MY IMAM

MY IMAM
Episode 16 Cerita Faiz



Seminggu yang lalu.....


Faiz melotot tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya ini, bagaimana bisa orang yang pernah hadir dalam hidupnya beberapa tahun lalu dan menghilang entah kemana. Kemudian tiba-tiba bisa kembali dan berdiri dengan anggunnya di depannya kini.


"Kak Raline?," Panggil Faiz dengan tidak percayanya.


Ya, orang itu yang membuat adik dari Abimanyu melotot tidak percaya sedari tadi. Raline mencoba tersenyum meski kentara sekali ada getir pahit di dalam senyumannya itu.


Namun dari sorot matanya, jelas ada rindu yang begitu dalam tersirat.


Jika bukan karena acara pengenalan pengganti sementara bos mereka, mungkin saja Raline telah menubrukan tubuhnya kepada lelaki muda di hadapannya itu. Lelaki muda yang telah dia anggap seperti adiknya sendiri.


Beberapa tahun lalu Raline mengenal Faiz sebagai seorang remaja yang ternyata adalah adik dari kekasihnya-Abi-. Raline saat itu berada di Jakarta untuk mengisi waktu libur semesternya dan beberapa kali bertandang ke rumah orangtua Abi dimana terdapat remaja ramah dan ceria itu.


Entah bagaimana ceritanya Faiz bisa begitu lengket dengan Raline yang saat itu telah ia panggil sebagai 'calon kakak ipar' karena berpacaran dengan Abi, kakaknya.


Saking lengketnya, terkadang Abi juga merasa cemburu karena Raline begitu memanjakan adiknya itu hingga melupakan dirinya sendiri yang berstatus sebagi pacar.


Jika Abi marah, maka Raline akan tertawa saja melihat tingkah kekasihnya yang seperti anak kecil yang cemburu karena mainan nya direbut.


"Kamu ngapain sih ngajakin Faiz nonton bareng kita?" Kesal Abi menunjuk gemas pada Faiz. Sedangkan yang ditunjuk malah meledeknya dengan juluran lidah.


"Engga papa. Lagian kan lebih seru kalau rame-rame." Kata Raline membuat Faiz besar kepala karena di bela.


"Ya kan ini acara ngedate kita. Masa bawa bocah ini sih?"


Faiz yang tidak terima di katakan bocah lalu mengadu kepada Raline. Hingga akhirnya perdebatan antara kedua kakak-adik itu pun terjadi sampai membuat Raline pusing sendiri menghadapi keduanya.


Kejadian seperti itupun berlangsung berulang-ulang hingga suatu saat dimana Raline menghilang dari kehidupan keduanya hingga menimbulkan tanda tanya besar di benak Faiz.


'Dimanakah kakak ipar tersayang nya itu sekarang?'


Dan jawaban dari pertanyaan itu terjawab hari ini. Raline muncul di hadapan Faiz dengan status baru sebagai bawahan di kantornya untuk sementara bukan sebagai calon kakak ipar ataupun kakak kesayangannya sebagaimana ia gaungkan dulu.


tepat jam makan siang, Faiz menarik Raline paksa ke rooftop hingga menimbulkan gosip-gosip yang tidak enak dari pegawai lain.


"Enak banget ya Raline langsung bisa ngambil hatinya si Bos," Kata pegawai betubuh tambun dengan poni yang menutupi dahinya.


"Iya padahal kan adik si bos masih muda banget, apa mungkin adik si bos memang suka yang lebih tua?." Tambah Pegawai wanita lain dengan ciri khas berpenampilan ramai.


Susi yang tidak suka karena rekan sekaligus teman dekatnya di gunjingkan segera menginterupsi, "Berisik!" Teriaknya membuat kedua wanita yang bergunjing tadi diam seketika.


Padahal di lain tempat masih banyak pegawai yang masih bergosip mengenai kejadian dimana Raline barusan ditarik ke rooftop oleh adik bos mereka, yang di mana hari itu merupakan hari pertama adik bos mereka itu mulai bekerja.


Kembali pada Faiz dan Raline yang telah sampai di atas rooftop melalui lift yang mereka pakai. Sesampainya disana Faiz melepas tautan tangan mereka berdua dan berjalan menuju pembatas gedung yang langsung bersebelahan dengan lalu-lalang jalan raya di bawah sana.


