My Geeky Genius Broker

My Geeky Genius Broker
Bab 60 Wake up boy



Pagi harinya..


Kayra tampak menggeliat pelan saat jam didinding menunjuk pada jarum kecil di angka sembilan dan jarum panjang di angka sepuluh.


Eungghhh.. Kayra membuka mata sedikit terkejut dengan posisi tidurnya saat ini.


Kenapa ada Jimin disini ? batin Kayra bertanya saat melihat Jimin masih tertidur bersandar di sofa.


Merasa tidak enak hati, Kayra gegas beranjak dari sofa berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam Kamar Kayra merutuki dirinya sendiri kenapa bisa tidur sambil memeluk pria itu, dan semakin merutuki lagi saat Kayra teringat apa yang semalam terjadi.


Astaga.. mau taruh dimana muka ini !!! Kaya meremas kepalanya frustrasi sambil wajahnya dengan ekspresi panik.


Beberapa kali menghela nafas , Kayra harus memikirkan ide untuk menghadapi Jimin setelah ini.


Baiklah Kayra.. kamu pasti bisa !! Kayra menyemangati dirinya sendiri yang bertekad menghapus semua ingatan tentang kejadian semalam.


Meski tidak Kayra pungkiri rasa saat berciuman dengan Jimin sangat mendarah daging bahkan Kayra sampai mengusap bibirnya membayangkan bagaimana Jimin mencumbunya dengan panas saat di klub.


Aaaa... kenapa yang satu itu susah dilupakan !! bibirnya manis dan sentuhan Jimin juga sangat lembut, aarrgghhh !!' Kayra memilih beranjak dab segera mencuci muka ,


Saat ini dirinya takut merasa nyaman bersama Jimin padahal tekad dalam hati Kayra berkata untuk jangan mudah terbawa perasaan sebelum misi balas dendam tertuntaskan.


Beberapa saat kemudian..


Jimin menggeliat membuka mata saat mencium aroma kopi americano kesukaannya, masih dengan muka bantal dan kesadaran yang belum penuh Jimin mencari sumber aroma tersebut yang ternyata berasal dari dapur.


Jimin duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah dimana Kayra sedang menyeduh dua cangkir kopi.


"Hhmm.. aku membuat kopi dan sarapan," ucap Kayra yang hanya menoleh sekilas ke arah Jimin yang entah kenapa wajah bantal alias wajah saat Bangun tidurnya sangat menggemaskan seperti anak anak dengan rambut acak acakan yang malas cuci muka.


Kayra tersenyum saat menghidangkan sarapan dan dua cangkir kopi di meja hadapan Jimin.


"Wake up boy.. minum kopi dulu biar melek. " ucap Kayra yang reflek mengacak rambut Jimin yang berantakan khas bangun tidur.


"Hhmm thanks.. semalam bagaimana tidurmu Kayra ?" tanya Jimin lagi sembari menyeruput kopi americano buatan Kayra.


"Tidurku nyenyak, terima kasih sudah mengantar aku pulang semalam. " senyum Kayra terukir saat dirinya berterima kasih pada Jimin. Lalu Kayra melanjutkan mengunyah sarapan hangatnya.


"Kayra.. ada yang ingin aku katakan padamu. " ucap Jimin serius, kini kesadaraannya sudah penuh dan netra Jimin menatap Kayra tajam.


"Katakan saja, sesuatu tentang apa ?" respon Kayra seramah mungkin.


"Ada hubungan apa kamu dengan David ? Apa kalian berkencan ?" tanya Jimin dengan ekspresi datar .


"Aa.. itu.. Ya mungkin hubungan kami mulai lebih dari sekedar teman, David pria dewasa yang mapan dan tampan tidak masalah kan jika aku suka dia. " perkataan Kayra seolah tidak mengakui jika David adalah pria brengsek.


"Kayra.. sebagai teman aku peringatkan kamu untuk berhati hati dengan pria itu, David bukan pria yang baik seperti dugaanmu. Jauhi dia Kayra, aku serius !" Jimin benar benar menatap Kayra dengan pandangan serius dan tajam meski tanpa ekspresi


"David itu sepupumu kan Jim, kenapa kamu tega merendahkan sepupumu sendiri ? lagipula kamu tidak akan mengerti apa yang aku rasakan. " Kayra menggeleng kepala berekspresi seakan tak habis pikir bagaimana sepupu bisa saling benci begitu.


"David itu casanova, dia tidak pernah benar benar menyukai seseorang. Wanita yang jadi kekasihnya hanya akan jadi korban nya. Pokoknya dia tidak layak untuk kamu perjuangan Kayra. " Jimin teringat kisah cinta segitiga yang membuatnya kehilangan wanita yang dia cintai dalam diam.


"Jelaskan agar aku mengerti Jim ! kalimatmu tadi seakan akan kamu tahu sesuatu tapi kamu tutupi, katakan !" Kayra mendengus kesal sembari menghela nafas kasar, tangannya bersedakap sambil bersandar pada kursi.


Sorot netra keduanya tajam saling mengunci, Kayra menunggu Jimin mengatakan sesuatu, sedangkan Jimin mulai menyusun dalam pikirannya bagaimana harus memulai .