
Happy Reading.
"Apa maksudmu Nak? Jangan sampai kamu melakukan hal bodoh lagi, sudah Mama bilang berhentilah mengganggu Vincent, dia sudah memiliki istri, jangan sampai kecerobohan mu membuat Vincent semakin cepat melemparkan mu ke penjara!" Ucap Vily penuh emosi.
"Cih, memangnya kenapa kalau Vincent sudah memiliki istri? Bukankah Mama juga menggoda pria beristri sampai memiliki anak? Kelakuan Mama sama saja dengan wanita tidak tahu malu!!"
PLAKK!
Carolina memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Vily
"Jaga mulutmu Carol! kalau sampai Papa mendengar ini, kita berdua akan di usir dari rumah ini!!" seru Vily emosi.
Carolina memang sudah tahu bahwa dia bukanlah anak dari Alex Dwyane, alias adik dari Papa Agnes. Melainkan anak kandung seorang pria yang sudah memiliki istri dan juga anak dan pria itu bernama Juan Carlos.
"Aku tidak menyangka bahwa Mama dulu adalah wanita murahan yang rela di jadikan pelampiasan hasrat, berharap agar bisa menguasai harta dan cinta Juan Carlos? tapi ternyata Mama tidak bisa melakukannya karena cinta Mama hanya untuk Papa Alex, sebuah ambisi yang percuma kalau Mama tidak bisa menyerah dengan meninggalkan Papa!" Carolina menatap Mamanya yang sudah berlinang air mata itu.
Vily langsung pergi meninggalkan Carolina karena tidak mau mendengar hal menyakitkan yang keluar dari mulut putrinya itu.
Lagipula kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu, dan Carolina lah hasilnya.
****
Vincent tersenyum ketika baru saja mendapatkan telepon dari Agnes. Istrinya itu mengatakan terima kasih karena telah membelikan banyak bunga Lily kesukaannya itu.
"James, terima kasih, Agnes mengatakan menyukai bunganya," Vincent menatap asistennya dengan tersenyum.
James agak terkejut ketika mendengar ucapan terima kasih dari Vincent, pria itu sangat jarang mengucapkan hal itu padanya.
"Iya Tuan, sebisa mungkin saya akan membuat anda senang," jawab James menunduk.
"Masalah Carolina aku serahkan padamu, wanita itu benar-benar licik, aku tidak mau bertemu dengannya lagi, hukum dia terlebih dahulu, jangan sampai dia bisa masuk ke dalam perusahaan ku lagi, karena kalau sampai itu terjadi aku akan memasukkannya ke dalam kandang Rokcy!" ucap Vincent.
"Baik Tuan, anda tidak perlu khawatir, saya akan menyuruh penjaga untuk melarangnya masuk ke perusahaan," jawab James.
Vincent berdiri dan berjalan ke arah lemari khusus, dia membuka lemari itu dan mengambil kotak yang lumayan besar dari dalam.
"James, buang semua ini, aku tidak akan menyimpannya lagi, semua tentang Sonya, sudah aku lupakan, aku telah meng-iklaskan dia agar tetap damai di sana, saat ini hatiku telah di penuhi oleh Agnes, istriku yang akan selalu menjadi pemilik hati ini," Vincent menyentuh dadanya sambil tersenyum dan kemudian dia menyerahkan kotak besar itu.
"Tapi Tuan,"
Vincent menghentikan ucapan James. "Aku tidak ingin menyimpan kenangan dari Sonya, aku tidak mau Agnes tahu dan itu menyakiti hatinya, dia adalah segalanya bagiku sekarang," ucap Vincent serius.
Selama ini dia menyimpan semua barang pemberian Sonya, bahkan pria itu juga masih menyimpan cincin tunangan yang akan dia berikan pada kekasihnya itu.
Vincent mengambil kotak cincin dari dalam laci dan membukanya, sebuah cincin berlian yang dia pesan khusus untuk Sonya. Pria itu menutup kembali kotak tersebut dan langsung membuangnya ke kotak sampah.
James benar-benar salut dengan atasannya itu. Vincent menghilangkan semua jejak tentang Sonya, pria itu benar-benar telah move on dari wanita masa lalunya itu.
Di balik Pintu, Agnes memegang dadanya yang kembali berdetak kencang saat mendengar semua ucapan Vincent, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
Entah kenapa semua ucapan Vincent berhasil menggetarkan hatinya kembali.
'Aku tidak pernah tahu seperti apa cintamu itu, tapi aku akan berusaha untuk tidak meragu dengan ketulusan yang kamu berikan, syaratnya kamu harus bisa membuktikan semuanya.'
Bersambung