Misunderstanding Love

Misunderstanding Love
Episode 23



Happy Reading.


Agnes bisa mendengar suara petir yang terus menggelegar, wanita itu menghentikan mobilnya, hujan sangat deras di luar sana, apakah Vincent sudah mati atau belum, saat ini pikirannya benar-benar berkecamuk.


Agnes mencengkeram setir kemudinya kuat, entah kenapa bayangan kebersamaannya bersama Vincent tiba-tiba terlintas. Agnes berteriak kencang untuk meluapkan segala emosinya.


"Aakkkkkk!! Aku benci sama kamu!! Aku benci dengan perasaanku!! Aku benci karena mengkhawatirkan mu!!"


Wanita itu langsung membelokkan mobilnya kembali ke arah di mana Vincent berada. Agnes tidak tega, dia bukan Vincent yang begitu tega padanya. Agnes turun dari dalam mobil dan melihat keadaan Vincent yang sudah sangat memperihatinkan itu.


"Agnes, Agnes" gumam Vincent masih memejamkan matanya.


Wajahnya terlihat begitu pucat, Agnes langsung berlari dan mengangkat tubuh Vincent yang sudah seperti mayat itu. Pria itu membuka kedua matanya dan melihat siapa orang yang telah menolongnya.


"Agnes," gumam Vincent dengan perasaan senang.


"Ayo cepat bangun, naik mobil dan aku akan membawamu ke rumah sakit!" seru Agnes berusaha mengangkat tubuh Vincent yang begitu besar itu.


Vincent juga berusaha bangun, dia tidak ingin terlalu menyulitkan Agnes untuk memapahnya. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah wanita yang masih menjadi istrinya itu.


Perlahan tapi pasti akhirnya Agnes memapah Vincent ke mobilnya dan memasukkan tubuh besar itu ke dalam.


Agnes langsung menjalankan mobilnya dengan cepat, dia harus bisa menemukan rumah sakit terdekat untuk mengobati Vincent.


Vincent menatap wajah panik Agnes dari samping sambil tersenyum.


"Agnes, kenapa kamu kembali? bukankah kamu sangat ingin aku mati?" tanya Vincent lirih.


"Aku masih mempunyai hati Vincent, tidak seperti mu!" jawab Agnes ketus.


Tiba-tiba sudut bibir Vincent terangkat sempurna, menampilkan sebuah senyuman sampai memperlihatkan gigi-gigi putihnya. Hati pria itu sungguh bahagia melihat Agnes yang masih memikirkannya dan datang menolongnya.


"Kenapa jauh sekali, di mana pemukiman warga? kenapa sudah sejauh ini belum sampai juga!" gerutu Agnes kesal karena dia tidak menemukan rumah sakit, bahkan rumah warga pun tidak ada yang terlewati sedari tadi.


"Aaggrrhh!!" Vincent tiba-tiba mengerang kesakitan.


Agnes yang melihat hal itu merasa panik. Padahal Vincent hanya berpura-pura saja.


"Kau tidak apa-apa? Tahan sebentar!" Vincent menikmati wajah panik istrinya.


Setelah berjalan beberapa saat mereka berhenti si sebuah villa yang tidak terlalu besar itu.


Agnes turun dan membantu Vincent keluar dari dalam mobil, mata Vincent sama sekali tidak pernah lepas menatap Agnes. Pria itu sangat senang kala Agnes perhatian padanya seperti itu.


Agnes langsung mengetuk pintu sedikit keras, badannya juga sudah merasa kedinginan. Vincent langsung memeluk Agnes dan merapatkan tubuhnya kala melihat istrinya kedinginan.


Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dan pria paruh baya yang membukanya.


"Maaf, kami kemalaman, apakah bisa kami menyewa villa ini untuk semalam?" tanya Agnes.


"Tentu saja nak, ayo silahkan masuk," jawab mereka.


"Aku akan membawakan handuk dan pakaian baru untuk kalian, lihatlah kalian basah kuyup, namaku Karina dan ini suami ku Johan," ucap wanita yang bernama Karina itu.


"Iya terima kasih bibi, kamar nya di mana ya?" tanya Agnes


"Di sana kamarnya, ayo aku antar, Johan siapkan pakaian untuk tamu kita ini," ucap Karina.


"Baiklah."


Agnes masih memapah Vincent dan masuk ke dalam kamar yang telah di tunjukkan oleh Karina tadi.


"Ini handuk dan pakaian gantinya, segeralah istirahat, hujan seperti nya akan turun semalaman" ucap Johan.


"Terima kasih paman," jawab Agnes tersenyum.


Kemudian Agnes menutup pintunya setelah Johan pergi.


Vincent menatap wajah Agnes, begitu pun dengan Agnes, mata mereka beradu cukup lama.


Mata Agnes menyiratkan kebencian sedangkan Vincent tatapan penuh rasa bersalah.


"Agnes, kenapa kamu melakukan ini, tadi kamu mengatakan bahwa kamu membenciku dan ingin melihat ku mati?" tanya Vincent.


"Aku memang sangat membencimu, tapi aku berubah pikiran, aku tidak mau kamu mati saat ini, aku ingin kamu hidup dan akan merasakan penyiksaan batin di sepanjang hidupmu, dan kamu juga akan mati dengan perlahan saat kamu menerima balasan suatu hari nanti, aku ingin kamu merasakan sakit yang aku rasakan! karena kamu telah salah orang dalam melancarkan balas dendam mu, bukan aku yang menabrak wanita itu!!" Ujar Agnes penuh penekanan.


Bersambung.