Misunderstanding Love

Misunderstanding Love
Episode 49



Melihatmu tersenyum saja sudah menjadi anugerah terindah dalam hidupku, saat ini hanya kamu yang akan mengisi hatiku, sekarang dan selamanya. Vincent.


Happy Reading.


Carolina memacu mobilnya dengan cepat, dia harus cepat-cepat pergi dari Negara ini karena dia tidak mau dipenjara. Jalan satu-satunya agar dia selamat dari cengkraman Vincent.


Carolina menyetir dengan kecepatan tinggi, padahal jalanan tidak sedang sepi. Pikirannya berkecamuk, dia sungguh tidak bisa berkonsentrasi sekarang. Cekikan Vincent masih begitu terasa, dia hampir saja mati di tangan pria itu jika saja tidak ada bunyi telepon berdering yang menyelamatkan nya.


"Berhenti!!"


"Sial!" Carolina bisa melihat satu mobil polisi mengejar-ngejar. Wanita itu mengemudi diatas kecepatan rata-rata.


"Berhenti dan anda kami tilang! Kalau tidak mau berhenti, bisa dipastikan anda akan masuk penjara!"


Bunyi sirine polisi bersahutan dengan suara pengeras polisi yang meneriaki Carolina.


"Kenapa jadi seperti ini!! Aku keluar dari kandang singa, sekarang malah dikejar oleh harimau!"


Wanita itu akhirnya mengarahkan mobil ke gang sempit, berharap polisi tidak akan ada yang mengejarnya. Namun kesialan sepertinya sedang melanda Carolina, ataukah memang ini semua akhir dari perjalanannya.


Ternyata jalan gang itu jalan buntu dan di depannya banyak sekali anjing liar.


"Ya Tuhan!!"


Mobil polisi semakin dekat dan sepertinya Carolina hanya pasrah saat kedua polisi itu mendatangi mobilnya.


"Silahkan turun dan ikut kami ke kantor polisi!"


Carolina membuka pintu mobil sambil mengangkat tangan, sudah persis seperti penjahat.


Kedua polisi itu saling bertatap, kemudian mereka mengangguk seakan sudah tahu jika pekerjaan mereka dimudahkan.


"Anda kami tahan karena kasus tabrak lari dan mengakibatkan korban meninggal dan juga harus bayar uang tilang karena melanggar peraturan!"


Sepertinya polisi itu memang sudah mengantongi identitas Carolina yang sudah diserahkan oleh Vincent ke kantor polisi.


****


Agnes memasukan beberapa pakaiannya ke dalam koper, hampir semua pakaian dia masukkan. Vincent yang melihat itu langsung mencegahnya.


"Sayang, kamu tidak berniat kabur dariku kan?" Agnes memutar kedua matanya mendengar ucapan Vincent.


Agnes tidak menjawab pertanyaan Vincent, dia masih membereskan baju-baju yang akan dia bawa besok ke Indonesia, sudah seperti orang yang mau kabur dan tidak kembali lagi.


Vincent benar-benar frustasi melihat istrinya yang sangat dingin itu. "Agnes sayang, katanya di Indonesia cuma seminggu, kenapa harus membawa hampir seluruh bajumu?" Vincent masih terus bertanya.


Mendengar ocehan suaminya itu, Agnes menghentikan aktivitasnya. Dia menoleh ke arah sang suami yang menurutnya sekarang sangat cerewet itu.


"Vincent, aku memang mau membawa semua pakaian ku ini, di sana aku punya seorang sahabat yang mempunyai panti asuhan, biasanya aku memberikan pakaian ku yang sudah tidak terpakai, kadang juga aku membelikan yang baru, jadi tenang saja, aku tidak akan kabur, lagian kamu juga ikutkan? mana mungkin bisa kabur kalau kamu ikut aku ke Indonesia?" Ujar Agnes.


Vincent terlihat lega mendengar jawaban dari Agnes, sepertinya ini memang sebuah keberuntungan luar biasa bagi keputusan Vincent untuk menikahi wanita satu ini, selain cantik, pintar dan cerdas, Agnes juga memiliki hati yang sangat mulia dan baik.


"Hei Tuan CEO yang terkenal arogan, apa aku tidak salah dengar, kenapa sekarang kamu suka sekali memujiku seperti itu, jangan harap dengan memujiku kamu bisa mengambil hatiku kembali, ingat aku masih membencimu! aku juga menyesal telah mengenal mu, hatimu palsu, ucapan mu semua palsu, jangan membuatku kesal!!" Agnes menunjuk ke arah Vincent.


