
Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar disini
Tersudut menunggu mati
Satu bait lirik lagu berjudul 'berhenti berharap' karya band Sheila on 7 mulai mengalun merdu di telinga Raline melalui sambungan earphonenya. Lagu itu favoritnya bercerita tentang seseorang yang berhenti berharap akan Cinta yang selalu menyakitinya, entah mengapa lagu ini terasa sangat mewakili perasaanya saat ini. perasaannya yang mungkin saja harus dimusnahkan karena memang tidak pantas untuk dimiliki.
Begitu susahnya kah melupakan seorang Abimanyu dalam hidupnya sementara Raline yakin bahwa Abi sendiri tidak pernah mengingatnya lagi.
Tidak pernah ada yang mengatakan putus diantara keduanya namun mengapa mereka harus berpisah hanya karena tidak ada persetujuan dari keluarga untuk mereka bersama?.
Ya, Raline sadar keluarga Abi memang tidak menyukai dirinya. atau lebih tepatnya apa yang Raline yakini dan tertancap dalam wujud sebuah keyakinan.
Lagu itu terus mengalun di telinga Raline
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi
Sudut gelap hati ini
Ingatannya membawanya kembali pada kali pertama Raline bertemu dengan pujaan hatinya.
*Akhir September 2011 - Jln.Malioboro - Jogja.
Raline berjalan santai di sekitar malioboro memandangi setiap interaksi yang terjadi di sana.
Pertama, ada pasangan muda yang terlihat begitu bahagia mengajarkan anak mereka untuk berjalan pertama kalinya. Lalu seorang suami yang kepalanya telah di penuhi uban tengah mendorong kursi roda istrinya yang lumpuh, keduanya berceloteh bahagia sekali. menceritakan masa perjalanan cinta mereka hingga sampai menua bersama seperti itu. dan masih banyak lagi interaksi hangat yang Raline rasa ada disana.
Seorang anak kecil berjalan mendekat pada Raline dengan sebuah nampan berisi puluhan bungkus tissue kering maupun basah. hendak menawarkan Raline untuk membelinya.
"Tissue-nya kakak cantik!" Kata bocah tadi yang ditaksir Raline mungkin berumur sekitar 7-8 tahun.
Raline tersenyum terus menggeleng. Dia tidak membutuhkan tissue saat ini. "Engga dek makasih ya." Ucap Raline tersenyum lalu melanjutkan jalannya yang sempat terhenti.
Namun bocah tadi terus saja mengikuti Raline dengan terus merayunya agar membeli, "Beli dong kak dari tadi belum ada yang beli daganganku." Lirih bocah itu.
Pertahanan Raline runtuh, karena merasa iba pada bocah itu dia pun tersenyum lalu berkata pada bocah tadi, "Yaudah, Berapa harganya dek?"
Otomatis si bocah langsung sumringah mendengar kata Raline. dia pun segera menarik tangan Raline untuk duduk di salah satu bangku di malioboro, "Yang tissue biasa 1000 yang basah 3000 kak, kakak mau yang mana?."
"Yang biasa aja 5 bungkus ya." si bocah segera mengambil 5 bungkus tissue dan menaruhnya kedalam kantung plastik dan memberikannya pada Raline.
Raline kemudian memberikan bocah tadi uang dengan nominal 100 ribu. Bocah itupun menggaruk kepalanya, "Engga ada kembaliannya kak soalnya dari tadi belum ada yang beli nih,"
"Engga kok itu memang sengaja kakak kasih untuk adek."
"Serius kak?!"
"Iya dong, udah pulang sana udah mau maghrib nih,"
Bocah itu lantas berdiri dan memeluk Raline erat. "Makasih ya kak, kebetulan aku lagi butuh duit untuk beli obat untuk ibu yang sakit."
"Ibu kamu sakit?"
Bocah itu mengangguk
"Sakit apa?"
"Cuma demam katanya tapi ibu engga bisa bangun, aku sedih kak makanya hari ini aku jualan sampai sore begini untuk cari uang tambahan supaya bisa beli obat untuk ibu,"
"Kasian sekali, Ayah kamu dimana?"
"Ayah udah engga ada kak." Hati Raline serasa dicubit seketika saat mendengar pernyataan bocah itu yang terdengar sangat pilu. Malang sekali nasibnya di saat di luaran sana banyak bocah-bocah yang seumurannya tengah bermain bersama teman sebaya namun bocah ini justru harus banting tulang untuk mendapatkan uang supaya kebutuhan keluarganya terpenuhi.
