Misunderstanding Love

Misunderstanding Love
Benih Cinta



Happy Reading.


Vincent berjalan dengan sangat ke arah meja Agnes. Dia merasa tidak suka saat melihat Agnes bersama dengan pria lain.


"Agnes!" Yang di panggil menoleh, begitupun dengan pria yang sedang bersamanya.


"Ada apa?" Tanya Agnes tidak terkejut karena dia tadi sudah melihat Vincent bersama Carolina saat pertama kali masuk ke dalam restoran itu.


"Ayo ikut aku," jawab Vincent sambil menarik tangan Agnes.


"Hei, siapa kamu, kenapa main tarik gitu!! owh bukanlah kamu tuan Vincent Zuditte? kenapa kamu membawa paksa teman wanitaku?" seru Martin. Pria itu berdiri dan mencegah Vincent yang akan membawa Agnes pergi.


"Tuan Martin Carter, wanita ini adalah calon istriku, jadi saya sedang ada urusan dengan calon istri saya," jawab Vincent berusaha tenang. "Agnes, aku ingin bicara sesuatu padamu," bisik Vincent menahan sebuah hasrat di tubuhnya yang semakin panas itu.


"Vincent,, lepaskan!!" seru Agnes tidak mau.


Carolina datang dan menarik tangan Agnes kasar.


"Agnes, asal kau tahu, Vincent adalah kekasihku!" seru Carolina.


"Tidak, kami tidak ada hubungan apapun,, ayo sayang kita pergi dari sini," ucap Vincent memeluk pinggang Agnes dan memaksa wanita itu ikut dengannya.


Sedangkan Carolina hanya bisa mengepalkan tangannya karena menahan amarahnya.


****


"Kau ini kenapa sih!" Seru Agnes.


"Aku perlu bicara!"


Vincent membawa paksa Agnes untuk masuk ke dalam mobilnya, pria itu sudah merasa panas di sekujur tubuhnya dan kepalanya begitu sakit.


Bahkan pusakanya sudah mengeras dan meminta untuk di puaskan. Vincent menghidupkan mobilnya dan langsung menancapkan gas.


"Vinc, kamu mau membawaku kemana?"seru Agnes.


Vincent tidak menjawab, dia hanya fokus ke depan sambil menahan hawa tubuhnya yang terasa semakin berhasrat itu.


Agnes begitu takut saat Vincent mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia hanya bisa menutup kedua matanya dengan tangannya.


Vincent tiba-tiba memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, Pria itu melepaskan dasinya dan membuka kancing kerah kemejanya. Vincent mengacak rambutnya frustasi dengan keadaan dirinya yang benar-benar sudah menegang hebat.


Agnes membuka matanya dan melihat Vincent yang sudah terlihat berantakan.


"Vincent, kenapa kita berhenti di sini?" tanya Agnes menatap pria itu.


Dia merasa ada yang janggal dengan Vincent.


Sedangkan Vincent menatap wanita di sampingnya itu dengan tatapan yang berkabut. Pria itu mendekat ke arah Agnes, sepertinya hanya ini satu-satunya jalan agar dia bisa mengurangi rasa pusing di kepalanya dan intinya.


Agnes begitu terkejut saat Vincent tiba-tiba menarik tengkuknya dan menciumnya penuh hasrat. Memagut dan merasakan bibir Agnes yang sangat nikmat.


Agnes tidak bisa berkutik saat mendapatkan serangan seperti itu dari pria di sampingnya ini. Dia hanya berusaha mengimbangi permainan Vincent.


Nafas Vincent sudah terasa berat, dia sudah tidak tahan menahan hasrat dalam dirinya.


Apalagi melihat wanita seksi dan cantik di sampingnya ini, tubuh molek Agnes memang benar-benar menggoda. Rasanya ingin langsung menerkam wanita itu, tapi Vincent harus bisa menahannya.


"Sial!" Vincent melepaskan Agnes dan menjambak rambutnya frustasi.


Agnes bisa melihat ada yang tidak beres dengan Vincent, pria itu terlihat tersiksa sampai membuat wajahnya memerah menahan sesuatu.


"Apa kamu minum obat perangs*ng?" Tanya Agnes memicingkan matanya.


Pria itu mengerang menahan diri agar tidak menyerang Agnes. Sebenarnya Vincent bisa saja mengajak Agnes ke hotel dan menidurinya, tapi pria itu tidak mau memberi kesan buruk terhadap wanita itu.


"Aku akan mengantarkan mu pulang, jangan sampai kamu menjadi pelampiasan ku," ucap Vincent kemudian.


Agnes merasa kasihan melihat pria itu. Sepertinya dia memang benar-benar tersiksa.


