
Sepeninggalnya Marla, satu persatu teman teman mereka yang tadi kumpul memilih untuk pamitan pulang. Termasuk Bima, setelah mengantar Marla naik angkot dia tidak kembali lagi. Hanya mengirimkan pesan kepada teman temannya, ijin pulang duluan.
Hanya tinggal Desy dan Lina di sana. Saling menjauhkan pandang dalam diam.
"Seharusnya kamu tidak bersikap begitu tadi Des." Kata Lina memberanikan diri.
"Maksud kamu, sikapku salah ?" Desy meradang.
"Jelaslah salah !!" Lina membalas dengan nada lebih tinggi.
"Bukannya kamu yang bilang, aku harus menarik perhatian Bima lagi kalau aku tidak mau kehilangan dia ?!" Desy membela diri.
"Menurutmu, dengan sikapmu tadi, apa Bima akan menyukaimu ?!" Lina bertanya menyindir. "Apa yang kamu lakukan ini kekanak kanakan Des. Arogan. Aku sediri sebagai sahabat tidak terima dengan sikapmu. Apalagi sikapmu ke Marla tadi, benar benar tidak bijaksana !!! Salah apa dia coba sama kamu, ga pantas kamu perlakukan begitu. Lagipula Bima itu bukan pacar kamu, ga ada hak kamu marah sama perempuan yang dekat dengan dia. Paham ga sih ?!!"
"Kenapa sejak awal kamu tidak cerita tentang Marla ? Kenapa tidak bilang saja, kalau perempuan yang Bima dekati adalah Marla ?"
"Ga ada gunanya juga aku cerita. Memangnya kalau kamu tau perempuan itu Marla, terus kenapa ?!! Apa yang bisa kamu buat ?!!"
Desy hanya diam.
"Inilah alasannya aku bicara dengan kamu waktu itu. Kamu bilang mau belajar mencintai Bima. Setelah 1 tahun lebih dia berusaha mendekatimu. Kamu bilang masih mau belajar mencintainya. Kamu bahkan tidak pernah memberinya kesempatan Des. Hampir di setiap bertemu, yang ada kamu mempermalukan Bima. Merendahkannya. Termasuk sikapmu yang tadi itu, menurutmu gimana perasaan Bima ?!!. " Lina menunjukkan marahnya.
"Bima menarik diri karena kamu tak pernah memberinya kesempatan. Dan ketika hatinya telah berubah, lantas kamu mau marah marah gitu ?!!" Lanjut Lina lagi. Desy hanya terdiam tanpa menoleh sedikitpun.
"Aku menyampaikan itu berharap kamu bisa berubah. Menjadi pribadi yang lebih rendah hati, lebih menghargai, setidaknya begitulah seharusnya kamu berusaha. Bukan sebaliknya, sikap kamu tadi mengintimidasi setiap orang yang ada di sini. Termasuk aku. "
Desy hanya diam tak menjawab. Berusaha menahan air matanya, menarik nafas dalam dalam.
"Entahlah Lin, aku juga ga tau kenapa aku jadi kacau begini. Aku mau pulang sekarang." Berkata begitu Desy beranjak dan berlalu pergi.
Lina hanya membiarkannya saja. Tak berniat memastikan dia pulang dengan siapa, pulang naik apa. Seperti biasanya selalu dia lakukan. Sekian tahun menjadi sahabat, baru kali ini Lina mengabaikan . Tidak bisa mentoleransi lagi perangai Desy itu.
_________________
BIMA
Aku pulang dengan rasa kecewa yang besar, pertemuan tadi yang seharusnya berakhir baik malah jadi berantakan. Tak semangat lagi aku kembali ke tempat kumpul tadi. Apa yang terjadi diluar rencanaku ,benar benar merasa bersalah pada Marla. Saat pulang tadi dia diam saja, mungkin dia marah. Aku bisa rasakan itu.
"Apa yang Desy buat tadi kelewatan Bim." Abangku Hans berpendapat.
"Sedari awal sudah aku ingatkan kamu tentang Desy. " katanya melanjutkan
"Aku tidak ada hubungan apa apa dengan dia, jelas jelas aku sudah lama tidak mengubungi dia. Tidak merespon telepon atau chatnya juga. Kupikir itu menjelaskan sikapku padanya." Bima membela diri. "Apalagi dia bukan pacarku, tidak tau kenapa dia bereaksi seperti itu. "
"Sepertinya kamu harus jelaskan ke Marla. Minta maaf untuk kejadian tadi. Yang aku lihat Marla disalahfahami tadi. " Hans memberi saran.
Aku hanya mengangguk mengerti. Memang itu yang akan aku lakukan.
Aku masuk ke kamarku dan mendial nomor telepon Marla. Sampai berkali kali teleponku tidak diangkat. Hingga beberapa saat aku coba hubungi lagi, dan kali ini diangkat.
"Halo ."
"Hai La..,sudah sampai kost ?" Tanyaku memastikan.
"Sudah . "Jawab Marla tak biasa . Tak ada embel embel bang di akhir kalimatnya.
"Sorry tadi aku ijin pulang duluan, besok mau masuk pagi." Lagi lagi kalimatnya itu tak biasa.
Sebentar aku diam, berusaha mengerti sikap marahnya.
"Ga apa apa La. Ga perlu minta maaf. Aku juga langsung pulang kok tadi." Kataku berusaha sesantai mungkin. "Seharusnya aku yang minta maaf tentang yang tadi. Aku benar benar minta maaf ya La, kalau kamu ada merasa ga nyaman. Aku ga tau kenapa Desy bisa datang tadi, aku ga ada ajak dia. " Kataku coba menjelaskan.
Marla tidak menjawab.
