MY IMAM

MY IMAM
Episode 35 Titik-titik menuju gemuruh



Abi melangkahkan kakinya pasti turun dari mobilnya. Hari ini sang ayah mertua memanggilnya kerumah beliau untuk mendengarkan pengakuan dari pihak Abi mengenai kesalahpahaman yang Ananda alami beberapa hari lalu.


Setelah di beri tahu oleh sang mertua bahwa istrinya berada di rumah mereka Abi segera ingin menemui Ananda saat itu juga namun kedua mertuanya melarangnya untuk datang karena Ananda yang masih terlihat belum mau memaafkan Abi dengan penuh meski telah di bujuk oleh kedua orangtuanya bahwa semua itu hanya salah paham.


Mertua Abi menyuruhnya untuk datang keesokan harinya atau tepat hari ini untuk mengklarifikasi sekaligus untuk bertujuan menjemput Ananda kembali ke rumah mereka berdua. Dengan berani Abi mengetuk pintu rumah kedua mertuanya dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum," Salam Abi dengan suara yang setengah berteriak.


"Waalaikumsalam, Eh nak Abi." seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu mertua Abi membuka pintu dan langsung menyambutnya dengan senang saat mengetahui bahwa Abi lah yang tengah sedari tadi mengucapkan salam seraya mengetuk pintu.


"Iya, Ma. Gimana kabarnya. Sehat?"


Abi pun segera mengambil tangan sang ibu mertua dan menyalimnya dengan sopan.


"Alhamdulillah, Sehat. Yuk masuk udah ditungguin papa di dalam,"


Abi mengangguk patuh lalu Nyonya Nugraha pun segera menuntun Abi menuju ruang tengah dimana telah ada Tuan Nugraha tengah membaca koran sambil sesekali menyesap kopi hitamnya.


"Pa, ini Abinya udah dateng loh," Tegur Nyonya Nugraha kepada sang suami yang nampak serius membaca korannya.


"Oalah, udah datang. Silahkan duduk nak Abi," Tuan Nugraha menyuruh menantunya itu untuk duduk. Abi pun menurut.


"Sebentar ya biar ibu buatin minum," Kata nyonya Nugraha lalu meninggalkan dua lelaki itu di ruang tengah.


***


Tuan Nugraha serta istri dan juga Ananda duduk bersamaan di hadapan Abi untuk mendengarkan pembelaannya, Ananda tampak masih tidak mau menatap muka sang suami dan lebih memilih untuk merundukan wajahnya.


Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai permasalahan yang sebenarnya terjadi kepada kedua mertuanya, Abi pun meminta ijin untuk membawa pulang istrinya kembali ke rumah mereka.


Tuan Nugraha tampak sudah mengerti dengan permasalahan yang sebenarnya terjadi. Menurut tuan Nugraha memang Ananda lah yang salah paham atas kejadian beberapa hari yang lalu itu. Oleh karena itu beliau mempersilahkan menantunya untuk membawa pulang Anaknya.


"Papa minta maaf karena Ananda bersikap tidak sopan kepada kamu karena pergi dari rumah," Ujar Tuan Nugraha kepada menantunya.


"Tidak papa Pa,"


Tuan Nugraha menyentuh pundak menantunya, "Sejak awal papa menjodohkan putri papa dengan kamu, Papa yakin bahwa kamu adalah lelaki yang hebat, yang pantas untuk mendampingi putri papa. Terima kasih sudah mau mengerti dengan semua tabiat Ananda," Tampak ada sirat rasa bangga dan siratan terima kasih dari mata Tuan Nugraha kepada sang menantu.


"Justru Abi yang merasa beruntung menjadi suaminya Ananda dan menjadi bagian dari keluarga papa,"


Kepala Ananda otomatis terangkat akibat mendengar kalimat Abi itu dan ia tidak sadar bahwa sudut bibirnya terangkat sedikit karena merasa bahagia mendengar kalimat itu keluar dari mulut Abi.


Tuan Nugraha merasa begitu lega dengan penuturan pria gagah di depannya ini. Pria yang ia lepaskan putrinya untuk dipinang serta di bawa pergi oleh lelaki ini, melepaskan tali perlindungannya terhadap sang putri dan memberikan tali perlindungan itu untuk di ikat dengan tali yang baru oleh sang menantu.


