
Happy Reading.
"Kenapa aku merasa tunangan sepupumu itu menatap mu dengan tatapan yang berbeda?" tanya Vincent memandang lekat wajah cantik itu. Masih dengan tema yang sama yaitu Devan. Padahal mereka sudah sampai di apartemen dan sepertinya Agnes harus bersabar dengan kecemburuan sang suami.
"Devan adalah temanku, kita sudah berteman sejak lama," jawab Agnes.
"Tapi dia sepertinya juga menyukaimu, sayang? apakah kalian pernah memiliki hubungan sebelumnya?" Vincent berusaha mengontrol dirinya agar tidak emosi karena cemburu.
"Aku dan Devan hanya sahabat baik tidak lebih dari itu," jawab Agnes kali ini lebih santai.
"Aku tahu kalau kamu memang tidak mencintai pria itu sayang, karena hanya aku yang boleh mengisi hatimu, tidak boleh ada yang lain," Vincent langsung mencium bibir merah sang istri dan menekan tengkuknya.
Tangan Vincent melepas tali baju tidur yang Agnes kenakan, perlahan Vincent menuntut sang istri ke arah ranjang tanpa melepas ciumannya.
Vincent membuka semua yang melekat pada tubuh Agnes, menelusuri setiap jengkal tubuh putih mulusnya dengan ciuman yang memabukkan.
Agnes sangat menikmati setiap sentuhan yang di berikan Vincent, sentuhan kelembutan penuh cinta itu. Jujur hatinya yang beku perlahan mencair seiring waktu dan usaha Vincent untuk merobohkan kebenciannya. Agnes pun sudah berjanji akan memberikan Vincent kesempatan yang kedua bukan?
Masih terjadi adegan pemanasan yang membuat suasana di dalam kamar itu menjadi panas.
Vincent sudah tidak tahan, diapun membuka pakaian yang dia kenakan dan membuangnya ke lantai.
Agnes bisa melihat senjata Vincent yang siap untuk bertempur, perlahan tapi pasti Vincent menyatukan tubuhnya dengan sang istri yang sangat memabukkan itu.
Sungguh nikmat tiada tara yang belum pernah Vincent rasakan selama ini, tubuh Agnes memang indan dan selalu memuaskan, rasanya selalu bikin candu dan selalu ingin menikmatinya.
Akhirnya di kamar itu terjadi pergumulan sepasang suami dan istri semalaman penuh.
****
Jam menunjukkan pukul 5 pagi, Agnes bangun terlebih dahulu dan menatap pria di sampingnya itu.
"Apakah hubungan kita bisa menjadi lebih baik lagi? apakah kamu benar-benar tulus padaku?" Agnes menyentuh wajah Vincent yang di tumbuhi bulu tipis di rahangnya.
Deg!!
Agnes langsung menarik tangannya dari wajah Vincent setelah mendengar Vincent bergumam memanggil nama wanita masa lalunya.
Jantung Agnes berdetak kencang, hatinya perih dan sakit.
'Aku tidak akan membiarkan hati ini merasakan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, rasa sakit yang kamu berikan masih membekas dan belum kering tapi kamu telah membuatku kecewa lagi.' Batin Agnes kemudian menjauh dari tubuh Vincent.
Agnes merasa tubuhnya bergetar hebat, dadanya bergemuruh seakan ada bom waktu yang bisa kapan saja meledak. Tiba-tiba hatinya merasakan ngilu dan sesak yang bersamaan.
Wanita itu memegang dadanya yang rasanya sangat sakit, bahkan matanya sudah mengeluarkan air mata.
Rasanya kali ini dia sudah tidak sanggup lagi menjalani pernikahannya dengan Vincent, pria ini masih mencintai mendiang mantan kekasihnya yaitu Sonya sampai dalam mimpi pun masih selalu terbayang.
'Seberapa besar cintamu untuk Sonya sehingga dalam mimpi hanya ada Sonya di sana, apalah artinya aku yang nyata ini kalau kamu tidak bisa melupakan cintamu yang dulu, Vincent? apakah semua yang kamu ucapkan padaku hanya untuk menutupi kesedihan hatimu? apakah memang kita tidak bisa bersama? aku sama sekali tidak bisa mempercayai mu lagi. Batin Agnes sesak.
Agnes bangkit dari ranjang dengan perasaan tidak menentu.
"Tidak Agnes, jangan pergi, Agnes Agnes!"
Vincent tiba-tiba terbangun dengan peluh membasahi dahinya. Agnes sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Vincent, ada apa?"
Vincent langsung menoleh ke arah suara itu, dia langsung bangun dan berjalan ke arah Agnes kemudian memeluknya erat.
"Aku bermimpi buruk sayang, aku melihat kamu di bawa pergi oleh Sonya dia, dia akan mengajakmu mengikutinya pergi ke alam berbeda, aku tidak mau kehilangan kamu sayang," jawab Vincent dengan nafas yang tidak teratur.
Seolah dia baru saja lari maraton mengelilingi sebuah lapangan. Agnes bisa merasakan detak jantung suaminya yang berdetak kencang itu, sepertinya Vincent memang baru saja bermimpi buruk.
Bersambung.