
Happy Reading.
Vincent menahan lengan Agnes, dia merasa tidak suka Agnes mengucapkan kata cerai.
"Bercerai? apa kamu tidak kasihan pada Nenek? ingat Agnes, Nenek akan jatuh sakit kalau dia tahu kita bercerai," ujar Vincent dengan tatapan tajam.
Agnes meronta karena Vincent menggenggam lengannya erat.
"Meskipun aku tidak mengatakan itu, seluruh keluarga pasti akan tahu kelakuan mu dan Carolina, jadi tenang saja tidak perlu memikirkan Nenek, aku akan mengurus nya," jawab Agnes dengan tenang.
Vincent menjadi semakin emosi dengan jawaban istrinya itu. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Vincent tidak akan menceraikan Agnes.
Pria itu menarik lengan Agnes sampai wanita itu duduk di pangkuannya. Vincent memeluk erat tubuh sang istri seakan tidak akan pernah melepaskan nya.
"Lepaskan aku, Vincent! lepaskan!!" seru Agnes meronta.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu."
"Aku mau tidur Vincent, ini sudah larut, cepat lepaskan!"
Vincent masih tetap berusaha menahan Agnes.
"Kalau kamu mau tidur, ayo kita tidur bersama, aku merasa sangat kedinginan," ucap Vincent lirih sambil membenamkan wajahnya pada punggung Agnes.
"Aku akan tidur di sofa, kamu tidur di ranjang ini, mulai saat ini kita tidak boleh tidur seranjang!" ucap Agnes.
"Kita harus tidur bersama, bukankah kamu tidak ingin aku mati? saat ini aku merasa hipotermia Agnes, please tidurlah di sini," ucap Vincent memohon.
Agnes benar-benar merasa lelah berdebat seperti itu, apalagi Vincent benar-benar tidak membiarkan Agnes pergi dari atas pangkuannya.
"Baiklah, sebaiknya kamu tidur dulu, aku akan tetap di sini," jawab Agnes akhirnya.
Dia harus melakukan hal itu agar Vincent melepaskan nya. Vincent tersenyum senang, dia pun menurut dan menurunkan Agnes dari pangkuannya.
Sepertinya Vincent sudah terjebak dengan permainan nya sendiri, dia sudah tidak mengingat dengan dendam dan perasaan bencinya terhadap istrinya itu.
Perlahan Vincent membaringkan tubuhnya, tangan nya masih menggenggam erat tangan Agnes. Dia tidak akan membiarkan istrinya pergi meninggalkan nya.
Agnes memilih pasrah, akhirnya dia menuruti kemauan pria egois itu dengan membaringkan tubuhnya di samping Vincent.
"Jangan menyentuhku!" seru Agnes kala Vincent akan memeluk nya.
"Kalau begitu peluk tubuhku, aku masih kedinginan," ujar Vincent lirih. Tubuhnya memang benar-benar kedinginan, dia tidak modus sama sekali.
"Tidak, aku tidak akan melakukan itu, cepat lah tidur, jangan memperkeruh suasana Vincent, karena mulai saat ini setiap perlakuan dan ucapan mu hanyalah kebohongan, kamu telah menjebakku dengan dalih pernikahan, kamu telah merayuku agar aku jatuh cinta padamu, kamu berakting seolah-olah sangat mencintai ku, tapi saat ini aku telah mengetahui kenyataan, jadi aku tidak akan pernah peduli dengan apa yang kamu lakukan dan kamu rasakan" ucap Agnes sarkas membalikkan tubuhnya memunggungi pria itu.
Vincent menatap punggung Agnes dengan tatapan sendu. Benar yang di katakan Agnes bahwa selama ini dia telah membohonginya, wanita itu tidak akan pernah percaya lagi kepadanya.
Tangan Vincent terulur seakan ingin menyentuh punggung sang istri, tapi pria itu menariknya kembali dan mengepalkannya.
Ya Tuhan kenapa perasaanku menjadi seperti ini, wanita ini begitu tangguh dan kuat, dia benar-benar ingin membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, apa benar yang di katakannya? apa dia memang bukan yang menabrak Sonya? aku harus menyelidiki kasus ini kembali. Batin Vincent.
Kalau sampai benar dia salah, maka Vincent adalah pria terbodoh di dunia.
Agnes sudah terlelap, dia terlihat begitu lelah. Vincent yang mendengar deru nafas Agnes yang sudah teratur itu mendekatkan tubuhnya.
Wangi aroma tubuh Agnes memang sangat di sukai Vincent. Pria itu mengangkat tangannya dan memeluk sang istri dari belakang.
Rasanya sungguh nyaman, Vincent mencium kepala Agnes berkali-kali, kemudian dia memejamkan matanya dan ikut masuk ke alam mimpi.
****
Carolina membanting ponselnya di atas ranjang, wanita itu merasa marah dan kesal karena sedari tadi tidak bisa menghubungi Vincent.
"Vincent!! sebenarnya kamu membawa Agnes ke mana!! aku tidak akan pernah terima di perlakukan seperti ini!!" teriak Carolina.
Malam itu dia tidak bisa tidur karena memikirkan Vincent yang pergi membawa Agnes dan meninggalkannya sendiri di restoran.
Padahal hubungan nya dengan pria yang di cintai nya itu sudah semakin membaik, tapi dia juga tidak bisa menahan Vincent untuk bersama Agnes karena wanita itu adalah istrinya.
Bersambung.