
Hari ini adalah hari dimana Abi memberanikan dirinya untuk berbicara kepada Raline mengenai pemecatannya dari kantor Abi. Sejujurnya ini bukanlah hal yang mudah baginya untuk memecat seseorang, apalagi yang ia pecat adalah pegawai teladan seperti Raline yang tidak pernah membuat masalah untuk kantor dan di kantor.
Dan disinilah Abi di ruangannya dengan adanya Raline di hadapannya tengah membaca surat pemecatan dirinya.
"Saya salah apa pak, kenapa saya dipecat?" Tanya Raline yang tidak menerima pemecatan atas dirinya.
"Line, saya mohon maaf sekali kamu tidak bisa bekerja di kantor ini lagi. Tapi ingatlah kamu tidak punya salah Line dengan kantor ini, tapi hanya saja...." Untaian kalimat Abi terputus karena dia merasa berat untuk mengatakannya.
"Apa ini karena keinginan istri bapak?" Tebak Raline tepat sasaran membuat Abi terdiam tidak sanggup membalas perkataan wanita di depannya itu.
Abi mengurut keningnya sebentar, "Lin, saya mohon maaf, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi agar istri saya bisa kembali kepada saya."
"Tapi bapak tidak bisa dengan sesuka hatinya memecat saya hanya karena istri bapak yang tidak menyukai saya!" Nada Raline tampak meninggi dan wajahnya pun ikut memerah.
"Line, saya mohon maafkan saya. Kamu bisa saja membuat surat pengunduran diri jika kamu tidak terima saya memecat kamu,"
Raline menatap dengan tajam wajah bosnya ibarat seekor mata rubah yang siap menerkam, "Baik. Saya akan pergi dari kantor ini dan bahkan dari hidup bapak serta istri bapak,"
Raline segera bangkit dari duduknya dan mulai berdiri.
Namun sebelum dirinya benar-benar pergi sebuah kalimat dari bibir Raline berhasil membuat diri seorang Abimanyu terpaku seketika.
"Huh! Aku engga nyangka Bima, Kamu bener-bener berubah sekarang."
Bima?
Entah kenapa setelah mendengar ucapan dari Raline yang memanggil Abi dengan panggilan 'Bima' otak Abi mendadak beku, ya, benar-benar terhenti seketika. Seolah poros waktu dunianya berhenti hanya karena Raline memanggilnya dengan panggilan itu. Matanya membulat bagai sesuatu yang benar-benar mengejutkannya dan tiba-tiba ada serpihan-serpihan memori kecil yang seperti bayang-bayang muncul di dalam kepala Abi seolah memberontak untuk ia ingat kembali.
Panggilan 'Bima'. Ya.... Abi tiba-tiba teringat akan satu bibir yang hanya memanggilnya dengan nama tersebut dikala orang lain akan lebih memilih untuk memanggilnya dengan panggilan 'Abi', satu bibir yang Abi ingat seperti sebuah bibir gadis yang terkadang muncul di mimpinya beberapa tahun terakhir namun Abi tidak pernah bisa jelas untuk mengingat wajah gadis itu setelah ia terbangun dari tidur.
Dan kini Abi sadar siapa pemilik bibir itu. Dia adalah Raline. Gadis yang sering muncul di mimpinya, memanggil namanya dengan sebutan sayang 'Bima' yang sering diartikan sebagai pemberani.
Abi otomatis bangkit dan melihat ke arah Raline yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Abi, namun yang bisa Abi lihat hanya kepulan air mata yang menumpuk di dalam kelopak mata wanita di depannya ini. Tinggal menunggu saja kapan kelopak itu menutup hinga bulir-bulir air mata itupun terjatuh membasahi pelipis mulusnya.
"Kamu siapa Line? kenapa kamu sering muncul di mimpi saya?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Abi dan Raline sebagai si lawan bicara tiba-tiba saja menitikkan air matanya karena kalimat Abi tadi.
Raline merasa bahwa sepertinya Abi telah sedikit mengingat akan dirinya.
"Bim...!" Panggil Raline lagi.
"Iya aku Bima, dan kamu siapa Line?. Plis jawab aku!. Semua orang yang aku tanya hanya diam Line?"
"Line?" Panggil Abi lagi.
"Percuma Bim, semuanya sudah telat!. Sudah telat untuk dijelaskan." Jawab Raline.
Abi segera memutari meja dan langsung berdiri di hadapan wanita itu, "Line, tolongin aku! Aku lupa ingtan, dan aku lupa siapa kamu. Kasih tahu aku kali ini saja siapa kamu di kehidupan aku sebelumnya Line!...." Suara Abi mulai tidak terkontrol karena emosinya yang sudah tidak dapat tertahan lagi.
"Plis, Line!"
"Maaf pak, saya harus pergi!"
"Line!!!"
Abi hanya bisa mematungkan tubuhnya ketika melihat punggung Raline yang mulai pergi menjauh. Namun diotaknya kini terbesit sebuah keyakinan bahwa ada rahasia dibalik semua ini.
Dibalik semua kebungkaman orangtuanya, Faiz, teman-temannya dan bahkan Raline sendiri.
Hanya satu yang bisa dilakukan Abi sekarang, yaitu mencari tahu sendiri akan rahasia besar ini.
****
Keesokan harinya, selembar surat pengunduran diri Raline telah mendarat di atas meja Abi dengan sempurna. Abi dengan perlahan membaca kertas itu sampai habis yang intinya menyatakan bahwa benar karyawannya yang bernama Raline Andini memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaannya.
Abi tiba-tiba tersergap sebuah rasa bersalah karena ini semua, di satu sisi benar ia senang karena dengan surat pengunduran diri ini istrinya akan kembali padanya namun di sisi yang lain Abi juga merasa bersalah membiarkan Raline pergi menjauh darinya.
Abi sadar bahwa perasaan itu salah, namun entah mengapa ada satu sisi di hati Abi yang seolah tidak rela Raline menjauh darinya.
Abi memang lelaki yang ingin istrinya kembali padanya namun di lain tempat Abi juga menginginkan Raline berada terus di dekatnya.
Abi tahu dia kali ini telah memulai api baru dengan menyadari bahwa ada sepercik perasaan kepada Raline yang tumbuh di hatinya dengan begitu cepat.
Bahkan semalam dengan kurang ajarnya, Abi memimpikan Raline hadir dalam mimpinya itu, namun yang berbeda dari mimpi-mimpi sebelumnya adalah wajah Raline tampak begitu jelas dihadapannya.
Beberapa kali Abi juga meminta maaf kepada istrinya dalam hatinya karena dirinya yang mulai merasa jatuh hati dengan wanita lain selain istrinya.
'Maafkan mas Nanda, mas sepertinya telah mengundang wanita lain dalam hati mas dan entah mengapa seolah dia telah lama berada disana dan kini telah kembali lagi'
****
**wah, wah, Abi sepertinya udah mulai jatuh cinta sama Raline lagi.
Apakah dia mulai sembuh dari amnesianya**?