
Asisten Jack benar benar lambat kali ini, Jimin dan Kayra sudah hampir satu jam menunggu dengan klien yang juga tampak mulai kesal.
"Tuan Jimin, saya akan pergi jika dalam lima menit asisten anda tidak kemari dan menunjukkan berkas pengajuan kerja sama kita. Kebetulan saya juga ada janji dengan perusahaan lain." ucap si calon klien mulai bernada ketus.
"Asistenku terjebak macet dan aku sudah mencoba menghubunginya, sebentar lagi dia akan tiba . Jika asistenku tidak datang juga, maka aku tidak akan menahan anda untuk pergi." ucapan Jimin tegas meski tidak terlalu keras .
Sorot netra keduanya beradu saling tajam dalam diam..
Sementara Kayra juga merasa tidak nyaman, situasi ini sangat tidak kondusif dimana keprofesionalan satu dengan yang lain di pertanyakan.
"Tuan maaf, tapi bukankah anda sebagai calon klien seharusnya juga sudah menyiapkan berkas proposal ? bukan hanya perusahaan tuan Jimin yang membutuhkan anda, perusahaan anda yang lebih membutuhkan kami kan. " celetuk Kayra begitu saja, membuat Jimin dan sang klien menoleh bersamaan.
"Aah.. Itu nona, aku meninggalkan berkas tersebut di hotel tempat aku menginap di kota ini. Jaraknya sangat jauh dari sini dan tadi aku terburu buru karena belum mengenal wilayah ini maka..." tanpa rasa bersalah si klien mengatakan jika dirinya sendiri lupa membawa berkas pengajuan kerja sama.
"Artinya .. Rencana kerja sama kedua pihak tidak bisa di lanjutkan tuan. Maaf tapi kita sama sama membuang waktu di tempat ini menunggu berkas yang tak kunjung tiba dan kenapa kalian tidak mulai saja membicarakan semuanya secara langsung. Tentu kalian sebagai sesama pemilik perusahaan sudah tahu kan arah pertemuan ini bagaimana ?" kembali Kayra mengatakan hal yang seketika membuat Jimin dan Klien saling melempar pandang dan..
"Dia benar tuan Jimin. Apakah kita mulai pertemuan kita kali ini secara lisan ? Berkas proposal bisa menyusul tapi kesepakatan hari ini harus di putuskan bukan ? " ucap si klien menyetujui masukan dari Kayra.
"Baiklah tuan.. Silakan anda menyampaikan terlebih dahulu, saya sebagai pemilik perusahaan yang akan menentukan , i will take it or not.." Jimin dengan tanpa ekspresi , hanya sorot mata yang fokus mulai menyimak apa yang klien itu katakan.
"Jadi..."
Dengan langkah cepat sedikit berlari, asisten Jack menghampiri meja tempat semua orang berada.
"Tuan Jimin.. Ini berkas dari perusahaan klien ini. Semua lengkap di dalam map itu tuan.." asisten Jack dengan nafas yang agak terengah engah, tanpa basa basi menyerahkan tas map warna biru.
Jimin hanya melirik asisten Jack tanpa merespon jawaban. Menyebalkan..
Menghela nafas pelan menahan rasa kesal, Jimin mulai membuka setiap lembar berkas kemudian menunjukkan apa yang tadi dia sampaikan langsung pada Klien.
"Semua sudah sesuai dengan yang ada di map ini tuan, anda bisa memeriksa setiap kesepakatan yang kita setujui barusan disini.. " Jimin menyerahkan kertas berkas di hadapan si klien.
Si Klien tampak mengangguk angguk saat membaca setiap kata yang tertera, lalu dengan sedikit senyum yang terlukis di wajahnya si klien mulai membubuhkan tanda tangan di atas kertas ber materai.
Lalu kembali menyerahkan pada Jimin, "Semoga kerja sama kita berjalan lancar sampai akhir tuan.. " si klien juga melanjutkan, "Senang berbisnis dengan anda.. " si klien mengulurkan tangan, dan Jimin meraih uluran tangan tersebut.
Usai bersalaman tanda persetujuan kerja sama si klien undur diri, kini di tempat itu hanya ada Jimin, Kayra dan asisten Jack.
Asisten Jack duduk tegap dengan kepala menunduk siap menerima omelan atasannya.
Sedangkan Kayra hanya bisa menahan rasa geli saat Jimin mengomeli asisten Jack.