"Yaudah kamu pulang sekarang ya udah mau malem. Ini kakak tambahin uangnya supaya kamu bisa beli obat ibu kamu ya..."
"Iya." Jawab Raline lalu mengusap rambut bocah itu sayang.
"Makasih banyak ya kak."
Bocah itu pun berbalik dan berlari sekencang-kencangnya untuk pulang kerumah yang disana mungkin ibunya telah menunggu.
"Jangan lupa belajar ya!" Teriak Raline.
Raline senang saat bisa membantu orang lain meski dia tidak mengenal orang yang dibantunya itu sekalipun.
Bukankah sesama manusia harusnya memang seperti itu pikir Raline.
"Kamu yakin kalau anak yang kamu bantu itu beneran pantas untuk di tolong?" Sebuah suara lelaki menginterupsi Raline membuatnya menoleh dan mendapati ada seorang lelaki yang kini duduk disampingnya.
'Sejak kapan lelaki ini berada disini?'
"Kenalin, Nama aku Abi." Lelaki itu menjulurkan tangannya berusaha untuk berkenalan dengan Raline, namun Raline bergeming dia tidak pernah melihat lelaki ini sebelumnya. Siapa tahu saja dia ingin berniat jahat kepada Raline!.
Raline lalu berdiri dan meninggalkan lelaki yang tadi hendak mengajaknya berkenalan.
Keesokan harinya.
"Masih tidak mau berkenalan?" Ucap lelaki itu lagi membuat Raline memutar matanya malas.
"Maaf anda siapa ya?! jangan sampai saya teriak biar semua orang gebukin anda!" Ancam Raline namun malah membuat Abi mulai terkekeh karena kepolosan Raline.
"Makanya kenalan dulu biar kamu tahu aku itu siapa."
Raline menyerah dan menyuruh pria dihadapannya itu untuk duduk di sampingnya.
"Jadi?!" Kata Raline yang malas bertele-tele
"Aku teman satu fakultas kamu. kamu engga pernah liat aku sebelumnya?" Abi berharap kalau Raline dapat mengingatnya namun Raline malah membalas pertanyaan Abi dengan gelengan kepala.
"Aku engga pernah lihat." Ucap Raline enteng membuat Abi terlihat kecewa.
Berminggu-minggu mengikuti Raline untuk bisa sekedar berkenalan dengannya namun yang di dapat malah sebuah kenyataan pahit bahwa Raline sama sekali tidak pernah melihat Abi sebelumnya. Padahal Abi sering sekali mencoba menarik perhatian Raline baik dengan sekedar berjalan di depan Raline di koridor kampus ataupun dengan berpura-pura membaca buku di perpustakaan dimana biasanya Raline menghabiskan waktu makan siang bersama teman-temannya.
"Oke mungkin saatnya kita berkenalan secara resmi ya." Kata Abi mencoba mengulurkan lagi tangannya seperti yang dilakukannya kemarin. "Nama aku Abimanyu Respati biasa dipanggil Abi, kuliah jurusan ekonomi dan satu fakultas sama kamu." Jelas panjang Abi dengan satu kali tarikan nafas.
Raline terkekeh melihat ekspresi muka Abi yang lucu saat berkenalan dengannya. Namun dia kembali serius untuk membalas uluran tangan Abi di depannya, "Raline. Raline Andini, Anak jurusan akunt...."
"...ansi." Sambung Abi cepat saat Raline belum sempat melengkapkan kata-katanya.
"kamu kok tau?!"
Abi tersenyum tengil tapi bangga, "Tahu dong!"
"Kamu sering ngintilin aku ya?! Hayo ngaku!" Desak Raline.
"Eh engga kok, aku tahu kan memang karena kita satu fakultas dan aku sering liat kamu masuk ke malas akuntansi."
"Benerr?!"
"Suerrrrr dah." Abi membentukan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V tanda bersumpah.
"Yauda deh."
"Kalau udah kenapa berarti boleh jadi teman dong?" Tanya Abi menggoda.
"Belum tentu." Sanggah Raline lalu beranjak pergi meninggalkan Abi.
"Hey tunggu dulu, aku belum selesai ngomong!"
"Engga denger!!!" Kata Raline dari arah kejauhan.
Namun yang tidak Raline ketahui adalah bahwa kini Abi tengah tersenyum tidak jelas karena akhirnya bisa berkenalan secara resmi dengan pujaan hatinya,
bernama Raline Andini.