
Happy Reading.
Agnes masih menangisi keadaannya yang begitu menyedihkan, tidak pernah menyangka bahwa Vincent akan melakukan itu pada dirinya.
Wanita itu melangkah menuju ke mobilnya, dengan baju yang sudah basah kuyup karena hujan mengguyur begitu kerasnya, Agnes tidak peduli bagaimana jok mobilnya akan basah. Dia hanya ingin segera pulang.
Agnes memukul dadanya kembali, berusaha mengontrol pernafasannya agar tidak sesak. Setelah berangsur membaik, dia pun langsung menstater mobilnya dan melaju meninggalkan restoran itu dengan perasaan hancur.
Sungguh Agnes benar-benar membenci Vincent dan Carolina. Dia tidak akan memaafkan kedua orang pengkhianat itu.
Vincent yang telah masuk ke dalam restoran dengan Carolina yang menempel manja di lengannya, tiba-tiba perasaannya menjadi kacau, pria itu menoleh ke belakang, memikirkan Agnes yang kehujanan tadi, tapi dia tidak melihat apa-apa, Agnes sudah tidak ada di tempat tadi.
"Sayang, ada apa? apa kamu memikirkan Agnes?" tanya Carolina yang melihat gelagat Vincent.
Tentu saja Carolina kesal tapi dia harus bersikap manis saat ini.
Vincent menoleh menatap Carolina. "Tidak," jawabnya datar.
"Aku sangat senang kamu kembali padaku, aku tahu kalau kamu masih menyayangi ku Vincent," ucap Carolina tersenyum.
Keduanya mencari tempat duduk di restoran itu, Carolina mengoceh terus, menceritakan keburukan Agnes.
Vincent hanya diam saja, dia memang memutuskan kembali kepada Carolina demi membuat Agnes sakit hati.
Carolina mengajak Vincent duduk di kursi yang kosong. "Apa kamu mau memesan makanan favorit mu, sayang?" tanya Carolina.
"Terserah kamu saja, Carol," jawab Vincent.
Pria itu masih memikirkan sang istri, entah kenapa di sudut hatinya dia merasakan kasihan kepada Agnes yang terlihat begitu kesakitan tadi.
Pria itu menghela nafas kasar, pikiran nya menjadi gelisah tidak menentu, tapi tekad dia yang sudah bulat tidak akan di hentikan.
Sedangkan Agnes langsung masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri di dalam kamar mandi. Entah apa yang akan dia lakukan setelah ini, mengetahui perselingkuhan yang di lakukan suaminya dan sepupunya sendiri.
"Aku tidak akan membiarkan semua ini, aku harus menceritakan pada Nenek dan Papa. Aku akan menceraikan Vincent secepatnya!" gumam Agnes.
Setelah itu Agnes memilih untuk segera tidur, dia harus menjadi waras meskipun hatinya sakit. Agnes bukan wanita bodoh yang akan menangisi keadaannya, biarlah nanti dia akan memikirkan semuanya setelah bangun tidur. Yang dia butuhkan hanya mengistirahatkan tubuh dan otaknya secepatnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Vincent pulang ke apartemen dan langsung masuk ke dalam kamar, entah kenapa dia sangat ingin tahu bagaimana keadaan Agnes.
Katakan lah kalau dia bodoh karena masih menghawatirkan wanita itu, tapi hatinya memang tidak bisa berbohong.
Pria itu melihat Agnes yang sudah tidur di atas ranjang dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Vincent berjalan ke arah Agnes dan menatap wajah wanita cantik itu yang terlihat sembab. Sepertinya dia habis menangis semalaman setelah mengetahui dia jalan dengan Carolina.
Ingin sekali dia menyentuh wanita itu, tapi sudut hatinya yang lain masih menyisakan dendam kepada Agnes. Hati, otak dan pikirannya tidak sejalan. Vincent benar-benar merasa kesal dengan dirinya sendiri.
'Kendalikan dirimu Vincent, kamu tidak boleh peduli pada wanita jahat ini, dia memang harus merasakan sakit hati seperti itu, karena dia juga telah menyakiti Sonya dan juga menghancurkan hidupmu.' Batin pria itu.
Diapun berjalan keluar dari kamar dan masuk ke dalam ruang kerjanya yang ada di samping kamarnya itu.
Vincent mencari foto Sonya yang masih dia simpan rapi di dalam laci.
"Sonya, apakah perlakuan ku pada wanita pembunuh itu sudah cukup membuat hatimu senang?" Bisik Vincent menatap foto sang kekasih yang telah meninggal.
"Dia membuat kita terpisah, aku begitu terpuruk saat kehilanganmu, aku berjanji akan membuat dia merasakan sakitnya di tinggalkan orang yang di cintai," Vincent mencium foto Sonya lama. Kemudian Vincent mendekap figura foto dengan memejamkan matanya.
Bersambung.