Dengan jelasnya bisa dilihat puluhan pemotor tengah memacu kendaraan mereka dan Faiz memandang dari lantai 51.


"Jelasin sekarang di mana kakak selama ini?" To the point Faiz yang masih menatap arah jalan raya.


Hening.....


"..Dan kenapa sekarang kakak bisa ada disini, di kantor Bang Abi?"


Hening lagi.....


"Jawab kak!" Bentak Faiz yang sudah tidak sanggup lagi menahan emosinya.


"Ada alasan yang engga perlu kamu ketahui Faiz,"


"Kenapa?!" Serobot lelaki itu lagi cepat.


"....."


"Apa alasannya karena Ibu sama bapak?"


Raline terperanjat kaget. Benar, itu alasannya pergi, bagaimana lelaki muda itu bisa tahu?.


Faiz tersenyum miring melihat reaksi kaget Raline, dan benar firasatnya selama ini yang mengatakan bahwa kedua orang tuanyalah yang menyebabkan Raline pergi secara tiba-tiba.


"K-kamu tahu dari mana?" Tanya Raline tergugup sambil masih menahan keterkejutannya.


"Bahkan bang Abi pun engga tahu kan alasan kakak pergi?" Tebak Faiz lagi.


"Kakak tanya kamu tahu darimana?!" Nada Raline meninggi seketika karena Faiz menyinggung lagi luka lamanya.


"Aku yang dengar sendiri langsung dari mulut ibu dan bapak....."


 



 


Faiz yang masih menggunakan seragam SMA kala itu pulang lebih awal karena ia besok akan berangkat ke jogjakarta untuk menghadiri acara wisuda sang kakak serta kekasihnya.


Faiz begitu senang karena akan bertemu 'calon kakak iparnya itu'. Berulang kali ia menyunggingkan senyum cerah pertanda bahwa hatinya begitu bahagia.


Tapi semuanya pupus saat kedua orang tuanya menyuruhnya untuk tetap tinggal di Jakarta tidak jadi untuk melihat sang kakak.


"Kamu jangan ikut ya sayang, Ibu sama bapak cuman satu hari disana terus pulang," Ucap Maryam pelan sambil membelai lembut surai hitam legam sang putra bungsu.


"Lho! tapi kan Ibu udah janji mau ajak aku ke Jogja untuk lihat wisudanya bang Abi?"


"Kamu di Jakarta aja ya sayang, kan sebentar lagi mau ujian. lebih baik kamu tuh belajar supaya nilainya bisa bagus,"


"Bener kata ibu kamu Iz, bapak engga mau ya nilai kamu jeblok lagi kayak semester kemarin!" Timpal Lutfi mendukung kalimat istrinya.


"Ck! bapak ibu engga asik." Kata Faiz yang langsung melenggangkan kaki menuju kamarnya.


malamnya...


Faiz terbangun di tengah malam karena hasrat ingin membuang air kecil. Ia pun menuruni anak tangga yang langsung berhadapan dengan kamar kedua orang tuanya.


Terdengar pula suara obrolan kedua orangtuanya yang saling bersahutan dari dalam kamar mereka. Jujur, Faiz heran. Biasanya di waktu begini kedua orantuanya itu sudah terlelap tidur malah dirinya yang terkadang suka bergadang untuk bermain game, tapi sekarang kenapa mereka masih terjaga?.


Faiz mencoba tidak memperdulikan itu dan segera berlalu ke kamar mandi, namun sayup-sayup terdengar nama Abi dan Raline di ucapkan oleh kedua orang tuanya itu membuat rasa penasaran Faiz muncul.


Faiz mendekat seketika dan menempelkan daun telinganya di depan pintu, Faiz sadar apa yang dilakukannya kini sungguh tidak sopan namun rasa penasarannya itu lebih besar dari pada sekedar memikirkan hal-hal tentang kesopanan.


Faiz tidak bisa mendengar jelas lagi apa yang orang tuanya bicarakan dari dalam, karena suara kedua orang tuanya itu mulai berbisik-bisik seperti tahu saja ada yang mendengarkan obrolan rahasia mereka.


Namun, meski begitu. Faiz bisa mendapatkan garis besar dari apa yang kedua orang tuanya bicarakan. Karena yang jelas mereka ingin menyingkirkan Raline dari kehidupan keluarga mereka, terkhususnya dari kehidupan Abi.