
Happy Reading.
Pagi itu Vincent membuka matanya perlahan, dia terbangun dan tidak mendapati Agnes di sisinya.
"Agnes, Agens!!" seru Vincent
Perasaan nya menjadi tidak tenang ketika tidak melihat sang istri. Entah kenapa sekarang pria itu seakan mempercayai bahwa bukan Agens yang menabrak Sonya hingga dia merasa jika Agnes akan pergi meninggalkan nya.
Vincent bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah pintu dengan langkah yang tertatih, seluruh tubuhnya masih terasa sakit bahkan hanya untuk berjalan, Vincent harus menguatkan.
Dia harus mencari Agnes, pria itu tidak bisa kalau Agnes meninggalkan dirinya di Villa itu, apalagi ponselnya tertinggal di dalam mobil, yang pasti pikiran nya hanya di penuhi oleh wanita yang sudah mengobrak abrik hatinya.
"Agnes, kamu di mana?"
Vincent berjalan dengan berpegangan pada dinding. Terus berjalan ke luar dari Villa untuk mencari sang istri.
"Agnes!" seru Vincent sekali lagi.
Dia begitu senang saat melihat wanita itu sedang mengobrol dengan Karina dan Johan di halaman depan. Agnes menceritakan keadaan Vincent yang sedang terluka karena terjatuh.
Ketiga orang itu menatap Vincent yang sedang berjalan ke arah mereka, ketika pria itu memanggil Agnes.
Vincent berjalan dengan semangat untuk bisa mendekati sang istri, pria itu bahkan melupakan rasa sakit pada kakinya itu.
"Tuan Vincent, anda sudah bangun?" tanya Johan.
Vincent tidak menjawab pertanyaan Johan, pria itu langsung memeluk Agnes erat. Tentu saja Agnes sangat terkejut dengan perlakuan Vincent itu, ingin rasanya Agnes mendorong Vincent karena telah memeluknya tapi melihat ada Karina dan Johan jadi dia urungkan.
"Kalian sangat romantis, benar-benar pasangan yang sangat serasi," ucap Karina tersenyum.
"Tentu saja Bibi, kami memang selalu romantis, sampai kadang lupa tempat, suamiku tolong lepaskan, malu kan kalau di lihat Paman Johan dan Bibi Karina," ucap Agnes sedikit mendorong tubuh Vincent.
Vincent melepaskan pelukannya pada Agnes dan menatap wajah cantik sang istri, lagi-lagi dia merasa senang dengan ucapan Agnes tadi, meskipun dia tahu bahwa Agnes hanya berpura-pura.
"Sarapannya sudah siap, sebaiknya kita sarapan dulu," ucap Karina.
"Iya, ayo Tuan Vincent dan Nona Agnes, istriku sudah memasak sup daging untuk kalian, hawa dingin seperti ini sangat cocok kalau makan sup hangat," ucap Johan.
Vincent dan Agnes hanya mengangguk pasrah, jujur mereka juga sangat lapar apalagi Vincent yang dari semalam memang belum makan.
"Jangan sungkan, makan yang banyak," Karina tersenyum pada kedua orang itu.
Akhirnya keempat orang tersebut menikmati sarapan dengan saking bertukar cerita.
Setelah sarapan mereka memutuskan untuk langsung pulang ke kota, Agnes memutuskan untuk menyetir karena keadaan Vincent yang belum baik.
"Agnes, aku sudah memutuskan untuk mencari bukti bahwa kamu bukanlah orang yang menabrak Sonya, aku akan menyuruh James untuk melakukan penyelidikan kembali," ucap Vincent menatap Agnes yang sedang fokus menyetir itu.
Agnes menaikan sebelah alisnya, apa yang dia dengar tadi? mencari bukti? bukti konyol apa lagi yang akan dia dapatkan, kenapa tidak dari kemarin-kemarin dia mencari bukti yang failed.
"Tidak perlu mencari bukti, memang aku yang menabrak Sonya, kekasihmu, cintamu itu," jawab Agnes dingin. "Kamu bisa memenjarakan aku setelah ini.
Vincent sangat tidak suka mendengar ucapan Agnes yang seperti itu, entah kenapa dia semakin merasa bahwa Agnes bukan wanita yang berada di dalam mobilnya waktu itu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Agnes, aku tidak suka!" jawab Vincent beralih menatap lurus ke depan.
"Kenapa kamu tidak suka, bukankah selama ini kalian sudah menyelidiki kasus itu 'kan! dan pada akhirnya kamu melancarkan balas dendam mu terhadapku demi wanita yang kamu cintai yaitu Sonya!!" Seru Vincent menekan nama Sonya.
Rasanya begitu panas mendengar Vincent yang kemarin mengatakan bahwa dia telah membunuh wanita yang sangat di cintainya, hal itu sudah membuktikan bahwa Vincent memang hanya menjebak dirinya untuk membalas kematian Sonya.
Bersambung.