
Mobil terparkir di pelataran rumah Kayra. Jimin membawa belanjaan untuk makan malam mereka sedangkan Kayra terlebih dahulu masuk ke dalam rumah dan menyalakan lampu dapur.
Keduanya melakukan aktifitas bersama di dapur yaitu menyiapkan makan malam. Kayra berjanji setelah makan akan menunjukkan pada Jimin bukti kejahatan geng sosialita yang dia simpan dalan flash disk khusus.
Kayra memotong setiap bahan yang akan diolah, sedangkan Jimin membantu mencuci setiap bahan yang dibutuhkan.
Malam ini Kayra ingin makan masakan asia khas negeri ginseng Korea. Usai menyiapkan potongan daging, sayuran dan bumbu tambahan, Kayra meminta Jimin menyalakan kompor dan merebus air dalam panci.
"Aku akan selesaikan bagian ini, kamu lanjutkan siapkan salad buahnya. " ucap Jimin yang mulai mengambil alih pekerjaan Kayra.
Dengan diselingi lemparan senyum satu sama lain mereka bekerja sama dengan sangat epik mengolah beberapa jenis makanan seperti mie ramen, sandwich isi daging serta salad buah sebagai pencuci mulut.
Satu persatu makanan tersaji di meja makan, Kayra dan Jimin duduk berhadapan Bersulang dengan dua gelas wine merah setelah itu menikmati apa yang ada di hadapan mereka.
Makanan hangat yang terasa lebih nikmat saat di makan bersama dengan suasana kekeluargaan, benar benar keduanya membayangkan bagaimana jika mereka menikah nanti, apakah akan lebih romantis dari ini ?
Satu persatu makanan habis, mangkuk dan piring kotor serta peralatan masak yang tadi digunakan menumpuk di wastafel.
Kayra dan Jimin bahkan bekerja sama mencuci semuanya, Jimin yang mencuci dan membilas Kayra yang yang mengeringkan dan menyimpan di tempat masing masing.
Selesai dengan urusan makan malam dan perdapuran, Kayra mengajak Jimin masuk ke dalam ruangan khususnya.
Sebuah ruangan yang biasa Kayra gunakan untuk mengurus pekerjaan. Mempersilakan Jimin untuk duduk di salah satu sofa sementara Kayra mengambil laptop serta flashdisk yang dia simpan secara rahasia.
"Siap ?" tatapan Kayra seperti ingin meyakinkan sekali lagi.
"Siap.. " jawab Jimin yang mulai mode fokus menatap setiap gerakan tangan Kayra pada laptop.
Mereka duduk bersebelahan di sofa panjang dengan laptop yang diletakkan di meja depan nya.
Kayra menscroll memilih file yang diinginkan lalu menekan tombol play.
Kayra dan Jimin sama sama mengenakan earphone bluetooth agar lebih jelas mendengarkan apa saja suara yang dihasilkan dalam rekaman video, pesan suara dan lainnya.
Kayra menatap ke layar laptop tanpa ekspresi tapi sebenarnya dalam dirinya sangat bergemuruh, saat seperti ini selalu membuat Kayra kembali merasakan kejadian malam itu.
Jimin yang ikut fokus mendengarkan dan melihat video yang diputar pun sampai mengerinyitkan dahi seolah tidak percaya jika ada gerombolan manusia sekejam itu.
Seolah Jimin ikut merasakan apa yang dialami Ayra Azalea waktu itu, netra Jimin bergetar wajahnya memerah merasakan amarah dan tubuh Jimin seakan kaku saking terbawa emosional dari setiap adegan yang dia lihat.
"Mereka manusia biadab !! " Jimin mengambrukkan bobot tubuhnya kasar pada sandaran sofa. Benar benar tidak habis pikir jika dia adalah sepupu dari otak kejahatan mereka. David benar benar bedebah busuk, cihh..
"Menurutmu.. apa aku salah jika ingin membalas dendam ? bagaimana jika kamu di posisiku Jimin.. " tanya Kayra dengan tatapan mata kosong menerawang langit langit ruang kerjanya.
"Aku pribadi pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang kamu pikirkan, tapi Kayra.. akan lebih baik jika kamu tidak mengotori tanganmu dengan dendam yang ingin kamu balaskan langsung. Aku tidak rela kamu menjadi orang jahat. " Jimin menoleh menatap Kayra yang masih mendongak dengan tatapan kosong menatap langit langit.
"Hanya ini tujuanku Jimin, seolah Tuhan memang memberiku kesempatan hidup lagi di tubuh lain agar bisa membalas semua yang mereka lakukan. Tidak masalah jika aku juga mati setelahnya tapi balas dendam harus diselesaikan. " jawaban Kayra terdengar dingin.
"Atau.. Tuhan memberikanmu kesempatan hidup bertransmigrasi ke tubuh lain, bukan sekedar balas dendam tapi untuk memperbaiki takdirmu, masa depanmu.. coba pikirkan bukankah kamu tetap bisa bahagia tanpa harus membalas dendam ?" ucapan Jimin membuat Kayra menoleh dan mengangkat satu alisnya.
"Apa maksudmu.. " kata Kayra pelan.
"Aku.. kamu.. masa depan kita Kayra.. Mungkin Tuhan kembali mempertemukan kita untuk hal itu kan ? Kebahagiaan.. "
Keduanya kembali saling menatap sendu tatapan Jimin yang penuh cinta dan tatapan Kayra yang masih meragu.
"Lupakan semuanya.. ikhlaskan.. kita mulai babak baru kehidupan kita bersama, " Jimin meraih kedua tangan Kayra lalu mencium punggung telapak tangan Kayra.
Hati Kayra berdesir, tidak dipungkiri getaran itu sangat halus memenuhi dalam dirinya setiap bersama Jimin,
"Hatimu adalah rumahku Jim, tapi nanti.. setelah semuanya selesai.. " jawaban Kayra tanpa ekspresi.
Jimin menarik tubuh Kayra masuk dalam pelukannya, menyalurkan rasa hangat yang menenangkan seperti biasanya.
Hampir satu jam mereka berada di ruang kerja, tanpa mengubah posisi berpelukan di atas sofa.
"Mau menginap disini ?" tanya Kayra saat mendongakkan wajahnya mencium rahang Jimin.
"No.. aku akan pulang kerumah sebelah. Aku tidak ingin melakukan hal hal dewasa seperti kemarin, kamu nakal Kayra.. " sedikit tertawa saat Jimin menolak tawaran Kayra.
"Why ? jika itu pria lain mereka pasti akan menjawab iya. Bukankah yang nakal itu mereka para pria ?" goda Kayra yang kembali menciumi dagu dan pipi Jimin.
Membuat siempunya geli menahan diri, apalagi saat Kayra sengaja memancing dengan ciuman ciuman singkat di seluruh permukaan wajah sambil tertawa menggoda.
"Sungguh kamu tidak mau menginap, aku serius. " Kayra menangkup wajah Jimin dengan senyum nakalnya.
"Kamu benar benar penggoda Kayra, tapi aku akan menahan diri dulu sampai kamu mau jadi istriku, want you marry me Kayra ?" balas Jimin dengan menatap sendu kedalam netra Kayra.
Membuat Kayra salah tingkah namun tetap saling mengunci pandangan.
"Mau tapi... "