan demi pemotretan untuk produk perusahaan klien mereka di salah satu studio foto ternama di Ibukota. Zian bahkan beberapa kali me-retake sebuah tangkapan foto yang dianggapnya kurang estetik untuk dilihat.
Demi mendapatkan sebuah foto yang luar biasa, dua orang yang bersahabat lama itu pun rela berjam-jam untuk melakukan take foyo berkali-kali demi menghasilkan sebuah tangkapan yang memuaskan mata.
Selain Zian dan Dion di lokasi pengambilan gambar tersebut, disana juga terdapat beberapa orang lain dari belah klien perusahaan seperti Faiz yang memang ingin melihat langsung proses pemotretan produknya, atau juga ada beberapa karyawan dari divisi pemasaran yang ditunjuk untuk bertanggung jawab penuh atas pemotretan ini.
Namun, yang membuat semuanya terheran adalah disana hadir juga Raline dengan berpakaian bak seorang model dan langsung membuat Dion dan semua mata lelaki yang turut hadir disana tercengang karena hari ini wanita itu memang layak dikatakan seperti bidadari.
Bagaimana tidak wanita berkulit putih dengan kaki jenjang semampai itu mulai berjalan menuju arah depan kamera dan menantang benda itu dengan beberapa pose yang langsung di arahkan oleh Zian.
Dion yang berada di samping Zian pun hanya bisa memandang wanita itu dengan penuh harap jika suatu hari wanita itu bisa ia miliki. Bahkan beberapa kali dirinya terlihat gugup saat harus mengarahkan langsung pose-pose yang diinginkan oleh Zian sebagai sang fotografer.
Produk yang kali ini sedang Zian coba abadikan adalah sebuah produk kosmetik yang perusahaan Abi coba kembangkan, perusahaannya kini mencoba untuk berinovasi dalam menghasilkan produk-produk yang sedang di gandrungi oleh masyarakat dengan kualitas baik serta harga yang terjangkau.
Raline yang kali ini menjadi model merupakan ide dari Faiz yang sengaja menggunakan karyawannya yang dinilai cantik sebagai model dari produk kosmetik mereka, yaitu berupa krim anti sinar uv matahari. Hal ini dikarenakan Faiz yang tidak mau mengeluarkan dana lebih untuk menyewa seorang model professional.
Selain itu menurut Faiz juga, pemakaian jasa seseorang yang bukan dari kalangan model dapat menunjang ketertarikan masyarakat untuk membeli karena peraga yang digunakan bukan seseorang yang memang punya modal kecantikan alami.
Faiz tersenyum beberapa kali saat dirinya melihat Raline memperagakan beberapa pose yang menurutnya begitu indah, dia memang tidak salah memilih kakak tersayangnya itu untuk menjadi model.
Akhirnya setelah melakukan beberapa kali retake sesi foto, terpilihlah sebuah gambar Raline yang begitu luar biasa yang pastinya menjadi gambar yang dicari-cari oleh lensa kamera Zian sedari tadi. Selain itu juga, nanti rencananya foto tersebut akan di pajang sebagai cover dari katalog majalah keluaran terbaru dari perusahaan yang Abi miliki.
Faiz pun begitu puas dengan hasil tangkapan kamera yang Zian perlihatkan dia pun segera menghampiri Raline yang masih berada di hadapan lensa kamera.
"Kak tahu engga?, foto ini adalah foto terbagus yang pernah aku lihat, bahkan ini jauh di atas ekspektasi aku yang memang engga mau ngambil model profesional. Eh, malah ternyata malah ngambil model internasional kayak kakak gini. hehe." Kelakar Faiz menggoda Raline.
Raline mengikat rambutnya yang sebelumnya terurai membuatnya gerah, "Kamu bisa saja, kakak bukan model. Engga pinter kakak kalau harus selalu pose beda-beda di depan kamera." Keluh Raline membuat Faiz menggeleng cepat tidak setuju dengan apa yang lawan bicaranya katakan.
