MY IMAM

MY IMAM
Episode 33



Faiz masih dalam keadaan mengikuti sang kakak yang kembali dari apartment salah satu temannya tadi. Ya, awalnya Faiz berada di sana untuk melihat salah satu temannya yang melakukan pemotretan yang di lakukan di atap gedung tersebut.


Namun saat hendak kembali pulang Faiz malah menemukan kakaknya baru saja keluar dari salah satu unit di gedung apartment itu. Bahkan kakaknya itu keluar dengan seorang wanita yang mengikuti dari arah belakangnya. Faiz yang saat itu hendak pulang otomatis membulatkan matanya terkejut karena sang kakak yang keluar dari salah satu unit dengan wanita yang tidak pernah Faiz lihat sebelumnya.


Mobil Faiz kini mulai masuk ke dalam pekarangan rumahnya namun bukan hanya dirinya saja yang masuk tetapi sebuah motor besar yang di kendarai oleh Faiz juga ikut masuk mengikuti Abi.


"Ada apa Iz?" Tanya Abi setelah mengetahui bahwa ada Faiz di belakang mobilnya yang kini dia telah membuka helm dan mulai turun dari mobil.


"Dari mana Lo tadi?" Faiz tidak menjawab pertanyaan Abi barusan namun malah memberi sebuah pertanyaan pada sang kakak.


"Dari luar. Lo belum jawab pertanyaan gue, Iz." Jawab Abi melihat kepada adik kandungnya itu.


"Dari luar atau dari apartment perempuan lain lo bang?" Sindir Faiz. Abi otomatis keheranan atas sindiran Faiz barusan.


"Darimana Lo tahu?" Abi terkejut.


"Kenapa? terkejut Lo, Gue tahu lo selingkuh dari istri Lo itu?" Abi memilih diam membiarkan adiknya itu terus mencecarnya dengan tuduhan-tuduhan yang sama sekali tidak membuat Abi marah karena memang itu tidak benar adanya.


"Udah kelar Lo ngomongnya?" Ucap Abi setelah Faiz berhenti mencecarnya.


Faiz diam.


"Masuk ke dalam biar gue ceritain," Perintah Abi lalu masuk ke dalam rumahnya dan diikuti oleh Faiz yang kini memilih diam.


"Sekarang Lo cari ke seisi rumah ini ada Istri gue atau engga?" Tutur Abi saat mereka berdua telah masuk ke dalam rumahnya.


"Ngapain Lo nyuruh gue. Engga ada kerja apa. Memangnya istri Lo itu kemana?"


Abi mendudukan dirinya ke sofa dan mulai melepas ke dua pasang sepatunya sementara Faiz lebih memilih berdiri dengan tatapan bertanya pada sang kakak.


"Ananda pergi dari rumah, dan dia nginap di rumah cewek itu malam ini. Dan cewek itu adalah temennya. Makanya gue tadi kesana untuk jemput dia tapi dianya malah engga mau pulang sama gue." Abi memijat keningnya untuk meredakan pusing akibat pikirannya yang terus melayang pada istrinya itu.


"Kalian berantem bang?"


"Cuman salah paham aja, tadi Nanda ngeliat gue berduaan sama Raline di ruangan kerja. Dia mungkin berpikir kalau gue selingkuh sama Raline padahal Raline cuman mau bershini tumpahan kopi di baju gue," Tutur Abi mengklarifikasi segala yang terjadi antara dirinya dan istrinya.


Faiz diam-diam tersenyum akan hal itu, sedetik kemudian dia malah memutuskan untuk pamit pulang, "Oh gitu, Yaudah deh gue pulang dulu."


"Hmm, hati-hati." Kata Abi sambil melihat adiknya yang sudah berjalan keluar dari rumahnya.


Abi pun memutuskan untuk mengunci pintu rumahnya dan berjalan menuju kamarnya untuk tertidur.