Tuan Nugraha pun makin merasa bahagia setelah mendengar bahwa sang putri tengah hamil, itu artinya ia akan segera menjadi seorang kakek. Tuan Nugraha pun makin tidak sabar menunggu kelahiran cucu pertamanya itu, bahkan dia sendiri telah berencana untuk merubah halaman depan rumahnya untuk di sulap menjadi seperti taman bermain yang nantinya akan ia lihat cucu-cucunya akan bermain disana bersama dirinya menghabiskan waktu di masa tuanya.


Namun, saat mengetahui masalah yang terjadi beberapa hari yang lalu di antara putrinya dan Abi. Beliau merasa kecewa dan jujur merasa takut jika sewaktu-waktu pernikahan putrinya ini tidak bertahan lama mengingat keduanya menikah karena dijodohkan.


"Sekarang keputusan Ananda untuk mau pulang atau tidak," Tuan Nugaha melihat ke arah putrinya hingga putrinya itu kelabakan karena terkaget namanya terpanggil.


Ananda melihat ke satu persatu orang yang ada disana yang juga melihat ke arahnya. Dia sebenarnya masih bingung apakah dia harus pulang atau tetap di rumah orangtuanya.


Meski telah mengerti dan sadar bahwa apa yang ia lihat kemarin adalah sebuah kejadian yang terjadi akibat ketidaksengajaan tetap saja dadanya masih merasa ada yang mengganjal dan belum sepenuhnya lega meski telah berulang kali Abi mengucapkan maaf kepadanya dan di saksikan oleh kedua orangtuanya.


"Maaf Mas Abi, Aku masih mau disini." Ucap singkat Ananda yang membuat Abi maupun kedua orangtuanya terkejut.


Nyonya Nugraha segera menegur putrinya, "Nanda! Mama engga suka kamu jadi begini ya, Abi sudah minta maaf dan mengklarifikasi semuanya. Apa lagi yang kamu mau?" Terdengar nada kesal dari sang Ibu membuat Ananda tidak juga gentar akan keputusannya.


Abi memejamkan mata yang memberat serta raut yang lelah menghadapi semua kemarahan Ananda.


Ananda membusungkan dadanya kehadapan Abi dan berkata, "Aku mau wanita itu di pecat dulu, sebelum aku benar-benar kembali ke rumah kita berdua,"


Abi sontak terkaget dengan kemauan Ananda yang dinilainya berlebihan. Tuan Nugraha segera menegur putrinya, "Nanda! apa-apaan kamu. Sejak kapan kamu jadi kejam seperti ini, huh?!" Suara Tuan Nugraha meninggi serta melayangkan tatapan tajam pada putrinya namun sekali lagi Ananda tampak tidak gentar dengan kemauannya.


"Siapa yang kejam pa? Nanda cuman tidak mau pernikahan kami berdua hancur saja. Salah kalau Nanda ingin mempertahankan semua yang milik Nanda?."


Abi mengurut keningnya yang tiba-tiba terserang rasa pusing, "Tapi jangan yang seperti ini Nand?"


Ananda bergeming seolah enggan meralat semua perkataannya yang sudah terlontar. tampaknya Ananda memang ingin mengenyahkan Raline dari kehidupan suaminya.


"Kamu kejam Nand. Itu sama saja kamu membuat orang yang tidak bersalah menjadi korban dari keributan kita."


"Tidak salah? apa? mas bilang dia engga salah?...., Haha. Mas, aku kasih tahu ya sama mas. Dia suka sama kamu. Dia ingin rebut kamu dari aku mas."


"Tahu dari mana kamu? Sergah Abi menatap Ananda.


"Dari sorot matanya, bahasa tubuhnya. Aku sadar mas."


"Kamu berlebihan Nanda." Abi segera bangkit dari duduknya dan izin pamit kepada kedua orang tua Ananda tanpa melihat lagi istrinya itu. Dia sudah tidak ingin melihat istrinya yang tampak kekanakan untuknya.


"Maaf. Ma, Pa. Aku pamit. Terimakasih sudah menjamuku dengan baik." Dengan raut wajah yang serius Abi pun segera pergi dari rumah orangtua Ananda, meninggalkan istrinya yang melihat kearahnya dengan raut kecewa.


"Ingat kata-kata aku mas, aku mau dia DIPECAT!"