
Happy Reading.
Agnes membuka matanya, dia melihat wajah tampan Vincent berada di sampingnya masih terlelap. Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna dan Agnes menyadari itu. Vincent memang pria yang memiliki paras tampan dan pesona yang luar biasa.
Apabila pernikahannya bukan karena dendam, bukan kepalsuan, juga bukan kepura-puraan, pasti dia akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
Cinta yang selama ini dia anggap nyata dari pria di depannya ini ternyata semuanya hanya palsu, meskipun Vincent saat ini mengatakan mencintainya tapi bagi Agnes semua kata-kata Vincent sudah tidak bisa dia percayai lagi.
Vincent menggeliat dan memeluk Agnes erat membuat Agnes mengaduh tertahan. "Singkirkan tanganmu! berat sekali Vincent!" gerutu Agnes sambil berusaha mengangkat lengan kokoh pria itu.
Sepertinya Vincent masih terlelap dan tidak merasakan pergerakan Agnes.
Agnes berhasil menyingkirkan tangan Vincent dan segera bangkit dari tidurnya. Agnes memunguti satu persatu pakaiannya yang tercecer di lantai dan berjalan ke kamar mandi.
Rasanya masih sedikit perih dan sakit di bagian bawahnya itu, maklum tadi malam suaminya itu menggempur nya habis-habisan, seolah merasa nikmat dan tidak ada duanya. Agnes berdecih dalam hati, bukankah Vincent sudah biasa melakukannya. Agnes juga tidak menyesal melakukan hal itu karena dia melakukan dengan suaminya sendiri di balik sikap Vincent yang sudah begitu keterlaluan terhadap nya.
Vincent yang merasa ada pergerakan membuka matanya dan mendapati Agnes tidak ada di sampingnya.
"Agnes! Agnes!"
Vincent langsung duduk dan melihat sekeliling, dia benar-benar merasa takut ditinggalkan oleh istrinya. Nanti akan ada kabar yang mengatakan nika seorang Vincent Zuditte ditinggalkan oleh Istrinya setelah melakukan malam pertama. Tentu itu bukan berita yang baik.
Namun suara gemericik di kamar mandi membuat pria itu lega, rasanya sangat takut apabila Agnes benar-benar meninggalkannya.
"Agnes kamu benar-benar luar biasa," gumam pria itu.
Pria itu menyingkap selimutnya dan akan turun, tapi matanya melihat noda merah yang berada di sprei putih itu. Vincent meraba bercak darah keperawanan istrinya bercampur dengan bekas percintaan mereka semalam.
Lagi-lagi Vincent tersenyum kembali, Vincent memang baru kali ini merasakan keperawanan wanita, selama ini dia bercinta tidak pernah ada yang senikmat bersama Agnes.
"Kamu miliku Agnes, aku tidak akan pernah melepaskan mu, hanya aku yang boleh menjadi suamimu, aku merasa bangga bisa mendapatkan hak pertamamu, akan ku jadikan pernikahan kita nyata dan membuatmu bahagia di samping ku," ucap Vincent meremas bercak merah yang sudah terlihat menghitam itu.
Perlahan dia turun dari ranjang mengambil celana dan memakainya.
Ceklek.
Vincent menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Agnes keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Aku tidak membawa baju ganti, dan aku juga tidak biasa memakai pakaian yang sudah kotor," ucap Agnes melihat Vincent yang sudah bangun.
"Aku akan menyuruh James untuk membelikan baju untuk kita, ehm .... sebaiknya kamu duduk dulu, jangan kemana-mana, aku mandi sebentar," ucap Vincent menatap wajah cantik istrinya itu. Tubuh mulus di balik handuk itu benar-benar memukau.
Agnes mendekap tubuhnya dengan tangannya sendiri ketika Vincent menatapnya tak berkedip.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, cepat mandi sana!" seru Agnes galak. Sekarang dia memang tidak bisa bersikap lembut seperti dulu.
Bersambung