Saat memasuki kamar tidur dimana biasanya saat ia pulang selarut ini akan di sambut oleh senyuman serta sapaan santun dari Ananda di atas tempat tidur mereka. Ataupun akan ia temui wanita itu dalam keadaan terduduk dengan punggung wanita itu bersandar kepada kepala tempat tidur dengan sebuah novel romansa di tangan wanita itu. Namun malam ini untuk pertama kalinya dia sendiri di kamar ini.


Abi merasa malamnya ini tidak lengkap tanpa tubuh wanitanya berada di sampingnya. Dengan itu Abi meraih sebuah handuk yang tergantung dan mulai masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah yang malas.


Bahkan untuk mengguyur tubuhnya dengan air pun Abi merasa tidak semangat.


Setelah menyelesaikan mandi dan makan malamnya sendiri dengan sebuah mie instan Abi pun kembali ke kamarnya dan beranjak tidur.


Tetapi ternyata memejamkan mata dikala pikiran kita yang melayang-melayang pada seseorang yang kita cinta merupakan hal yang sulit untuk dilakukan, apalagi kini orang yang kita cintai itu Tenga memberikan jarak kepada kita dan membangun tembok tinggi sehingga sulit untuk kita menembusnya dan meminta maaf untuk kesalahan yang kita perbuat.


Abi memutuskan mengambil satu dari beberapa tumpukan novel Ananda yang terletak di atas meja riasnya. Dia memilih untuk membaca novel guna mengundang kantuk agar ia bisa segera tertidur.


Hingga beberapa lembar membaca akhirnya rasa kantuk mulai hinggap, dan membuat mata Abi mulai terbuka dan tertutup.


Nada dering handphone Abi berbunyi ketika matanya yang mulai tersayu-sayu karena mengantuk, ia lalu meraih benda pipih itu dan melihat siapa yang meneleponnya disana.


"Vanessa?" Monolog Abi pada dirinya sendiri. Untuk apa malam-malam begini Vanessa menelfonnya, heran Abi. Dengan rasa penasaran pun Abi mengangkat telfon itu dengan cepat.


"Halo Mas Abi,"


"Iya Ca, kenapa?"


"Hmmm, Mas Abi bisa tolongin beliin soto ayam engga?"


Abi heran setengah mati karena Ecca yang tiba-tiba memintanya membeli soto ayam di Tenga malam begini, "Lho! kok..."


"Ini keinginan Ananda mas. Kayaknya dia ngidam gitu deh." Potong Ecca segera karena tahu Abi yang seolah-olah heran karena ucapannya


"Oke saya segera kesana, kamu jagain Nanda ya,"


"I-iya ya mas Abi."


Bip.


Abi terkekeh saat mengingat bahwa Ananda menginginkan sebuah soto ayam padahal sebelumnya wanita itu mengakui tidak menyukainya tapi mungkin karena efek hamil makanan favorit wanita itupun terkadang bisa berubah.


Setelah membeli dua porsi soto ayam untuk Ananda dan juga yang satunya akan ia berikan untuk Vanesa. Abi pun segera meluncur kembali ke kediamannya Vanessa dengan kecepatan yang cukup kencang, ia takut Ananda keburu tidak menginginkan sotonya lagi.


***


"Kapan ya Nand gue bisa dapetin suami kayak suami Lo itu, perhatian, penyayang terua rela gitu ngelakuin apa aja. Padahal kan engga mudah nyari soto ayam malam-malam. SUMPAH SUAMI IDAMAN SIH," Ucap semangat Ecca membuat Ananda yang menatap layar televisi mendengus.


"Iya tapi tukang selingkuh percuma," Ananda masih kesal dengan kejadian tadi sore itu.


"Ya ampun Nand, itu kan belum tentu bener. Mungkin aja Lo salah pahaam sama suami Lo itu."


"Gimana mau salah paham, orang memang beneran dianya seling~.."


