Misunderstanding Love

Misunderstanding Love
Episode 41



Happy Reading.


Vincent menatap Agnes yang masih betah berdiri di balkon kamarnya. Semilir angin berhembus kencang dari luar. Vincent mendekati istrinya yang hanya memakai pakaian tipis itu, dia membawa selimut tebal dan menutupi tubuh Agnes dari belakang.


"Masuklah, cuaca di luar sangat dingin, nanti kamu masuk angin," ucap Vincent sedikit memeluk Agnes dari belakang.


Agnes hanya diam saja, masih menatap lurus ke depan, tanpa ada cahaya di langit karena telah tertutup awan, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Vincent semakin memeluk erat Agnes seakan memberi kehangatan untuk istrinya.


"Ada apa? kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Vincent meletakkan dagunya di bahu Agnes.


"Seandainya aku tidak pernah mengenalmu dan kita tidak pernah bertemu, pasti saat ini aku sudah merasa bahagia, berjalan sesuai dengan keinginan ku, harapan yang masih bisa di capai, keinginan yang masih belum bisa di raih, semuanya telah hilang. Awalnya aku begitu bahagia bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang, seakan dia yang paling bisa membuat hidupku lebih berwarna, mengarungi pernikahan dengan harmonis dan sempurna, tapi semua itu hanyalah palsu," ucap Agnes seakan mengungkapkan semua isi hatinya.


Lagi-lagi Vincent hanya bisa menghela nafas, entah bagaimana caranya dia membuat istrinya percaya kalau dia benar-benar mencintainya. Vincent membalikan tubuh Agnes menghadap kearahnya.


"Tatap lah mataku Agnes, aku harus mengatakan apalagi agar kamu dapat mempercayai ku? aku sangat mengerti dengan perasaan sakit hatimu itu, tapi ku mohon percayalah padaku sekali ini saja, aku tidak akan pernah melepaskan mu," ucap Vincent.


"Vincent, bagiku semuanya sudah berbeda setelah hari itu, hatiku sudah terluka dalam hingga aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi, tatapan mu yang begitu menghanyutkan, perlakuan mu yang sama seperti sekarang, bagiku semua itu palsu, aku sudah pernah melihat hal ini sebelumnya, dari caramu menatapku seakan memujaku, caramu menyayangiku seakan hanya aku wanita yang kamu cintai, tapi ternyata cintamu hanya untuk Sonya, sampai kapanpun cintamu pada Sonya tidak akan pernah bisa tergantikan," jawab Agnes dengan suara lirih.


Wanita itu kemudian berjalan masuk ke dalam kamar, tapi Vincent menghentikannya dengan memeluknya lagi dari belakang.


Dia tahu bahwa istrinya masih belum bisa menerimanya, rasa penyesalan itu benar-benar merasuki jiwa Vincent.


"Kamu bukan Sonya, aku belum pernah merasa tersakiti seperti ini, cintaku padamu lebih besar dari cintaku terhadap Sonya. Bahkan aku sudah tidak peduli dengan siapa yang telah membunuhnya, aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi," ucap Vincent mencium bibir Agnes.


Jujur, perasaannya pada Agnes memang sangat berbeda, cintanya lebih besar dari rasa cintanya pada Sonya. Vincent tidak mau kalau Agnes membandingkan dirinya dengan Sonya. Agnes wanita sempurna, ada hal yang tidak bisa dia temui pada diri Sonya. Dia tidak menyesal telah menikahi wanita di depannya ini karena baginya bertemu Agnes adalah sebuah anugerah dari Tuhan.


Agnes masih diam tidak menjawab, jujur dia juga bingung dengan perasaannya.


Agnes membelai pipi sang istri, menyentuh bibir Agnes yang membuatnya candu itu, perlahan Vincent mencium bibir Agnes, memagut dan menjelajahi bibir manis itu.


Ciuman itu turun ke arah leher jenjang Agnes yang begitu mulus, aroma parfum Agnes membuat hasratnya naik.


"Aku menginginkanmu sayang, bolehkah?" bisik Vincent di telinga Agnes.


Bersambung