
Happy reading!
*****
Ananda cukup terpukul akibat pernyataan Faiz sebelumnya yang menyatakan bahwa Abi memang mengalami amnesia serta suatu kebenaran lagi yang dikatakan adik dari suaminya itu yang langsung membuat Ananda ingin meneteskan airmatanya yaitu, Faiz katakan bahwa perjodohan Ananda dan Abi hanya dilatarbelakangi oleh urusan bisnis kedua belah pihak keluarga mereka bukan benar-benar suatu ketulusan ingin membuat Ananda maupun Abi bahagia untuk mengarungi sebuah pernikahan.
****
Karena langit yang mulai menggelap dari arah luar cafe, Ananda pun memutuskan untuk bangkit dari kursi cafe meninggalkan lembaran rupiah di atas meja sebagai bayaran untuk pemesanan yang sama sekali tidak Ananda lakukan.
Anggap saja uang itu sebagai bayaran kepada cafe yang telah mengizinkannya untuk meminjamkan tempat untuk dirinya bertemu dengan Faiz serta mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya.
Selain itu, Ananda pun teringat akan suaminya yang ia tinggalkan di rumah dalam keadaan belum terlalu sehat.
Ananda tadi memang memutuskan untuk meninggalkan Abi yang tertidur pulas sesudah dirinya memberikan suaminya itu makan siang dan juga obat. Setelah itu ia memutuskan untuk menemui Faiz sesuai janjinya.
Di perjalanan pulang menuju rumah, Ananda lebih banyak termenung di dalam taxi yang ia tumpangi. Jalanan terasa lebih panjang untuk dirinya tiba di rumah. setelah sampai di rumah, Ananda pun membayar taxi dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil sesekali menyeka air mata yang terkadang sulit untuk tidak terjatuh dari matanya.
Rumah masih sepi saat Ananda membuka pintu layaknya keadaan yang sama seperti ia tinggalkan tadi ketika pergi.
Langkah kakinya mulai menaiki anak tangga menuju kamar lantai atas dimana kamar Abi dan dirinya terletak.
Namun belum setengah anak tangga ia naiki sebuah suara mengagetkannya
"Darimana?" Tanya Abi dari atas anak tangga seperti hendak turun.
Ananda mengelus dadanya yang sempat terkaget, "Fiuh, mas ngagetin aja sih? aku tadi habis dari luar mas."
Abi turun anak tangga cepat dan langsung menubrukan tubuhnya kedalam pelukan Ananda, kepalanya bersembunyi di dalam ceruk leher istrinya yang memiliki postur lebih kecil darinya itu.
Ananda merenggangkan sedikit pelukan mereka karena jujur pelukan Abi begitu erat hingga menyulitkannya untuk bernafas.
"Mas kenapa?" Tanya Ananda lembut sambil mengelus rambut kepala suaminya itu lembut.
Abi makin menelusupkan kepalanya di leher Ananda, "A-aku takut Nand! a-kku takut!" Ucap Abi terbata-bata.
"Mas Abi tenang, ada aku mas disini aku janji aku engga akan kemana-mana lagi," Ananda menarik kepala Abi untuk menatapnya, "Sekarang kita ke kamar ya, mas butuh banyak istirahat."
Abi mengangguk patuh, Ananda lalu menarik lelakinya itu menuju kamar mereka. Dengan telatennya Ananda memposisikan kepala Abi di atas bantal yang lebih empuk.
Langit kian menggelap di luar sana membuat Ananda berlalu dari Abi ke sisi dinding kaca dan menutupnya dengan tirai coklat penutupnya.
Abi memperhatikan kemanapun arah Ananda berlalu, dia seperti tidak ingin wanitanya lepas dari pandangan dan pergi lagi seperti saat ia terbangun tadi.
Ananda mendekat ke sisi ranjang, "Sekarang mas boleh cerita apa yang buat mas takut tadi?"
Abi kembali memasang wajah ketakutan seperti sebelumnya, "Engga tau dek, yang mas ingat cuman seperti ada sesuatu yang terus mengejar mas membuat pikiran mas ini kacau, dan terlebih lagi saat-"
Ananda menatap Abi seolah menyuruhnya melanjutkan kata-katanya.
"-Terlebih saat mas terbangun dan mas sadari bahwa kamu tidak ada di sisi mas, Dek,"
Ananda tidak tahu bereaksi apa, "Sudah mas sekarang tidur lagi saja, jangan mikir yang aneh-aneh ya." Kata Ananda sambil menarik selimut tebal menutupi tubuh Abi.
Abi kesal karena ia diperlakukan seperti anak kecil. "Dek, mas serius ini,"
"Mas!" Peringat Ananda membuat Abi mengalah lalu mulai memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian nafas Abi mulai teratur pertanda bahwa lelaki itu telah masuk ke alam mimpinya.