"Aku tidak tau kenapa Desy bersikap seperti itu. Aku dan dia ga ada hubungan apa apa. Aku harap kamu tidak salah faham. "Lanjutku lagi.
"Aku dengar abang dan dia dekat ??" Tanya Marla akhirnya.
"Ahhh...., itu dulu La. "
"Mungkin karena itu dia marah ??" Sambar Marla cepat. "Perempuan ga suka perasaannya dipermainkan. "
Kalimat Marla barusan rasanya seperti pedang yang menghujam ke jantungku. Apakah dia berfikir aku mempermainkannya ?
"Itu sudah masa lalu buatku La. Aku pernah menyukainya dan memang aku mendekatinya. Tapi sikapnya sulit kuhadapi. Aku sering tersakiti, dipermalukan dan diremehkan. Kupikir aku tidak mau melanjutkannya lagi. Aku berhenti mendekatinya jauh sebelum aku kenal kamu. Jadi aku pastikan tak ada hubungannya dengan aku kenal kamu." Jelasku panjang lebar.
Marla hanya diam.
"Sudah dulu ya, aku mau istirahat, besok masuk pagi soalnya." Telepon lalu terputus.
Aku tersandar lemas. Menggaruk kepalaku yang tak gatal. Menghela nafas tak berdaya sambil memejamkan mata. Kuputuskan harus menjelaskan kesahafahaman ini pada Marla.
"*Malam La, semoga belum tidur. Sekali lagi aku minta maaf untuk kejadian tadi. Aku benar benar minta maaf. "
"Ok*." Pesanku segera berbalas.
"La aku ingin menjelaskan semuanya padamu, jangan sampai ada kesalahfahaman diantara kita."
Pesanku dibaca tapi tak dibalas
"Besok bisa kita bertemu ? Aku mau bicara langsung."
Kulanjutkan mengirim pesan.
" Aku tidak bisa. Jadwal dinasku penuh."
"Kalau minggu depan gimana ? Aku jemput kamu ke kost ya ?"
"Ga bisa janji ."
"La....., please." Kusematkan emoji memohon diujung pesanku. Sepertinya dia berusaha menghindar sekarang.
"Nanti aku kabari?" Balasnya kemudian.
"Ok La, nanti kabari ya kapan bisa ." Pesanku akhirnya, karena menyadari akan sia sia saja kalau kupaksakan.
Besoknya aku chat Marla, hanya sekedar bertanya kabar. "Met siang La....., apa kabar hari ini ? Aku lagi makan siang ini, tiba tiba teringat kamu. Hari apa jadinya kita ketemu La ?"
Pesan kukirimkan ,tak lupa menyisipkan emoji senyum di bawahnya.
Pesanku tidak segera dibalas. Tapi aku juga tidak mengharapkan dia akan membalas. Aku hanya ingin dia tau kalau aku serius. Tak ada niatku mempermainkan sedikitpun.
Hari berikutnya aku mengirim pesan lagi.
"Siang La, apa kabar...? Berharap kamu tetap dalam keadaan baik ya La."
"Untuk kejadian kemarin aku benar benar minta maaf ya La. Aku tau kamu mungkin masih marah. Dan memang wajar kamu marah, kejadian itu pastinya membuatmu kaget."
"Tapi sekali lagi aku bilang La. Aku benar benar tidak ada hubungan apa apa dengan Desy . Aku berharap kamu tidak salah faham. "
Kembali kukirim pesan dengan emoji senyum dibawahnya.
Dan masih begitu di hari selanjutnya, aku masih mengirimkan pesan.
"*Hai La.....,Marla apa kabar ? Semoga selalu dalam keadaan baik ya La. Masih marahkah denganku ? Semoga sudah tidak marah lagi. Maaf ya La untuk kejadian waktu itu. Aku baru tau semalam, ternyata Lexi yang mengajak Desy datang . Lexi bilang dia juga jadi ga enak sama kamu. "
"La...,aku dan Desy tidak pernah ada hubungan apa apa. Memang benar aku pernah menyukainya, dan mendekatinya, tapi hanya sebatas itu, tidak lebih. Aku juga sudah lama tidak komunikasi dengan dia, jauh sebelum aku kenal kamu.
"Sekali lagi maafkan aku ya La. Berharap kita bisa dekat lagi seperti sebelumnya*."
Pesan kukirim, masih dengan emoji senyum dibawahnya.
Tak lama berselang pesanku dibalas.
"Siang juga bang. Kabarku baik semoga abang juga kabarnya baik."
Wajahku langsung berbinar membaca pesan itu. Segera kuhubungi nomor Marla.
"Halo." Suara lembut menyapa dari seberang sana. Bukan suara marah atau kesal. Tapi suara lembut Marla yang rindu kudengar.
Aku hening, tak tau mau bilang apa. Sesaat hanya merasa bersyukur dia mau angkat teleponku.
"Halo Marla...., makasih sudah mau angkat teleponku." Pada akhirnya kalimat itu yang pertama keluar dari mulutku.
Lalu mulai menanyakan kabarnya, sudah makan atau belum, bertanya tentang pekerjaannya. Perlahan tapi pasti obrolan kami mulai mencair. Mulai membaik dan nyaman kembali.
Marla bilang, dia tidak ada jadwal jaga Jumat malam. Dengan kata lain dia ok kami bertemu.
Akhirnya kesempatan itu datang. Kami janji makan malam di luar hari Jumat. Aku akan jemput dia di kostnya.
Betapa bersemangatnya aku menunggu hari itu. Tiba tiba beberapa rencana tersusun di kepalaku. Ingin mempersiapkan makan malam yang spesial di tempat yang spesial dengan orang yang spesial. Berusaha memberikan yang terbaik untuk Marla si gadis yang membuatku jatuh cinta.