"Justru kakak sudah seperti model sungguhan. Aku yakin kalau ada kompetisis model dan kakak ikut sebagai peserta, aku yakin kakak yang menang. Engga salah lagi." Ucap Faiz membuat Raline mendesis.
"Bisa saja kamu tuh. Dah ah-, kakak mau balik ke rumah nih, Jangan lupa naikin gaji kakak, yang mau capek-capek kesini di hari libur," Omel Raline lalu mulai mendekati ruang ganti dan menutup pintu ruang itu meninggalkan Faiz yang ada disana dengan senyum yang merekah.
'Aku janji bakalan buat kak Raline bahagia bareng bang Abi'. Kata Faiz dalam hatinya lalu beranjak pergi dari depan pintu ruang ganti, bertepatan dengan itu Abi datang dengan mengenakan pakaian yang lebih formal daripada biasanya. Dia hanya mengenakan jaket kulit dengan dalaman kaos berwarna putih polos serta celana Chino berwarna coklat favoritnya.
Dia lantas mendekati sang adik yang baru saja kembali ke dalam ruang pemotretan di dalam studio itu.
"Darimana Lo?" Tanya Abi langsung pada Faiz yang tidak menyadari kedatangan kakak lakinya tersebut.
"Ck. Harusnya gue yang nanya ke Lo bang, darimana aja Lo, Pemotretan sudah hampir habis tinggal satu produk lagi, terus kelar. Lo malah baru datang!" Cerocos Faiz.
Abi menarik nafas pelan, benar ini salahnya yang melupakan suatu hal yang penting untuk hari ini.
"Gue kelupaan." Jujurnya.
"Kok Lo bisa lupa sih. Padahal udah dari kemarin gue bilangin juga,"
"Istri Gue hamil." Abi berbicara saat itu yang langsung di dengar bukan hanya oleh Faiz tapi juga Zian.
"Apaa!"
"Hah!!!!!" Zian otomatis melihat kearah orang yang tadi mengatakan bahwa sang mantan kekasih telah hamil dengan tatapan tajam.
Abi yang ditatap oleh Zian seperti itu merasa tidak senang dan mulai menatap lelaki itu dengan tatapan yang tidak kalah tajamnya.
Faiz yang tidak tahu-menahu mengenai permasalahan keduanya hanya bisa menatap kedua orang di hadapannya dengan tatapan heran.
"Kalian berdua kenapa sih?" Tanya Faiz seketika yang tidak di balas satupun oleh keduanya.
Dion yang merasa sebagai orang yang tepat untuk meredakan suasana canggung ini karena tahu duduk perkara pun segera maju dan mulai menarik lengan Zian untuk mundur.
"Tetep di situ dan jangan kemana-mana lagi!" Peringat Dion dengan mimik wajah yanh begitu serius.
Dion lalu beralih ke arah Faiz dan Abi yang masih berdiri di belakang mereka, "Boleh kami lanjutkan pak?" Tanyanya.
Faiz hanya bisa mengangguk mempersilahkan. Dia lalu menatap wajah Abi yang kentara sekali tengah memasang wajah yang kesal dan marah akibat ulah Zian. Bagaimana tidak kentara terlihat, lihat saja wajahnya yang begitu merah itu.
Faiz sebenarnya ingin bertanya ada masalah apa sebenarnya ini pada sang kakak tapi karena suasana yang pikirnya tidak memungkinkan dia mengurungkan lagi niatnya itu.
******
Pemotretan produk untuk catalog majalah yang terakhir telah usai dilakukan. Sudah saatnya sesi pemotretan ini disudahi karena waktu yang juga telah berlalu begitu cepat hingga kini hari telah mulai tampak gelap. Semua yang terlibat dalam pemotretan ini mulai dari kru dan make-up telah membereskan semua benda milik mereka masing-masing.
Faiz yang merasa sudah begitu jenuh karena sedari pagi sudah hadir di tempat ini mulai ikut berbenah diri. Dia pun menyambar jaket kulit miliknya sendiri yang terletak di salah satu kursi di sana.