Suara gemercik hujan mulai terdengar di telinga Ananda seperti mengundangnya untuk menikmati. Dengan perlahan Ananda membuka pintu dari arah balkon luar kamar, udara dingin pun langsung menyapa kulit halus Ananda membuatnya langsung melipat kedua tangannya untuk mengusir sedikit rasa dingin yang menghinggapi.
Rintik hujan mulai jatuh berguguran di hadapan Ananda. Ananda tersenyum dikarenakan suara hujan yang menenangkan.
"Alhamdulillah." Ucapnya.
Ananda terus memainkan bola matanya kesana-kemari demi menikmati damainya sore yang ditemani dengan rintikan hujan.
Hingga mata Ananda pun menangkap sesosok lelaki yang duduk di atas motor besarnya sambil menatap ke arah Ananda dari arah luar pagar rumahnya.
Lelaki itu tidak memperdulikan hujan yang telah membasahi sekujur tubuhnya juga motor yang ia kendarai. Matanya malah fokus menatap ke arah Ananda.
Namun, ketika Ananda menyadari keberadaannya. Lelaki itupun seperti salah tingkah.
Lelaki itu pun sadar bahwa dia telah tertangkap basah telah memandangi Ananda sedari tadi, dia pun segera menutup kaca helm fullfacenya lagi dan mulai melajukan sepeda motornya cepat meski licinnya jalanan bisa saja membuatnya celaka. Tapi dia tidak perduli
Meski tidak bisa melihat secara jelas wajah lelaki tadi, Ananda tahu betul siapa itu~, pria yang selama beberapa hari telah pergi darinya dan tidak memperlihatkan sama sekali batang hidungnya di depan Ananda. Namun kini, lelaki itu malah mengunjunginya. Pria itu adalah........ Zian.
Mantan kekasihnya.
***
Ananda terbangun di subuh hari. Ia pun menoleh ke arah samping dan memandangi wajah Abi yang tertidur dengan begitu damai. Ia lalu meraih jam digital di atas nakas tepat di samping kepala Abi dan dilihatnya waktu yang sebentar lagi akan masuk waktu Azan shalat shubuh.
Ananda membangunkan Abi yang tertidur di sampingnya itu.
"Mas! Mas! Mas Abi!" Panggil Ananda seraya menggoyangkan lengan suaminya pelan agar lelaki itu terbangun.
"Engggh," Abi mengerang lalu mengerjap matanya sebentar. Dilihatnya sang istri yang tadi membangunkannya, wajah Ananda semakin cantik saja kalau baru terbangun seperti ini pikirnya.
Abi tersenyum lalu meraih rambut berwarna gelap Ananda lalu ia mainkan dengan gerakan mengusap pelan.
"Kamu cantik." Puji Abi membuat Ananda menyemburatkan pipi merah pertanda malu.
Abi memukul pelan dada suaminya, "Apasih mas. bangun-bangun udah ngegombal aja?" Omel Ananda membuat Abi terkekeh geli melihat ekspresi kesal istrinya.
"Mas shubuh ini shalat di rumah aja ya, aku takut mas kenapa-kenapa kalau di jalan ke masjid."
"Masak mas harus shalat di rumah sih, nanti di katain lelaki sholehah lagi, hahaha." Ketawa Abi kencang membuat Ananda lagi-lagi memukul tubuh Abi pelan karena kesal.
"Udah aha ayo bangun keburu habis nanti waktu shubuh-nya," Ucap Ananda dengan berusaha menarik tangan suaminya agar bangkit dari kasur.
"Hehe, iya iya. Sayang!"
Akhirnya mereka pun melaksanakan shalat shubuh berjamaah di rumah mereka. Hal itu pertama kali terjadi karena biasanya Abi akan melaksanakan shalat di masjid bukan di rumah, namun karena Ananda yang masih takut akan kesehatan suaminya itu yang bisa saja terjadi yang tidak diinginkan di luaran sana. Lebih baik Abi melaksanakan saja shalat di dalam rumah.
'Allahu Akbar!"
Seru Abi sebagai imam seraya mengangkat tangan lalu meletakan tangannya di dekapan dada, hal itu pun diikuti oleh Ananda sebagai makmum.
****
*Kamu tahu sayang apa yang selalu kuinginkan?
Tawamu, senyummu dan juga cinta darimu.
Bibirku mengucap berulang kali menyebut nama indahmu sambil tidak lupa menatap tumpukan bintang yang membentuk garis-garis hingga tercipta senyum cantik mu
oh hati!~*
****
Jangan lupa comment yang banyak ya!!!! Hehe