MARLA

MARLA
Hari Bersejarah



MARLA


Aku berkemas di kamar ganti ruangan jagaku. Tak sempat lagi kalau harus kembali ke kost.


Berangkat ibadah langsung dari sini saja.


Semoga masih sempat masuk ibadah pertama.


Kuhentikan angkot menuju ke tempat ibadah. Bergegas masuk kedalamnya dan merapikan barang barangku.


Seperti biasa kalau pergi dinas selalu bawa tas tentengku yang besar, jadi bisa memuat barang seabrek. Berisi baju ganti dan peralatan mandi. Lalu kantong make-up seadanya. Bisa dibilang aku jarang tidur di kamar kost ku. Lebih sering tidur di rumah sakit, atau di rumah pasien. Kadang kadang tidur dirumah Lina.


Kali ini aku sudah merindukan kamar kost ku. Rindu bisa tidur dengan pulas. Sengaja ambil ibadah pagi agar bisa tidur sepulang ibadah.


Tak terasa aku tiba di depan gedung ibadah, lalu turun dari angkot dan membayar ongkosku. Lalu aku masuk ke gedung ibadah dengan tergesa gesa. Tak menyadari ada seseorang yang menungguku disana.


"Hai La.....,"Bima segera menyapaku di pintu masuk gedung ibadah.


"Oh hai...,"sapaku. Aku sedikit kelimpungan menyambut salamnya dengan barang barang di tanganku.


Bima segera membantu membawakan tas baju gantiku. Memanduku masuk ke dalam gedung ibadah dan mempersilahkanku duduk di kursi yang tepat di sampingnya. Sepertinya dia sudah persiapkan kursi ini dari tadi. Terlihat ada Lexi yang duduk tak jauh dari situ sedang mengawasi kursi kami.


"Makasih ya." Kataku tersentuh dengan sikapnya. Bima sangat tau cara mempelakukanku dengan manis. Aku bisa duduk dengan nyaman tanpa harus repot cari tempat duduk . Bima benar benar tipeku. Sosok yang bisa diandalkan.


"Baru pulang dinas ya ?" tanya Bima.


Mungkin karena melihat banyaknya barang bawaanku.


"Iya....,tadi ga sempat ke kost-an. Langsung kemari. Takut ga terkejar ibadah pertama. " Jelasku padanya.


Bima hanya mengangguk.


Kemudian kami menghentikan pembicaraan. Ibadah sudah dimulai.


_______________


BIMA


Tak menyangka akan bertemu Marla pagi ini. Aku hanya iseng menunggu diluar, berharap Marla akan ibadah pertama. Ternyata Marla benar benar muncul. Tak terkira senangnya hatiku.


Saat ini bisa duduk bersama Marla mengikuti ibadah, adalah hari bersejarah bagiku. Hari terbaik dalam hidupku. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati padaku. Mengatur pertemuanku dengan Marla.


**********


Sehabis ibadah aku tawarkan mengantarnya pulang.


"Aku antar pulang ya. Aku bisa sama Join." Kataku menawarkan.


"Aduh, ga usahlah bang. Takutnya aku mengantuk di boncengan. " Tolaknya dengan halus.


Aku bisa mengerti maksudnya. Kalau dia mengantuk di sepeda motor mungkin dia takut terjatuh atau terbentur ke punggungku.


"Iya ya....,ok deh." Balasku penuh pengertian.


Dalam hatiku," ga apalah, toh nanti sore ketemu lagi. Sekarang cukup begini aja dulu."


____________


MARLA


Sesampainya aku di kamar kost, aku langsung merebahkan diri. Nyaman sekali rasanya setelah 5 hari tidur tak menentu. Dirumah sakit dan dirumah pasien. Ngeri sangat perjuanganku mengumpulkan rupiah.


Sambil memandang langit lagit dikamarku, ingatan ini kembali membawaku pada Bima. Sungguh tak menyangka akan bertemu dia .


Apa yang Bima buat tadi sungguh manis. Aku tersipu, menyembunyikan wajahku di balik bantal . Dia memperlakukan aku dengan sangat baik tadi. Belum ada seorang priapun yang pernah memperlakukanku begitu. Tidak juga mantan mantan pacarku.


Aku melamun mengenang kejadian tadi. Semakin jauh lamunanku membawaku hingga terlelap.


************


Dering ponsel membangunkanku dari tidur.


Lina memanggil.


"Halo..." Jawabku setengah mengantuk


"Hei udah dimana ?" Tanya Lina ditelepon.


"Masih di kost-an. " Jawabku masih dengan malas malasan.