Setelah itu dia pun mulai berjalan ke arah luar pintu studio dan pergi menjauh dari tempat menjenuhkan itu dengan menggunakan sepeda motor besar kebanggaannya.
Sedangkan Abi sendiri masih berada di dalam studio, matanya masih begitu semangat mengamati gerak-gerik dari seseorang yang sedari tadi ia tatap dengan tatapan mematikan. Zian yang pastinya.
Abi menunggu hingga akhirnya semua orang mulai pergi dari ruangan itu dan meninggalkan mereka berdua di sana. Abi mendekat ke arah Zian dengan gagah, sedangkan Zian sendiri masih sibuk mengamati hasil jepretan kameranya di layar laptop.
"Ekhmmmm..." Abi berdeham pelan untuk mendapat atensi sang lawan bicara.
Zian mencoba mendongak dari pandangannya di laptop, dan berpindah pada Abi yang sekarang tengah menatapnya dengan tatapan yang sungguh tidak bersahabat. Zian mencoba berdiri demi menghormati lawan bicaranya itu.
"Ada apa?!" Tanya Zian dingin.
"Gue engga mau buang-buang waktu untuk ngomong sama Lo. Tapi intinya gue cuman minta jangan pernah lagi deketin istri Gue atau Lo akan tahu akibatnya!." Ancam Abi begitu menggebu-gebu menyebabkan telinga Zian panas mendengarnya.
Namun tidak lama Zian malah terkekeh dengan tidak lupa memasang seringaian bengis. "Apa hak Lo larang-larang Gue?" Tantang Zian membuat emosi Abi sudah tidak dapat tertahan lagi
"Gue suaminya Ananda !!" Teriak Abi penuh emosi serta wajah yang memerah sempurna. Buku-buku tangannya pun mulai memutih seperti siap sedia untuk memukul pria di hadapannya ini.
Zian terkekeh lagi lebih kuat, "Lo tahu definisi suami-istri? hah!, Suami istri itu terjalin karena saling cinta bukan karena perjodohan. Dan Gue juga yakin kalau Ananda masih cinta sama Gue bukan sama lelaki pecundang kayak Lo!" Tunjuk Zian ke dada Abi.
Bukkkkk !!!!
Akhirnya sebuah tinjuan keras pun menghantam pelipis milik Zian hingga membuatnya terhuyung.
"***!" Teriak Zian tidak terima dan mulai menyerang Abi balik dengan sebuah tendangan hingga mengenai dada lelaki itu.
Abi yang tersungkur ke lantai membuat Zian lebih mudah untuk menaiki tubuhnya dan menyerang lelaki itu secara membabi-buta.
"Asal Lo tahu, lelaki pengecut kayak Lo engga pantas jadi ayah dari anaknya Ananda." Teriak keras Zian sambil meninju wajah Abi yang berada dibawahnya berkali-kali.
Abi berusaha keluar dari kungkungan Zian. Dia pun berusaha keras untuk menjatuhkan Zian dari atas tubuhnya hingga dia berhasil membalikkan keadaan dimana sekarang dialah yang duduk di atas tubuh lelaki itu dan mulai memukul wajah lelaki itu bertubi-tubi.
"Lo harusnya terima kenyataan kalau Gue yang menang disini, Bajingan!."
Mereka terus berguling-guling denga saling memberikan pukulan keras pada lawan.
Hingga sebuah suara pekikan awak make-up membuat semua orang terkejut.
"**Tolong!!!! ada yang berantem!"
"Abi**!" Teriak Raline spontan hingga lupa menyematkan kata pak pada panggilannya.
*******
**Alhamdulillah satu part lagi dari aku terselesaikan. Mohon dukungannya ya kakak-kakak untuk memberikan like dan comment agar aku terus semangat buat nulis. Dan kalau mau memberikan Vote lewat poin juga boleh kok.
Selamat malam**.