
Happy Reading.
Agnes menguap dan langsung menutup mulutnya ketika melihat ada orang yang ada dihadapannya saat ini.
"Vincent? Kok kamu ada dikamar ku?" Seru Agnes langsung mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang.
Wanita itu langsung menutup wajahnya yang bermuka bantal itu.
"Aku mau mengajakmu pergi sayang, ini kan hari Minggu, apa kamu tidak ingin jalan-jalan?" ujar Vincent mengelus rambut Agnes yang terlihat berantakan khas bangun tidur.
"Kemana?" Mata Agnes bergerak naik turun, masih berusaha mengumpulkan nyawanya karena dia baru saja bangun setelah semalam begadang karena nonton drama.
Memang tidak biasanya Agnes menonton film, namun semenjak resmi keluar dari pekerjaannya karena ulah sang Papa, membuat dirinya jadi pengangguran.
"Kita ambil cincin nikah kita, apa kamu lupa kalau seminggu lagi kita akan nikah, hemm?" Vincent maju dan mengecup kening Agnes.
"Tentu saja tidak, kalau begitu aku mandi dulu," wanita itu langsung beranjak dari tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Meskipun sudah sering berinteraksi dengan Vincent, tapi segala kedekatan mereka masih membuat jantung nya berdebar-debar. Untung saja sekarang Agnes bisa mengendalikan dirinya dihadapan Vincent.
Setelah 20 menit kemudian, Agnes keluar dari dalam kamar mandi menggunakan jubah, dia bisa melihat Vincent yang masih duduk di atas ranjangnya sambil memainkan ponsel.
"Kamu belum keluar? Aku mau pakai baju," ucap Agnes.
"Ya nggak apa-apa, besok-besok juga aku akan melihat mu tanpa busana sama sekali," Agnes melotot saat mendengar ucapan Vincent yang begitu enteng.
"Aku tidak sama dengan mantan-mantan kekasih mu ya, ingat! Jangan samakan aku!" Vincent langsung menciut nyalinya ketika melihat Agnes yang terlihat marah.
Daripada nanti dia kena semprot mending segera keluar dari kamar Agnes adalah solusi yang baik.
"Oke-oke, aku akan keluar sayang, jangan galak-galak donk!" Agnes melipat tangannya di dada saat melihat Vincent yang melenggang pergi.
"Huh, untung saja!"
******
Setelah memesan cincin nikah kedua sekolah yang seakan dimabuk asmara, padahal sejatinya hanya settingan belaka untuk si pria, mereka menghabiskan waktu kencan di pantai.
Vincent memberikan hal-hal yang manis-manis pada Agnes, dia membawa Agnes menaiki kuda di pesisir pantai, melihatnya keindahan sunset dengan berkuda. Tentu saja hal itu baru pertama kali dialami oleh Agnes. Sebelumnya dia tidak pernah berkuda, meskipun begitu Agnes tidak merasa takut karena ada Vincent bersamanya.
"Kamu cantik sekali sayang," bisik Vincent saat keduanya menatap langit jingga di ufuk barat.
"Cantik sunset nya," jawab Agnes tersenyum.
"Sunset memang cantik, tapi wajah kamu yang disinari oleh cahaya matahari tenggelam terlihat lebih indah," Agnes kali ini menoleh.
"I love you."
"I love you more!"
Vincent tidak pernah berhenti membisikkan kata cinta untuk sang kekasih, melambungkan perasaan Agnes sampai ke atas awan.
*****
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Vincent, yaitu hari di mana pernikahannya dengan Agnes dilangsungkannya. Selama sebulan lebih Vincent berusaha mati-matian membuat Agnes jatuh cinta padanya. Akhirnya dua bulan berikutnya mereka menjalin hubungan dan sampailah pada pernikahan besar ini.
Acara pernikahan itu di adakan sangat megah, bunga-bunga kesukaan Agnes sudah menghiasi berbagai sudut di Mansion Nenek Eva.
Banyak di hadiri oleh kolega bisnis kedua keluarga itu. semua orang memberikan selamat kepada kedua pasangan yang baru saja mengucapkan janji suci mereka.
Martin menatap pengantin wanita dengan hati yang patah, pria itu sadar bahwa dirinya tidak gentleman untuk berkata jujur tentang perasaan nya terhadap Agnes hingga membuatnya menjadi ciut nyali pada Vincent yang gencar mendekati sang wanita pujaan.
"Agnes, Tuan Vincent,, selamat atas pernikahan kalian, aku mendoakan yang terbaik, tolong jaga Agnes, jaga hatinya karena aku sangat menyayangi sahabat ku ini," ucap Martin ketika menyalami kedua pengantin baru itu.
"Tentu saja tuan Martin, kamu tidak perlu khawatir aku pasti akan menjaga istriku dengan baik," jawab Vincent menatap pria di hadapan nya itu.
Vincent paham jika Martin menyukai Agnes, ada perasaan marah ketika Vincent mengetahui hal itu.
Martin beralih menatap Agnes, matanya memanas kala melihat sahabat nya yang cantik dan masih di cintainya itu kini sudah menjadi milik pria lain.
Agnes begitu terkejut saat tiba-tiba Matin memeluknya. "Agnes, berjanjilah padaku kamu akan bahagia, selamanya aku adalah sahabat mu, kalau kamu membutuhkan ku datanglah my sweety," bisik Martin di telinga Agnes.
"Tentu Martin."
Vincent mendengus tidak suka melihat Martin memeluk istrinya seperti itu.
"Eghem!!" Vincent berdehem keras sehingga membuat Agnes melepaskan pelukan sahabatnya itu.
"Be happy ya," Martin mengusap belakang kepala Agnes.
"Tentu saja Martin, aku sangat bahagia saat ini, Vincent adalah pria yang sangat baik," Agnes menatap ke arah pria yang sudah resmi menjadi suaminya dengan senyuman hangat.
Vincent membalas senyum itu dan langsung mencium kening Agnes.
'Ini adalah awal dari penderitaan mu, Agnes!'
Kedua pasangan itu saling melempar senyum dan Vincent mencium lembut bibir istrinya itu.
Bersambung.