
Sebelumnya.......
"Nama aku Abimanyu Respati biasa dipanggil Abi, kuliah jurusan ekonomi dan satu fakultas sama kamu." Jelas panjang Abi dengan satu kali tarikan nafas.
******\*
Episode 14 : Pendekatan
Semakin hari intensitas bertemunya Abi dan Raline semakin sering. Abi selalu saja bisa menemukan Raline dimanapun gadis itu berada baik di dalam kelasnya, perpustakaan ataupun kantin Abi selalu bisa menemukannya.
Jika dulu Abi hanya bisa memperhatikan Raline dari jarak jauh kini Abi telah di beri keberanian untuk mendekati gadis itu secara terang-terangan.
Seperti saat ini dimana Raline baru saja menyelesaikan mata kuliahnya yang terakhir di hari sabtu, dengan tubuh yang telah merasa lelah dan capek Raline berjalan gontai ke arah keluar kelasnya. Dan betapa terkejutnya Raline saat dia menemukan Abi dengan hoodie hitamnya tengah bersandar di dinding depan kelasnya sambil terus melemparkan sebuah senyuman manis ke arahnya.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Raline sarkas. Dia masih saja kesal dengan lelaki 'batu' ini
Abi menegakan tubuhnya sekarang dan berjalan dengan cepat ke arah Raline dan langsung menggenggam erat pergelangan tangan Raline, "Mau ngajak kamu ke sesuatu tempat." Ucap Abi
Raline menghentakkan tautan tangan mereka cepat. "Maaf, aku sibuk." Raline dengan wajah yang tertekuk memilih berjalan meninggalkan Abi duluan.
"Ini malam minggu lho, sibuk apanya sih?" Kesal Abi lalu berlari mengejar Raline yang mulai menjauh.
***
Ibarat kata, Abi itu bengal dan masokis karena meski telah di tolak mentah-mentah ajakannya oleh Raline dia kini malah sukses membawa gadis itu naik ke atas becak yang hendak mereka tumpangi.
"Kek, biar saya aja yang ngayuh becaknya ya?," Tawar Abi kepada kakek tua sang pemilik becak.
Namun, dengan senyum tulus si kakek malah menolak tawaran Abi itu, "Eh engga papa mas biar saya aja, udah tugas saya juga ini." Jawab si kakek dengan nada sopan.
Tidak kehilangan akal, Abi lalu menuntun si kakek untuk duduk di sebelah Raline yang sedari tadi telah bersiap di atas kursi becak.
"Biar saya aja kek, kakek udah kelelahan ini pasti kan dari pagi ngayuh? sekarang gantian. dan tenang kek nanti tetep di bayar kok." Bujuk Abi lagi.
"Bukan masalah bayarannya mas, tapi ini kan memang udah tugas dan kewajiban saya atas penumpang." Kata si kakek lagi, tampaknya si kakek benar-benar merasa tidak enak dengan Abi.
"Udah kek tenang aja, lagian kan memang sayanya yang nawarin dan bukan kakek yang minta,"
Si kakek pun menyerah dengan kekehnya Abi dalam berargumen, dan berakhirlah mereka bertiga menyusuri jalan untuk pergi ke suatu tempat yang mana hanya Abi dan Tuhan yang mengetahuinya.
Setelah sekitar 18 menit berkendara mereka pun akhirnya sampai di sebuah perkampungan yang tidak begitu jauh dari pusat kota.
Abi pun turun dari becak yang tadi dikendarainya, keringat sudah pastinya bercucuran deras dari tubuh tegap Abi itu. bahkan kakinya kini terasa begitu nyeri akibat harus bekerja keras dalam mengayuh, jujur Abi begitu kasihan terhadap kakek ini yang mana di masa tuanya beliau masih harus bekerja keras untuk mencari sesuap nasi untuknya dan juga keluarga beliau.
Dan Abi pun tidak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan karena telah memberinya kehidupan yang lebih layak tanpa harus sesulit kehidupan yang dijalani kakek ini.
Dia lalu meraih uang pecahan lima puluh ribu dari dalam dompetnya dan menyerahkan uang tersebut kepada si kakek.
"Aduh mas, opo engga ada uang yang lain?" Tanya si kakek dengan aksen jawa yang kali ini terdengar lebih kental.
Abi tersenyum lalu memegang pundak si kakek, "Udah kek, ini untuk kakek saja. Engga usah dikembalikan."
"Tidak bisa mas, ini bukan milik saya. biar saya tukarkan dulu di warung itu ya," Tawar si kakek sambil menunjuk sebuah warung kecil di pojokan jalan.
"Udah kek engga papa. hitung-hitung ini untuk kakek karena udah mau pinjamin becaknya untuk saya pakai."
