Misunderstanding Love

Misunderstanding Love
Episode 28



Happy Reading.


Carolina merasa sangat takut saat kelepasan berbicara seperti tadi, seharusnya dia tidak mengucapkan hal yang selama ini tidak di ketahui oleh siapapun, sepertinya dia akan di interogasi lama oleh Vincent setelah ini.


'Bagaimana ini, Vincent pasti tidak akan membiarkan ku, jangan sampai dia curiga seperti, kenapa harus salah ngomong sih! batin Carolina.


Sedangkan Vincent masih terkejut mendengar fakta baru dari Carolina, dia dengan jelas mendengar ucapan wanita itu yang mengatakan telah menabrak seseorang.


Vincent mendekati Carolina dengan kilatan Amarah di matanya. Carolina langsung tertawa untuk mengalihkan situasi yang rumit seperti ini.


"Katakan padaku, kapan kamu menabrak seseorang, Carolina?" Tanya Vincent menatap tajam ke arah Carolina.


"I-itu sudah lama sekali sayang, pada waktu aku masih High School (SMA), tapi untung saja orang yang ku tabrak baik-baik saja," Jawab Carolina gugup.


Dia takut kalau kecurigaannya selama ini benar, beberapa bulan yang lalu sahabat baiknya yang bernama Sonya sekaligus kekasih Vincent itu juga meninggal karena kecelakaan tabrak lari.


Carolina juga menabrak seseorang di malam hari dan waktu dan tempat yang hampir sama saat di temukan Sonya mengalami kecelakaan.


Bisa jadi orang yang ditabraknya itu adalah Sonya, karena pada saat itu Carolina langsung pergi dari tempat itu dan tidak melihat siapa yang di tabrak olehnya.


Di masa kesedihan Vincent yang begitu terpuruk karena di tinggalkan oleh wanita yang di cintainya itu, Carolina selalu datang menghiburnya.


Wanita itu memang sudah lama menyukai CEO dari perusahaan nomer satu di Amerika itu.


Pada akhirnya karena saking terbiasa bersama, lama-lama Vincent mulai nyaman dengan Carolina dan menjadikannya sebagai salah satu wanitanya.


"Sudah lama? Apa kamu yakin Carolina?" tanya Vincent membuyarkan lamunan wanita itu.


"Tentu saja aku sangat yakin, karena aku yang mengalami hal itu, kalau tidak percaya tanyakan pada Mamaku, sayang?" Jawab Carolina dengan tenang.


Vincent menjauhkan wajahnya dari Carolina, pria itu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana dengan pikiran yang kacau.


"Sayang..."


Vincent mengangkat tangannya seakan mengatakan bahwa Carolina harus berhenti berbicara.


"Pulanglah Carol, aku sangat sibuk," ujar Vincent memijat keningnya yang sangat pusing itu.


"Baiklah, aku pergi sekarang!"


Carolina yang merasa takut langsung pergi dari tempat itu.


"James, apakah kamu mendengar apa Carolina katakan tadi, sepertinya kamu harus menyelidiki tentang wanita itu," ucap Vincent menatap asisten nya itu.


"Baik tuan, aku akan segera mencari tahu tentang Nona Carolina,"


jawab James.


Tiba-tiba Vincent teringat Agnes, entah kenapa pikirannya selalu saja memikirkan istrinya itu. Rasa bersalah itu terus menghantui nya.


"James, undur semua jadwal ku, aku akan pergi sebentar," Vincent bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan nya.


Sedangkan di sisi lain.


Agnes berencana akan tinggal di Mansion Papanya setelah ini, dia sudah bertekad akan menceraikan Vincent dan kembali ke California, bagi Agnes pernikahannya adalah kepalsuan, penuh sandiwara dan kebohongan.


Untung saja dia belum terlalu mencintai Vincent meskipun dia sempat takluk ke dalam pesona pria itu.


Agnes sudah membereskan semua pakaian nya dan di masukan ke dalam koper, diapun keluar dari kamar yang di tempati nya belum lama ini.


"Vincent Zuditte, pria tidak tahu diri dan begitu bodoh! Kenapa bisa aku jatuh cinta kepadanya, Agnes jangan lemah, pria itu sama sekali tidak pernah mencintaimu, semua yang dilakukan nya hanya untuk balas dendam salah alamat, aku berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan pria brengsek itu," gerutu Agnes mengepalkan tangannya dan meninju udara


Dia pun langsung langsung membuka pintu apartemen dan akan keluar sambil membawa kopernya.


"Kamu mau ke mana?"


Agnes begitu terkejut saat melihat Vincent ada di depan pintu itu.


"Minggir, aku akan pergi dari sini, tidak ada gunanya lagi semua sudah kamu lakukan padaku Vincent, selamat kamu telah berhasil menyakiti ku," jawab Agnes berusaha pergi dari tempat itu tapi Vincent langsung menahannya.


Vincent begitu marah saat Agnes memutuskan untuk pergi dari apartemennya, dia tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Kamu tidak boleh pergi Agnes, kamu harus tetap di sini," ujar Vincent menatap tajam istrinya itu.


Mata mereka beradu pandang, saling mengunci tatapan masing-masing, Vincent bisa melihat mata hazel itu penuh kekecewaan dan kemarahan.


Tapi tidak untuk Vincent, Agnes bisa melihat tatapan pria itu yang sendu dan menyiratkan kesedihan.


"Untuk apa aku di sini, semuanya sudah jelas, pernikahan ini hanya pernikahan palsu dan juga kamu sudah membuat ku sakit hati Vincent, atau kamu memang ingin aku meninggal di depan matamu suatu saat nanti?" Teriak Agnes


Tatapan Vincent melemah, dia tetap tidak mau kalau Agnes pergi.


"Pernikahan kita bukan palsu, semuanya itu asli Agnes!" Tegas Vincent.


Pria itu mengambil koper Agnes dan langsung menarik istrinya masuk ke dalam apartemen.


"Lepaskan aku Vincent, apa yang kamu lakukan!! Aku tidak mau kembali ke apartemen sialan ini!" Teriak Agnes.


Vincent masih terus menarik Agnes dan langsung membawanya ke dalam kamar mereka.


"Kamu tidak boleh pergi kemana-mana Agnes!" Tegas Vincent menaruh koper istrinya.


"Aku tidak akan pernah tinggal di apartemen sialan ini lagi!"


"Aku tidak mengizinkan mu pergi, tidak akan pernah!" Vincent menatap tajam mata istrinya.


"Kenapa aku tidak boleh pergi? Apa kamu akan menyiksaku, huh? Tidak cukupkah kamu menyakiti hatiku, Vincent!!" teriak Agnes. Wanita itu mengamuk dengan menghancurkan semua barang-barang yang ada di sana.


Vincent menatap sedih wanita di hadapannya ini, sungguh dia sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan.


Bersambung.