
Happy Reading
Vincent dan Agnes saling menatap dan tersenyum, sepertinya kali ini Vincent telah berhasil menjerat wanita itu.
"Aku ingin pernikahan kita nanti di hadiri hanya keluarga besar saja, nanti kalau sudah waktunya kita akan mengadakan resepsi pernikahan yang megah," ucap Vincent mengelus punggung tangan Agnes kemudian menciumnya.
"Kenapa kamu sudah membicarakan masalah pernikahan? Kita baru saja saling kenal dan setahuku kamu dekat dengan sepupu ku?" Agnes menaikkan sebelah alisnya.
"Aku hanya dekat, tapi kami tidak memiliki hubungan, dia saja yang merasa seperti itu," jawab Vincent membelai pipi mulus Agnes. "Kamu lebih dari dia, aku langsung terpikat saat melihat mu pertama kali, kau bagaikan Berlian yang bersinar terang, membuat hatiku luluh dengan senyuman mu!"
Agnes memalingkan wajahnya dari Vincent, kenapa ucapan pria itu manis sekali.
Hati wanita mana yang tidak meleleh apabila di hadapkan dengan pria tampan super romantis seperti itu. Hati Agnes menghangat, pipinya mungkin kan bersemu merah.
"Baiklah, aku terserah kamu saja, kalau kamu memang serius padaku, aku juga akan serius padamu, jujur aku sangat suka dengan pria yang pemberani sepertimu," jawab Agnes menatap Vincent.
Dia yang selama ini menyukai Martin tidak pernah mendapatkan perasaan pria itu, meskipun selama ini Martin selalu perhatian padanya.
"Baik sayang, nanti kita persiapkan sama-sama," Vincent mengecup bibir Agnes lagi.
Agnes mengambil tasnya di dasbor, kemudian wanita itu keluar dari dalam mobil Vincent karena sudah sampai di mansion.
"Aku masuk dulu ya, selamat malam Vincent," ucap Agnes tersenyum.
Vincent balas dengan senyum dan mengangguk. Pria itu menatap kagum dengan kecantikan Agnes.
Agnes berjalan menuju pintu dan langsung masuk ketika pintu itu terbuka. Vincent masih menatap punggung Agnes yang kemudian menghilang.
'Tidak, aku tidak boleh terjerat oleh kecantikannya, karena aku harus tetap menjalankan misi balas dendam ini! batin Vincent.
****
Vincent sudah sampai di apartemennya setelah mengantar Agnes, pria itu juga langsung pulang.
Pria itu merasa lega karena sudah bisa menyingkirkan Carolina, dan sekarang tugasnya adalah membuat Agnes jatuh cinta padanya.
Vincent masuk ke dalam kamarnya, pria itu langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membuka seluruh pakaiannya. Vincent menyalahkan shower dan langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Vincent memejamkan matanya dan bayangan wajah Agnes langsung terlintas. Ciuman panas itu, wajah cantik Agnes dan mata hazelnya berhasil menghipnotis Vincent.
Dia benar-benar mengguyur kepalanya dengan air dingin untuk menetralkan segala rasa dan juga senjatanya.
"Kenapa aku memikirkan wanita itu? tidak Vincent, kamu tidak boleh jatuh hati pada Agnes! ingatlah tujuan mu untuk menyakiti wanita kejam itu, semua yang dia tunjukan adalah kepalsuan, buktinya dia langsung melarikan diri dan tidak bertanggung jawab atas penabrakan yang dia lakukan pada Sonya," guman Vincent mengusap wajahnya kasar.
Misinya harus berhasil tanpa ada permainan hati seperti dulu. Jangan sampai jadi Boomerang untuk dirinya sendiri.
Sedangkan di Mansion.
Agnes tersenyum sambil menatap dirinya di cermin, wanita itu memegang bibirnya yang sudah bengkak akibat ciuman panas yang di lakukan nya bersama Vincent.
"Ya Tuhan, kenapa jantungku berdegup kencang saat memikirkan pria itu? apakah aku sudah mulai menerimanya, apakah hatiku sudah terbuka?" gumam Agnes memegang dadanya.
"Aahh tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya 'kan?"
Agnes menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang sambil memegang dadanya yang masih berdebar-debar itu. Pesona pria yang bernama Vincent Masahiro Zuditte memang sudah membuat Agnes melupakan perasaannya kepada Martin, sahabat baiknya.
Ngomong-ngomong soal Martin, Agnes lupa bahwa dia telah meninggalkan sahabatnya itu di restoran.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa melupakan Martin!" seru Agnes.
Wanita itu langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan langsung menghubungi Martin.
"Halo Martin, maaf ya tadi aku pulang bersama Vincent, pria itu tiba-tiba memaksaku begitu saja."
"Tidak apa-apa Agnes, yang penting kamu sekarang baik-baik saja, sekarang kamu di mana?"
"Aku sudah pulang, baiklah kalau begitu aku istirahat dulu, sampai jumpa."
"Agnes tunggu sebentar, aku ingin menanyakan sesuatu padamu?"
Agnes mengerutkan keningnya.
"Ingin bertanya apa, Martin?"
"Apakah benar kalau Tuan Vincent adalah calon suamimu?"
Agnes bingung harus menjawab apa, karena bukan dia yang menerima lamaran itu. Dia juga tidak tahu apa-apa sebelumnya.
"Iya Martin, Vincent sudah melamarku melalui Papa, aku juga tidak tahu apa-apa," jawab Agnes jujur.
Martin mengepalkan tangannya ketika mendengar jawaban Agnes. Ternyata dia sudah keduluan orang lain.
"Baiklah Martin aku tutup teleponnya ya?"
Agnes mematikan panggilannya dan membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang. Sedangkan Martin meremas ponselnya, apakah dia sudah kalah mendapatkan hati Agnes karena sudah di dahului oleh Vincent. Apa dia masih bisa mengungkapkan perasaannya pada wanita yang sudah lama di cintai nya itu?
Martin mengaku telah kalah. Dia yakin bahwa Anges juga menerima lamaran itu, biar bagaimanapun Vincent adalah orang yang sangat luar biasa. Siapa yang akan menolak apabila telah di lamar oleh pria nomer satu di kota itu.
Bersambung.