Namun Vincent malah terkekeh mendengar Agnes mengatakan semua itu, dia sama sekali tidak tersinggung. Bagi Vincent, Agnea hanya kesal karena telah memujinya, menurutnya kebencian sang istri lama kelamaan akan dia kikis dengan cinta yang berlimpah.


"Aku memujimu karena memang itulah dirimu sayang, cantik, mempesona, hot, rasanya nagih terus," Vincent masih menggoda istrinya itu.


"Kenapa? apa kamu belum bisa ketagihan dengan Carolina? atau memang tidak ada yang seperti Sonya, cinta mu yang telah mati itu!" Ucap Agnes mengejek.


Dia memang berniat membuat Vincent marah dengan mengatakan hal tentang Sonya. Agnes tahu jika Sonya memang tidak bisa di gantikan oleh siapapun di hati Vincent.


Sampai dia memberikan balasan terhadap siapa yang membunuh kekasihnya itu, kalau memang Vincent telah rela, seharusnya dia bisa ikhlas dan tidak membalas dendam dengan hati yang di sakiti.


Vincent mengepalkan tangannya, merasa tidak suka ketika mendengar ucapan sang istri, bukan karena Sonya atau Carolina, tapi Vincent tidak suka kalau Agnes membandingkan dirinya dengan masa lalu yang telah dia kubur dalam-dalam.


Baginya saat ini yang ada di hidupnya adalah Agnes, bahkan mungkin kalau dulu dia bertemu dengan Sonya dan Agnes secara bersamaan, sudah di pastikan Vincent akan jatuh cinta pada istrinya itu, bukan Sonya.


Agnes bisa merubah karakter Vincent yang dulu menjadi seperti sekarang ini, bahkan Sonya tidak pernah bisa membunuh karakter Vincent yang dulu sangat dingin itu.


"Jangan mengatakan hal itu lagi Agnes! aku tidak suka kamu membandingkan dirimu dengan Sonya," ucap Vincent dengan tatapan tajam.


Agnes tertawa dalam hati mengejek dirinya sendiri, ternyata memang benar Vincent tidak suka kalau ada yang membandingkan dengan Sonya, cinta sejati Vincent.


Kali ini Agnes sudah memantapkan hatinya untuk bercerai dari pria itu kalau pembunuhan Sonya sudah tertangkap.


Rasa cinta yang sempat bergelora kembali harus pupus.


Agnes tidak mau menjadi istri bayangan, menjadi bayang-bayang Sonya di hati suaminya itu. Lebih baik membunuh semua perasaan cintanya pada Vincent sebelum semuanya terlambat.


"Agnes, kamu sangat berbeda dengan Sonya, jadi jangan ...!"


"Stop Vincent, tidak usah di lanjutkan! aku sudah tahu bahwa Sonya tidak akan pernah tergantikan di hatimu, jadi sebaiknya hubungan ini tidak perlu melibatkan hati lagi!" Vincent yang mendengar ucapan Agnes langsung memeluk istrinya itu.


"Bukan seperti itu sayang, kamu jangan salah paham dulu, aku tidak bermaksud membandingkan dirimu, tapi aku tidak suka kamu membandingkan kelebihan mu dengan para wanita masa laluku! kamu bukan Sonya atau Carolina, kamu adalah Agnes Dwyane, istri dari Vincent Masahiro Zuddite, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi itu sayang, bahkan apabila Sonya masih hidup aku sangat yakin kalau kamu yang akan menjadi istri ku, kamu segalanya dan tidak ada duanya, karena kamulah takdir ku," ucap Vincent mencoba mengambil hati Agnes yang telah salah paham padanya.


Agnes sedikit menurunkan emosinya setelah Vincent mengatakan hal itu. Apa yang di katakan Vincent seakan menusuk sanubarinya. Apakah dia memang terlalu kejam atau karena trauma sehingga Agnes mengatakan hal itu.


"Percayalah sayang, aku sudah tidak pernah memikirkan Sonya atau wanita manapun, untuk apa aku melakukan itu kalau sudah ada bidadari cantik yang akan selalu menemaniku dan membuat hidupku berubah, tolong percayalah padaku kali ini saja, beri aku satu kesempatan untuk menebus semua kesalahanku, aku benar-benar mencintaimu sayang," Vincent membelai pipi Agnes dan mencium bibirnya.


Terdengar helaan nafas dari mulut Agnes.


"Baiklah, kalau kamu selalu memohon padaku seperti ini lama-lama aku jadi ingin memberi kesempatan yang kedua, tapi kalau kamu sampai mengulang lagi kesalahan itu aku tidak akan pernah memaafkan mu!" Vincent benar-benar senang dengan ucapan istrinya yang mau memberikan kesempatan pada Nya.


Bersambung.


Hai semuanya, aku ada rekomendasi karya keren banget 😘🥰