
Raline terkaget saat menyaksikan lelaki yang dicintainya itu di bawah kungkungan seorang fotografer yang tadi mengambil gambarnya. Fotografer itu terus-menerus melayangkan pukulan ke rahang Abi dan pelipisnya.
Raline awalnya hendak pulang dari studio pemotretan itu karena hari yang semakin gelap. Namun dirinya dibuat terkejut dengan sebuah pekikan dari arah ruang pemotretan. Bahkan bukan hanya Raline yang mendengar tapi seluruh orang yang disana juga terkejut dengan pekikan itu.
Hingga ada yang mengatakan bahwa ada yang berkelahi di ruang tempat pekikan itu bermuasal.
Raline awalnya merasa bingung siapa yang berkelahi di saat yang seperti ini, namun saat kakinya melangkah ke dalam ruangan yang dimaksud, betapa terkejutnya Raline saat melihat bahwa Abi lah yang tengah berkelahi dengan seorang fotografer yang sebelumnya memotret dirinya itu.
Raline segera maju berniat untuk memisahkan namun lengannya di tahan oleh orang yang Raline terka sebagai asisten si fotografer tadi. "Biar yang cowo saja mbak," Kata orang itu pada Raline hingga membuatnya mengangguk.
Lelaki itu bersama tiga orang laki-laki yang lain mencoba melerai pertikaian antara Zian dan Abi.
Tampak ke empat laki itu bahkan kesulitan melerai keduanya yang sama-sama tidak mau mengalah, Beberapa kali bahkan Dion yang mencoba memisahkan mereka ikut terkena imbasnya pukulan-pukulan yang dilayangkan oleh Abi maupun Zian.
Tepat 3 menit kemudian Dion akhirnya berhasil melerai mereka dengan mengambil air seember penuh untuk di siramkan ke badan mereka. Hingga baik Abi maupun Zian kini telah basah kuyup.
"STOP! KALIAN BERDUA!" Pekik Dion membuat Abi maupun Zian berhenti dari aksi saling memukul.
"Ini ada apa sih kenapa kalian berantem hah?!" Tanya Dion sambil menunjuk ke arah keduanya. Bahkan Dion sudah tidak memperdulikan lagi status klien dari seorang Abimanyu. Yang jelas kini kedua orang itu seperti dua orang bocah yang berkelahi tanpa sebab yang jelas pikir Dion.
"Lo bisa nanya sama temen Lo ini kenapa kita bisa berantem," Jawab Abi sambil menunjuk wajah Zian membuat lelaki yang ditunjuk itu berang lalu ingin menyerang Abi lagi. Beruntung lengannya masih di tahan oleh seorang lelaki yang tadi juga ikut memisahkan.
"Lo yang duluan cari masalah sama gue !" Tunjuk balas Zian.
Setelah itupun keduanya masih terlibat percecokan mulut yang akhirnya membuat Dion pasrah dan menarik lengan sahabatnya untuk pergi.
Raline segera mendekati Abi dengan wajah khawatir yang kentara, "Pak tidak apa-apa?" Tanyanya.
"Akhhh- shhhh," Ringik otomatis Abi saat dirinya menyentuh sudut bibirnya yang ternyata sudah lecet dan berdarah "Tidak apa-apa cuman luka sedikit saja tidak perlu dikhawatirkan Line."
"Kalau begitu mari saya obati sebentar pak," Tawar Raline yang lebih terdengar seperti kalimat yang memaksa.
Raline beranjak sebentar untuk meminta kotak p3k pada pemilik studio dan kembali lalu menarik lengan Abi untuk mengikutinya. Raline membawa Abi ke sebuah sofa yang berada di ruangan itu juga.
Dengan lihainya jemari lentik milik Raline mengobati setiap luka Abi yang terlihat begitu parah, "Bapak kenapa berantem sih?" Tanya Raline sambil terus mengkompres luka di sudut bibir Abi.
"Arghhhh, sakit-sakit!" Teriak Abi saat merasakan perih akibat Raline yang terlalu kuat menekan sudut bibirnya.
