
Happy Reading.
Keesokan paginya.
Carolina membuang semua pakaian yang ada di lemari nya, wanita itu menghancurkan semua parfum parfum dan barang-barang pemberian Vincent.
BRAAAKKK!!!
Prang!!
"Carolina! apa yang kamu lakukan!!" seru Vily Mama dari Carolina.
"Vincent Ma, dia laki-laki yang brengsekk!" teriak Carolina masih berusaha menghancurkan barang-barangnya.
"Cukup Carolina, hentikan! apakah dengan begini Vincent bisa kembali padamu! kamu harus bisa mengendalikan emosi, sayang. Carolina, kalau memang Vincent itu mencintai kamu kenapa dia tidak melamar mu, kenapa dia memilih Agnes? lupakan Vincent, biarkan dia bersama Agnes, biar bagaimanapun kalian ini saudara, jangan sampai ada permusuhan gara-gara masalah ini," ucap Vily.
"Tapi Ma, aku sangat mencintai Vincent, bahkan aku yang lebih kenal dulu dari Agnes, tapi kenapa tiba-tiba Vincent melamar wanita itu, apa kekurangan ku Ma!" Carolina terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tubuhnya merosot terduduk di lantai, Carolina menangis sesenggukan, dia merasa terkhianati. Kenapa Vincent melakukan hal itu padanya. Sepertinya dia harus menemui Agnes untuk menyuruh sepupunya itu menolak lamaran dari Vincent.
Vily memeluk Putrinya itu, dia berusaha menenangkan Carolina yang merasa kecewa dan patah hati. Keluarga besar Vily memang sudah tahu bahwa Romeo Zuddite telah melamar keponakannya itu, tapi Vily harus berbuat apa? keluarga kakak iparnya itu adalah salah satu orang hebat di kota itu. Vily tidak bisa menolong sang putri karena suaminya juga bekerja pada Tuan Jhonatan, kakaknya sendiri.
"Aku harus menemui Agnes Ma, aku harus menanyakan padanya apa keputusan yang dia pilih, seharusnya dia bisa memutuskan lamaran itu kalau dia tahu bahwa Vincent adalah kekasihku!"
"Tidak Carol,,, percuma kalau kamu melakukan hal itu, bukanlah Vincent sudah memutuskan mu? nanti kalau Vincent sampai tahu kamu berbuat itu yang ada dia akan membencimu!" ucap Vily.
Caroline berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamarnya, dia pergi menuju ke ruang kerja sang Papa dan mengambil kunci mobil.
"Kamu mau ke mana Carolina," seru Vily mengejar putrinya.
"Aku akan menemui Agnes, Ma, aku harus bertanya apa keputusan dia!" jawab Carolina.
"Tunggu! apakah kamu akan menyetir sendiri sayang? apa kamu sudah tidak trauma lagi? ingat Carolina, kamu telah menabrak seseorang sebulan lalu itu juga karena kamu mengemudi dalam keadaan emosi seperti ini, apakah kamu ingin mengulanginya lagi!" seru Vily.
Carolina menghentikan langkahnya kala mendengar ucapan sang Mama, diapun menjatuhkan kunci mobil itu. Tubuh gadis itu bergetar, dia teringat kembali kejadian di mana dirinya menabrak seseorang dan karena takut Carol langsung melarikan diri. Entah korbannya meninggal atau tidak, tapi sehari kemudian banyak media memberitakan tentang kematian seorang wanita korban tabrak lari.
"Biarkan William yang mengantarkan mu kalau kamu ingin bertemu Agnes," ucap Vily menatap sang putri.
William adalah sopir pribadi Carolina, setelah kecelakaan itu Carolina merasa trauma kalau dia harus mengemudikan mobilnya sendiri.
****
Mama Agnes telah meninggal dunia saat wanita cantik itu berusia Lima belas tahun.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.
Agnes berjalan dan membuka pintu.
"Ada apa Elsa?" tanya Agnes pada kepala pelayan di Mansion.
"Nona Carolina ingin bertemu dengan anda Nona, dia sedang menunggu di ruang tamu," ucap Elsa.
"Suruh saja dia masuk, aku sedang memakai blush on," jawab Agnes tersenyum ramah.
"Baik Nona," jawab Elsa.
Agnes tahu bahwa Carolina pasti akan mendatangi nya, biar bagaimanapun Carolina dan Vincent pernah dekat. Tapi dia juga harus bisa memberikan keputusan.
Agnes meneruskan kembali memakai blush on-nya, wanita cantik itu memang sangat suka merawat diri dan juga berdandan cantik, tapi walaupun sedang tidak memakai make up tetap saja kecantikan alaminya terpancar.
Mungkin karena sudah tuntutan seorang Presiden direktur yang harus selalu tampil cantik dan menawan Agnes jadi hoby memoles wajahnya dengan polesan natural.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa di ketuk.
Carolina masuk ke dalam kamar dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Agnes, aku ingin tahu apa keputusan mu?" tanya Carolina menatap wajah Agnes.
"Carolina, maafkan aku kalau ternyata Vincent yang melamar ku adalah pria yang dekat dengan mu, tapi jujur aku sudah mulai membuka hatiku untuk Vincent dan di sini sekarang posisi nya aku adalah calon istrinya, sedangkan kamu adalah mantan teman kencannya, jadi maaf kalau aku harus memilih Vincent," jawab Agnes to the point.
"Bukankah kamu bilang tidak akan menyukainya? Agnes aku tidak terima di perlakukan seperti ini, aku pastikan kamu tidak akan pernah bahagia, aku bersumpah hanya akan ada kesedihan kalau kamu memilih Vincent!" ucap Carolina sambil menunjuk ke arah wajah Agnes.
Kemudian wanita itu pergi keluar dari dalam kamar Agnes. Agnes menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang di ucapkan sepupunya itu.
Apakah dia salah kalau harus menerima lamaran itu? bahkan Vincent sendiri mengatakan kalau dia sudah mencintai Agnes sejak lama.
Walaupun Agnes benar-benar tidak tahu yanga sebenarnya terjadi.
Bersambung.