MY IMAM

MY IMAM
Episode 23 Weekend



"Jogging yuk, dek!" Ajak Abi spontan saat dirinya dan sang istri tengah memakan beberapa potong roti.


Ananda memicingkan matanya tajam pada sang suami yang mengajaknya tadi untuk jogging.


"Mas engga salah?" Tanya Ananda heran.


Abi binggung, "Kenapa memangnya?" Tanya Abi balik dengan nada heran.


"Mas, aku lagi hamil! Masak ngajak ibu hamil jogging?"


Abi otomatis memukul keningnya kuat, dia lupa bahwa sang istri tengah mengandung.


"Lupa, hehe." Tawa Abi konyol.


Ananda bereaksi dengan memutarkan kedua matanya malas.


"Yaudah kalau gitu kita jalan santai aja, kan engga papa. Mana tahu nanti jumpa penjual makanan yang kamu suka, kita bisa beli. Gimana?" Usul Abi atau lebih pantas di sebut merayu.


"Yaudah deh." Kata Ananda ikut setuju.


Abi tersenyum lalu mulai mendekati Ananda, "Sini tangan kamu!" Kata Abi sambil menjulurkan tangannya juga.


Ananda tanpa membantah ikut memberikan tangannya yang ternyata digunakan Abi untuk ia gandeng, "Kita kemana-mana harus gandengan kayak gini. oke!"


"Hmmm."


Abi dengan senyum yang terukir lalu mulai berjalan berkeliling kompleks bersama Ananda dengan tidak lupa tangan mereka yang saling bertautan.


Banyak warga yang menyempatkan untuk menikmati sinar matahari pagi di luar rumah sekarang. Ada yang melakukan stretching, olahraga kecil lain ataupun hanya menyiramkan tanaman hias depan rumah, pokoknya semua beraktivitas di luar rumah. Maklum pemilik rumah di sekitaran rumah Abi dan Ananda ini banyak yang berprofesi sebagai pekerja kantoran yang hanya bisa menikmati waktu luang ketika hari libur saja. Jadi maklum saja jika hari libur seperti ini digunakan mereka untuk melakukan apapun yang mereka sukai untuk menghilangkan kepenatan dari rutinitas di kantor mereka.


Ananda melihat ke kanan dan kiri untuk melihat sesuatu yanh menurutnya menarik untuk dilihat. Hingga bola matanya terhenti pada seorang penjual bubur ayam gerobakan di ujung jalan. Terlihat beberapa orang yang mengantri untuk membeli. "Mas, aku mau bubur ayam itu!" Tunjuk Ananda pada Abi.


Abi mengangguk, "Let's go!" Ucap Abi semangat lalu menarik lengan Ananda.


Ananda terkekeh sebentar melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil itu. Bibirnya pun lalu melengkungkan senyum manis yang sebelumnya tidak pernah ia tampakan kepada Abi. Ananda kini merasa ada getaran lain setiap melihat lelaki yang kini menggenggam tangannya tersebut. Terkadang wajahnya akan ikut melengkungkan senyum setiap melihat sang suami yang juga sedang tersenyum. Terkadang juga ia merasa bahwa belakangan ini lelakinya itu terlihat lebih tampan dari sebelumnya.


Ananda tidak tahu apakah dia sudah mulai jatuh cinta kepada suaminya itu karena seiring berjalannya waktu. Entahlah, dia kini hanya merasa bahwa lukanya akibat harus kehilangan Zian sedikit demi sedikit telah tertutup karena hadirnya Abi dihidupnya.


"Kamu duduk aja, biar mas yang pesanin." Kata Abi saat mereka telah sampai di tujuan menyebabkan Ananda membuyarkan lamunannya.


"O-uh iya mas." Ucap Ananda tergagap lalu melangkah menuju kursi panjang yang telah di sediakan oleh si penjual bubur ayam.


Ananda memperhatikan lagi punggung sang suami yang sibuk memesan bubur ayam dan memilih menunggunya.


Tidak lama, lelaki itu pun telah berjalan mendekati Ananda dengan 2 mangkuk berisi bubur ayam di genggamannya.


"Nih bubur ayam special untuk orang yang paling cantik sedunia~" Gombal Abi seraya menaruh mangkuk dihadapan Ananda hati-hati.


Ananda terkekeh kecil mendengar gombalan suaminya itu, "Specialnya di taruh apanih?" Balasnya dengan nada bercanda.


"Di taruh perasaan cinta yang paling dalam mau engga?!" Ucap Abi kencang membuat Ananda malu karena di lihat oleh sekitar iapun memukul lengan Abi kuat membuat si empu tangan mengaduh kesakitan.


"Ishh malu tau! kenceng-kenceng ngomongnya," Omel Ananda.