"Lalu apakah kamu akan melampiaskan di club dengan wanita malam? Hah?" Agnes bersedekap dada. "Bagaimana dengan nasibku kalau calon suamiku sampai melakukan itu dengan wanita lain?" Ucap Agnes menatap wajah pria itu.


Vincent melebar matanya, sedikit terkejut mendengar ucapan dari Agnes. Yah dia seakan lupa bahwa seminggu yang lalu telah datang kepada Tuan Jhonatan untuk melamar putrinya.


Vincent menatap wanita di sampingnya itu dengan tatapan bingung, rasa sakit itu sudah menyalur ke seluruh tubuhnya. Dengan nafas memburu pria itu langsung menarik Agnes ke atas pangkuannya.


Agnes sedikit terkejut ketika Vincent melakukan hal itu.


Mata mereka beradu pandang. Vincent mengakui bahwa wanita di hadapannya saat ini memang begitu cantik, mata bening berwarna hazel itu seakan menariknya ke dalam sebuah perasaan yang berbeda.


Pria itu segera mencium bibir merah Agnes dan memagutnya liar. Agnes pun membalas ciuman itu dengan mengalungkan tangan ke lehernya.


Agnes bisa merasakan benda keras di bawahnya, sepertinya pria itu memang sudah tidak tahan.


"Agnes, maukah kamu menolongku?" tanya Vincent.


Agnes terlihat bingung kali ini, kalau dia tidak mau menolong Vincent, takutnya pria itu akan mencari kepuasan dengan wanita lain, bahkan bisa jadi dia mengajak bercinta Carolina.


Meskipun tidak ada rasa cinta di hati Agnes, tapi melihat Vincent yang seperti ini membuatnya tidak tega.


"Bagaimana caranya aku harus menolongmu, Vinc? aku tidak bisa melakukan itu kalau kita belum resmi menikah, tapi aku juga tidak mau melihatmu tersiksa seperti ini?" jawab Agnes bingung.


Vincent terhenyak mendengar ucapan Agnes. Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa senang. Dia benar-benar kagum melihat wanita di atas pengakuannya ini, dia tidak mau melakukan hubungan itu kalau belum menikah? apa artinya dia juga masih virgin? batin Vincent.


"Kenapa kamu tidak mau melakukan itu sebelum menikah? bukankah itu adalah hal biasa?" tanya Vincent kemudian. Dari pada dia mati penasaran, kan mending dia bertanya meskipun tidak secara langsung menanyakan tentang keperawanannya.


Agnes menggeleng, wanita itu masih di posisi yang sama, yaitu duduk di atas pangkuan Vincent sambil mengalungkan leher.


"Aku keturunan Indonesia, Nenekku asli orang Indonesia yang selalu menjunjung tinggi adat ketimuran, dia selalu mendidik anak-anak dan cucunya agar selalu menjaga diri," jawab Agnes jujur.


"Wow, amazing, aku salut padamu, sepertinya aku memang tidak salah memilihmu sebagai seorang istri," jawab Vincent tersenyum.


Pria itu membelai pipi Agnes dan mencium bibir merahnya. Keduanya seakan menyalurkan perasaan yang tumbuh di hati mereka masing-masing.


Tanpa mereka sadari sebenarnya benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hati mereka.


Bahkan Vincent seperti sudah merasa puas hanya dengan ciuman itu. Tidak perlu pelampiasan, Vincent sudah bisa kembali normal.


Sedangkan di sisi lain.


Carolina terlihat kesal dan berusaha menghubungi nomer Vincent, tapi sayang nomernya tidak bisa di hubungi.


"Carolina, sebenarnya apa hubungan Agnes dan Tuan Vincent? kenapa Tuan Vincent mengatakan bahwa Agnes adalah calon istrinya?" tanya Martin.


"Aku juga tidak tahu Martin, Vincent adalah kekasihku tapi dia memutuskan ku dan mengatakan akan menikah, ternyata wanita yang akan di nikahinya adalah Agnes, bagaimana aku tidak shock mendengarnya?" jawab Carolus yang sudah terlihat stres.


Apalagi saat ini Vincent sudah meminum obat perangs*ng itu, bisa jadi dia malah melampiaskannya dengan mengajak Agnes, ah sial!! batin Carolina emosi.


"Kau mau kemana?" Tanya Martin ketika melihat Carolina pergi.


"Aku akan mencari Vincent! Kamu cepat hubungi Agnes, cari tahu dia dimana!"


Martin hanya mengedikkan kedua bahunya, dia malas jika harus berhubungan dengan Vincent Zuditte. Putra dari Romeo dan Casandra itu bukan orang biasa. Dia tidak mau bermain-main dengannya.


Bersambung.