"Makanya pak tenang dulu, jangan gerak biar saya lanjutkan. Ini bisa infeksi kalau engga segera di obati," Ucap Raline.
Abi terdiam, matanya tidak sengaja bertemu dengan manik mata indah milik Raline, "Line!"
"Uh! iya pak," Sahut Raline atas panggilan Abi.
"Ck, kan sudah saya bilang kamu panggil Mas aja kalau di luar jam kantor," Keluh Abi membuat Raline tersenyum tidak enak.
Abi tersenyum lalu kembali memandang wajah Raline dengan seksama, tidak tahu mengapa tiba-tiba ada yang berdesir dalam hatinya. Abi seperti menemukan sesuatu dari dalam dirinya yang telah lama hilang.
"Line!" Panggil Abi lagi.
Raline menyahut seadanya seraya terus mengobati wajah bosnya itu.
"Um, apakah sebelum ini kita pernah bertemu?" Tanya Abi yang membuat Raline kaget akan pertanyaan itu.
"Um, ya. Pastinya mas kita kan memang satu kantor. Mas kan dulu juga pernah mengantarkan saya pulang." Jawab bohong Raline terlihat dari matanya.
"Maksud saya bukan itu, tetapi sebelum kamu bekerja dengan saya?"
Raline terkagok tidak tahu harus menjawab apa, "Mungkin pernah mas tapi kita mungkin sama-sama lupa karena sebelumnya tidak saling mengenal," Jawab Raline mencoba setenang mungkin padahal hatinya berdegup begitu kencang.
"Apa kamu adalah seseorang dimasa lalu saya?"
DEGH.
Jantung Raline serasa berhenti saat itu juga. Kalimat itu terucap dari bibir Abi dengan begitu mulusnya.
"Mas kok ngomongnya begitu? Kalu memang saya orang di masa lalu mas kenapa mas tidak ingat?" Tanya Raline.
Abi menarik rambutnya kebelakang, "Saya tahu bahwa saya mengalami amnesia, tetapi keluarga saya tidak pernah memberitahu saya kenapa saya bisa mengalami amnesia. Mereka menutupinya dari saya." Jawab Abi dengan nada getir.
Raline tercengang dengan penuturan Abi, meski dia tahu yang sebenarnya kalau memang keluarga Abi itu sengaja menutupi perihal penyebab mengapa Abi bisa mengalami amnesia. Tapi mendengarnya langsung dari bibir lelaki yang dicintainya ini, sungguh begitu menyesakkan. Raline mencoba untuk tidak menitikkan air matanya. Dia takut membuat lelaki ini terus bertanya pertanyaan yang dapat membuatnya nanti mengungkap segala rahasia besar ini.
"Maka dari itu. Saya tanya apakah kamu orang yang pernah ada di masa lalu saya?" Tanya Abi lagi.
"Bukan." Tegas Raline.
Abi merasa bahwa wanita ini tengah berbohong, "Mata kamu tidak bisa berbohong Line?"
"Saya mohon jujurlah, saya muak dengan kebisuan keluarga saya. Saya ingin mendengar kenapa saya bisa mengalami ini semua?"
"Terus kenapa mas bisa meyakini bahwa saya adalah orang yang ada di masa lalu mas?" Tanya Raline dengan emosi yang sudah tidak dapat ia tahan lagi.
"Karena setiap melihat wajah kamu dan mendengar suara kamu. Hati saya seperti menemukan sesuatu yang dia cari, sesuatu yang telah lama hilang. Dan saya yakin bahwa kamu memang salah satu orang yang ada di masa lalu saya." Ucap Abi lalu menggenggam jemari Raline.
Raline menghempaskan tangan milik Abi secara spontan, "Mas sudah punya istri, tidak pantas memikirkan wanita lain," Raline meraih tasnya, "Maaf saya harus pulang mas." Ucap Raline lalu pergi meninggalkan Abi bersama rasa penasarannya lagi.
'Aku berjanji aku akan mencari tahu siapa kamu Line.'
*****