TOK...TOK....


Ketukan pintu memotong ucapan Ananda, Ecca pun segera bangkit dan mulai menyambut Abi yang ternyata pelaku dari ketukan pintu itu.


"Masuk dulu mas Abi," Sambut Ecca sopan.


Abi mengangguk dan langsung tersadar dengan seorang wanita yang duduk di atas sofa sambi membelakanginya. Abi pun langsung memutuskan untuk duduk di samping wanita itu.


"Nih pesenan kamu," Ucap Abi pertama kali sambil memberikan dua porsi soto ayam pada Ananda.


"Kasihin Ecca aja. Ca! tolong ambilin ini," Ananda berucap tanpa mau sekalipun menatap wajah suaminya yang menatapnya dengan tatapan penyesalan.


Ecca segera mengambil bungkusan itu dan berlalu ke arah dapur meninggalkan dua sejoli itu berada di ruangan televisi.


Hening dan canggung tiba-tiba menyelimuti keduanya, karena itu Abi pun segera mengungkapkan isi hatinya demi melunakkan hati istrinya yang tengah marah ini.


"Maafin aku ya,"


Ananda bergeming dan masih menatap setia layar kaca di depannya.


"Aku bisa jelasin semuanya, kamu cuman salah paham dek," Tutur Abi lembut.


Ananda meraih handphonenya dan mulai memainkan benda itu seolah mengacuhkan kehadiran Abi disampingnya dan menganggap bahwa laki-laki itu tidak ada.


"Tadi itu cuman insiden dek, Raline engga sengaja numpahin kopi ke baju mas, dia juga ngerasa bersalah dan akhirnya dia refleks untuk bersihin kemeja mas itu. Mungkin dilihat dari sudut pandang kamu ya kita seolah tengah berciuman namun itu semua karena Raline yang refleks untuk bersihin noda kopi di baju mas Dek."


Masih hening.


Abi melanjutkan, "Mas bisa buktiin kalau kamu mau, Mas bisa tunjukin noda bekas tumpahan kopinya di baju mas yang masih belum mas bersihin."


"Engga perlu," Ucap Ananda seketika. Meski terkesan dingin namun Abi cukup senang akhirnya dia bisa mendengar suara Ananda lagi, itu artinya sedikit demi sedikit hati wanitanya mulai melunak untuk memaafkan Abi.


"Jadi kamu mau maafin mas?" Tanya Abi dengan penuh harap.


Ananda diam namun tidak lama dia mengangguk, "Dengan satu syarat," Ucap Ananda.


Abi mengekerutkan kening namun dia akhirnya berusaha menormalkan lagi mimik mukanya yang terkejut itu karena Ananda memberikan syarat padanya untuk memaafkan Abi.


"Apa syaratnya?" Abi merendahkan suaranya seolah menyerah dengan semua kemauan Ananda.


"Mas yakin bisa turuti?" Tanya Ananda.


Abi mengangguk dengan pelan.


Ananda tersenyum remeh, lalu, "Pecat dia," Ucap mantap Ananda.


"Siapa?" Abi terbodoh seketika karena istrinya yang meminta seseorang untuk di pecat.


"RALINE,"


"APA! ENGGA. ENGGA BISA."


"Lho kenapa engga? bukannya mas mau aku maafin, dan kalau mas mau aku maafin maka mas harus pecat dia segera." Ananda berdiri dan hendak kembali ke dalam kamar.


"Mas boleh pulang, dan pikirin itu semua. Aku akan pulang sampai mas bisa pecat dia. Dan kalau sampai dia belum di pecat juga maka aku akan pergi dari hidup mas, SELAMANYA." Ananda menekan kata terakhirnya yang makin membuat kepala Abi semakin berdenyut nyeri.


Abi dengan langkah gontai memutuskan untuk pulang setelah istrinya dengan tidak langsung telah mengusirnya.


TBC.