
Saat ini Kayra dan Jimin sedang melakukan fitting terakhir untuk pakaian pernikahan mereka yang hanya tinggal menghitung hari.
Bertempat di sebuah butik milik desainer terkenal, Kayra dan Jimin mematut diri mereka di depan dinding cermin besar dan saling memuji satu sama lain
"Bukankah kita benar benar sangat serasi honey, lihatlah semakin lama wajah kita semakin mirip, kata orang tua jaman dulu kalau wajah mirip artinya jodoh sejati hehee.. " Kayra menatap sang kekasih lewat pantulan cermin di depan.
"Tentu saja jodoh, di kehidupan ini aku hanya ingin berjodoh denganmu bukan yang lain, " Jimin membalas tatapan Kayra dengan teduh seperti biasanya.
"Setelah ini kita mau kemana ?" tanya Jimin saat fitting baju selesai dan mereka bersiap pergi dari butik tersebut.
"Sebenarnya aku mau ke.. " kalimat Kayra terpotong saat Jimin menyela, "I know.. " sambil tersenyum.
Mobil Jimin melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian kota menuju sebuah tempat dimana keduanya sama sama pikirkan.
Mobil tiba di sebuah tempat usai perjalanan hampir tiga puluh menit,
Sebuah tempat pemakaman dimana pusara Ayra Azalea berada, Jimin dan Kayra menghabiskan waktu di pusara tersebut, ada banyak hal yang saling mereka utarakan dalam hati masing masing terkait pemilik nisan tersebut.
Pria yang diam diam selalu mengunjungi makam ini dan hampir selalu bersamaan dengan Kayra dulu itu adalah Jimin.
Jimin yang selalu membawakan sebuket bunga Daisy segar kesukaan Ayra Azalea, Jimin juga yang selalu mengawasi Kayra yang waktu itu mengunjungi makam wanita pujaan hatinya.
Saat ini, Jimin dan Kayra tidak saling bicara satu sama lain saking larutnya dalam isi hati dan pikiran masing masing tentang Ayra Azalea .
Mereka meninggalkan area makam saat hari menjelang sore. Jimin melajukan mobilnya pelan saat melewati sebuah taman dengan deretan penjual jajanan pinggir jalan.
Aroma jajanan pinggir jalan membuat perut keduanya kroncongan, sudah lama sekali mereka tidak menikmati makan makanan pinggir jalan.
Jimin dan Kayra menikmati beberapa macam makanan hangat di sebuah kursi taman, duduk berdua bersebelahan menikmati setiap gigitan dan kunyahan kuliner yang memanjakan perut sambil menikmati pemandangan air mancur yang di sorot lampu warna warni menciptakan tarian air yang indah.
Selesai makan, Kayra mengajak Jimin jalan menikmati suasana yang semakin malam semakin ramai dan menyenangkan, Mereka berdua berjalan jalan di sekitar taman, hanya berjalan sambil bergandengan tangan, suasana malam hari ini terasa sejuk karena memang sudah memasuki musim dingin.
"Ini adalah salju pertama yang turun.. sangat indah bukan? " ucap Kayra lirih tersenyum menatap mata teduh sang kekasih.
"Apa kamu percaya jika saat salju pertama turun, ucapan cinta yang kita ungkapan akan menjadi kenyataan baby ?" ucap Jimin merespon Kayra , wanita yang dia cintai sepenuh hati.
"I love you honey.. " tiba tiba saja Kayra mengucapkan kalimat cintanya sepersekian detik setela Jimin mengucapkan kalimatnya.
"I love you more baby.. " senyum keduanya semakin mengembang saat kening saling menempel.
Salju yang turun dengan lembut perlahan, seperti gerimis air hujan menjadi saksi dua insan yang kini tengah saling menghangatkan diri lewat ciuman lembut nan hangat di bibir satu sama lain.
Kayra menangkup rahang tegas Jimin saat mencumbui pemilik bibir hangat itu dengan lembut, sedangkan Jimin juga menahan tengkuk leher Kayra untuk memperdalam ciumannya.
Bibir keduanya saling me lu mat semakin candu dan membuat sesuatu dalam diri mereka merasakan panas yang menggelora.
"Hhmmpphh.. "
"Hhmmpphh.. "
Suara kecapan pertukaran saliva malam itu benar benar melarutkan Jimin dan Kayra dalam suasana romantis di tengah hujan salju pertama musim dingin.
"ini semakin dingin, sebaiknya kita pulang.. " ucap Jimin di sela ciuman.
"Kita lanjutkan dirumah ? i want you honey.. " tangan Kayra meremas lembut pinggang Jimin .
"not now baby.. Kita bisa bercinta sepanjang waktu saat malam pertama kita nanti.. " senyum hangat Jimin yang sebenarnya juga menginginkan hal yang sama tapi dia sudah bersumpah hanya akan menyentuh Kayra setelah mereka menikah.
Kayra mengerucutkan bibirnya karena gagal merayu sang kekasih, namun sesaat kemudian kembali tersenyum manis lalu mereka berdua kembali ke mobil dengan tangan merengkuh erat satu sama lain.