Tiada angin maupun hujan si kakek langsung terlihat menangis mendengarkan ucapan tulus dari Abi tadi, hingga tubuh Abi pun langsung di peluk oleh si kakek. "Makasih ya Nak, kamu baik sekali. Jujur, memang saya tengah memerlukan uang untuk membayar rumah kontrakan yang sebentar lagi jatuh tempo." Kata si kakek dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
"Kalau begitu ini saya tambahkan kek." Kata Raline yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Abi dan kakek si pemilik becak. Ditangannya kini terselip uang dua ratus ribu yang hendak ia berikan pada si kakek.
"Ja-jangan nak, ini saja sudah cukup." Tolak si kakek.
Raline lalu membantah secara halus, "Udah kek terima saja ini pemberian tulus dari kami berdua."
"Dan juga ini tambahan dari saya, "Abi memberikan lagi uang tambahan kepada si kakek.
"Alhamdulillah ya Gusti, Allahu Akbar!" Si kakek langsung bersujud syukur karena rasa bahagianya yang sudah tidak dapat terbendung lagi.
Beliau pun lantas berdiri lagi dan menyalami Abi serta Raline secara bergantian, "Makasih yan Nak, kalian berdua memang pasangan yang baik hati."
"pasangan! kami bukan pasangan kok kek." Ralat Raline dengan wajah merona membuat Abi tersenyum jahil.
"Ouh kita serasi ya kek?" Tanya Abi dengan mata jahilnya melihat kearah Raline.
Raline otomatis mencubit pinggang Abi karena ucapan sembarangan Abi, "Aw... sakit Line!". Teriak Abi kencang karena jujur betepa sakitnya cubitan Raline tadi
"Biarin! nyebelin kamu tuh." Raline pun mengalih kan pandangannya kearah si kake, "Kami temenan aja kok kek bukan pasangan."
"Oh! tak kirain tadi pacaran. Yaudah kalau gitu saya pulang dulu ya. Terima kasih bantuannya semoga Gusti Allah membalas kebaikan kalian berdua."
"Aamiin!" Ucap mereka berdua serempak.
"Kamu kok ngikut aminin?" Tanya Abi.
"Kenapa?!" Dengus Raline. "emangnya engga boleh ya ngaminin keyakinan orang lain?"
Abi mengangkat bahunya, "Engga tahu juga sih hehe." dia pun tertawa kecil bersama senyumnya Raline yang juga ikut mengembang.
"Yeee dasar!" Balas Raline lalu tersenyum lagi.
"Yaudah yuk jalan!" Ajak Abi pada Raline.
Raline berulang kali dibuat heran mendapati setiap orang yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka selalu saja menyapa keduanya atau lebih tepatnya Abi mungkin.
Seperti bapak-bapak setengah baya yang tengah duduk di atas kursi rodanya itu.
"Eh, Nak Abi mampir sini ke rumah bapak. udah lama engga mampir lho!." Seru bapak itu kepada Abi.
"Aduh kapan-kapan aja ya pak. udah mau malem soalnya, harus cepet-cepet ke markas ini." Kata Abi membalas.
Raline heran dengan ucapan Abi itu, "Markas? markas apa." Pertanyaan itu mulai mengiang di pikiran Raline.
Si bapak yang tadi menyapa kembali berbicara, "Okedeh kalau gitu. Jangan lupa nanti kalau singgah ke rumah, di bawa juga itu pacar kamu kenalin ke bapak haha." Godanya di balas senyum oleh Abi dan wajah yang canggung dari Raline.
'kenapa banyak sekali yang mengira mereka pacaran sih?' Kesal Raline. Padahal kenal saja baru ini malah dibilang pacaran.
Kaki Abi berhenti di depan sebuah gapura kecil dimana di dalamnya terdapat sebuah yayasan kecil bernama 'Mari Belajar'.
"Tempat apa ini Bi?" Tanya Raline seketika mereka sampai di tempat itu.
Abi tidak menjawab melainkan hanya tersenyum dan menggeret Raline masuk ke tempat itu.
Mereka langsung di sambut dengan anak-anak yang sedang belajar di ruang-ruang kelas yang di sekat menjadi kecil-kecil.
"Inilah tempat yang mau aku tunjukin ke kamu Line." Kata Abi sambil menarik lengan hoodienya agar lebih terangkat.
Raline masih terdiam tidak tahu harus menyahut apa.
"Kamu ingat dengan anak yang jual tissue di jalan malioboro yang 2 hari lalu kamu tolong?" Tanya Abi mencoba mengingatkan Raline.
Raline pun mengangguk seketika.
"Dia ternyata sekolah disini." Tukas Abi membuat Raline sontak terkaget.
"Kamu serius?"
Abi mengangguk.
"Mana aku mau ketemu?"
"Dia lagi belajar dan sebentar lagi mau pulang."
Raline cemberut mendengarnya.
"Besok lagi kita kesini ya," Bujuk Abi yang langsung di angguki Raline cepat.
"Janji?"
"Iya janji."