Abi nyengir tanpa merasa berdosa, "Iya maaf, habisnya memancing sih kamu tuh," Alibinya.


Ananda mengerucutkan bibirnya membuat Abi merasa gemas dan menarik pipi sang istri, "Jangan imut-imut mas engga kuat." Katanya.


"Ishhh udah ah, malu tuh diliatin banyak orang." Omel Ananda lagi membuat Abi menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata benar mereka telah menjadi pusat perhatian pembeli lain.


********


Ananda terlihat tengah terduduk santai di atas sofa ditemani oleh teh mint. Matanya masih fokus menonton layar televisi yang sekarang tengah menampilkan sebuah ftv percintaan anak muda.


Ananda semasa gadisnya adalah pengagum berat dari kumpulan ftv yang setiap harinya di putar oleh salah satu stasiun televisi lokal Indonesia. Bahkan ia memiliki beberapa artis idola dari sana. Tapi sekarang dia merasa bahwa percintaan yang di gambarkan di dalam ftv-ftv itu sama sekali tidak menjabarkan akan kisah cinta di dalam kehidupan manusia sebenarnya. Kisah cinta di kehidupan sebenarnya itu begitu rumit dan kompleks, tidaklah sama dan semudah seperti di dalam ftv yang ia tonton saat ini, berkisah tentang seorang gadis yang bertemu lelaki tampan kaya raya dan akhirnya menjadi jodoh.


Ananda membayangkan suatu saat ada sebuah film yang nantinya akan bercerita tentang perjalanan cintanya.


Mulai dari memutuskan pujaan hati dan dijodohkan dengan seorang laki-laki baik hati namun mengalami amnesia. Bisakah?.


Ananda terkekeh.


Namun kekehannya terhenti saat Abi mendekatinya dan duduk di sofa yang sama. Ananda tidak malu lagi untuk mendekat dan memeluk lelaki itu mencoba merasakan sebuah kehangatan darinya.


Abi heran karena Ananda yang tiba-tiba memeluknya, "Kenapa?" Tanyanya heran.


Ananda menggeleng pelan tanpa berniat menjawab pertanyaan Abi di dalam dekapan lelaki itu.


Abi tidak berniat bertanya lagi, ia malah mulai membelai rambut wanita itu halus. Mereka sama-sama masuk ke dalam lamunan mereka sendiri-sendiri.


Abi teringat akan janjinya semalam pada sang istri yang mengajak wanita itu untuk jalan-jalan, "Jadi kita jalan-jalan hari ini?" Tanyanya.


Ananda mengangkat kepalanya, dia juga hampir lupa dengan janji suaminya itu.


"Ouh iya! hampir lupa, tapi nanti sore aja deh. Masih panas banget di luar."


Abi mengangguk setuju.


"Memangnya mau kemana sih?"


"Terserah mas,"


"Kok terserah?"


"Ya soalnya aku engga tahu."


Ananda pun lalu menjatuhkan kepalanya lagi ke atas dada bidang suaminya lagi. "Kita ngunjungin rumah mas aja deh. Aku kangen Ibu mas."


"Oke!"


Lalu sebuah suara nada dering handphone mengalun membuat keduanya mencari asal suara. Ternyata suara itu datang dari handphone Abi yang terletak di atas meja di depan mereka. Abi segera meraihnya dan melihat nama sang pemanggil.


"Faiz?" Ucap Abi heran.


"Ada apa mas?" Tanya Ananda ikut penasaran


"Engga tahu, bentar ya mas angkat dulu." Ananda membalas dengan anggukan kepala dan melepas pelukannya pada tubuh Abi.


Abi mengangkat panggilan itu dengan berdiri dan menjauh, Setelah 5 menit lelaki itu kembali duduk di samping Ananda dengan raut wajah yang menyesal.


"Kenapa mas?" Tanya Ananda.


Abi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, "Maaf dek, kayaknya kerumah ibu kita tunda dulu besok ya. Mas kelupaan kalau hari ini adalah jadwal pemotretan." Kata Abi penuh sesal.


Ananda ikut memasang raut wajah kecewa setelah mendengar itu tapi apa boleh buat ini adalah masalah pekerjaan suaminya yang semustinya ia dukung.


"Yaudah deh mas, engga papa. Kan kita bisa pergi besok." Ucapnya.


Abi segera mengecup kening istrinya itu dan segera bangkit, "Makasih ya sayang, udah ngerti. Mas janji besok kita akan kemanapun yang kamu mau, ok!"


Ananda mengangguk lagi-lagi.


Dan Abi pun mulai pergi untuk mengawasi sesi pemotretan yang telah di jadwalkan sebelumnya.


*****


Mohon **Dukungannya ya teman-teman untuk cerita ini. dengan cara like ataupun komen. karena satu komen dan like itu sangat berarti bagi saya


ok, Salam.**