"Oalah.....,kirain udah jalan. Udah jam berapa ini." Lina mulai merepet.


Kupungut jam tanganku di samping kasur. Mengejap ngejap mataku sekilas memastikan tak salah liat waktu. Kuperiksa kembali jam di ponselku, ternyata aku tak salah liat waktu. Sudah pukul 4 sore.


"Astaga....."Aku tersadar segera.


"Halo Lin, kamunya sudah dimana ?" Tanyaku memastikan Lina


"Aku udah di jalan. Bentar lagi mau sampe simpang Gatot Subroto."


"Ohhhhh, ya ampun...., aku malah belum siap siap ini. "Jawabku merasa bersalah.


"Ya udahlah aku langsung ke tempat ajalah ya. Nanti kamu menyusul aja ke sana. Kalo mau jalan kabari aku biar aku pandu dari telepon aja nanti." Lina memberi solusi.


"Oh gitu...,ok deh ok." Kataku mengiyakan. "Sorry banget ya Lin, aku ketiduran." kataku menyesal.


"Ok, ga apa......,buruan aja beres beres. Sampe ketemu nanti ya." Kata Lina menutup pembicaraan.


Sesuai arahan Lina, aku naik angkot pertama lalu turun di simpang Gatot Subroto. Setelahnya naik angkot berbeda lagi sampai ke tempat kami janji.


Sambil celingak celinguk mencari nama tempat Distro. Akhirnya kutemukan.


"Pinggir pak." Kataku cepat sebelum angkot melaju lebih jauh. Menyerahkan ongkos dan masuk ke dalam tempat itu.


Bentuknya seperti rumah makan biasa, tapi ada kursi kursi taman yang asri di dalamnya. Cocok untuk nongkrong.


"Hei La....,disini." Lina melambai memanggilku.


Aku bergegas ke arah mereka, ternyata sudah rame. Ada Bima juga di sana. Jantungku berdegup halus. Aku antara senang dan gugup jadinya.


"Akhirnya nyampe juga. Kirain tadi nyasar lo kamu." Kata Lina bercanda.


"Hai La, duduk di sini aja." Bima menawarkan, kebetulan disampingnya ada kursi kosong.


Aku menurut, menarik kursi sedikit. Bima sepertinya mengerti, dia membantu menggeser kursi.


"Kenalin La, ini abangku Hans." Bima mengenalkan.


"Oh halo bang, Marla." Sapaku ramah mengulurkan salam perkenalan.


"Ini pacarnya Kak Dian." Kata Bima lagi.


"Halo kak, aku Marla." Sapaku lagi mengulurkan tangan.


"Kok beda ya bang." Kataku basa basi. " Abang sendiri dipanggil nama, malah pacarnya dipanggil kakak."


"Ha ha ha ha......,semua tertawa dengan kalimatku. "


Pembicaraanpun mencair dan mengalir santai.


Sampai satu orang muncul bersama Lexi.


"Hai semua......"sapa Desy terdengar akrab.


Spontan aku memandang Bima, segera merasa tak nyaman duduk di dekatnya. Lina bilang mereka sedang dekat. Meski kami berdua sahabat Lina, tapi aku tidak dekat dengan Desy. Lina sahabat Desy sejak SMP, karena mereka satu sekolah. Dan aku sahabat Lina karena kami satu kampus di Keperawatan. Meski Lina lebih memilih meneruskan hobi menjahitnya sebagai mata pencaharian daripada menjadi perawat.


Wajah Bima berubah serius. Mungkin menyadari ketidaknyamananku.


Desy juga terlihat kurang senang, melihat aku duduk di samping Bima. Raut wajahnya langsung berubah sinis.


Keadaan benar benar menjadi canggung.


"Ada Lina juga rupanya di sini." Kata Desy sinis. "Kok ga ngajak aku Lin."


"Aku juga diajak sama Bima Des. " Jawab Lina bijaksana.


"Oh...,jadi karena kamu ditraktir terus lupa sama sahabat sendiri ?" Desy lanjut menunjukkan ketidaksenangannya.


"Tenang aja, aku ga akan minta ditraktir kok.Aku bisa bayar sendiri." Lanjutnya lagi dengan arogan.


"Kok gitu ngomongnya Des ?" Lina tak senang dengan kalimat barusan.


"Ya udah, gabung aja Des disini." Kata Bima cepat mencegah keriuhan.


Keadaan tiba tiba hening.


"Apa karena udah ada yang baru ya Lin. Jadi lupa yang lama. Lupa kalo pernah dekat sama seseorang." Sindirnya lagi.


"Bukan gitu Des.....," Lina mencoba menjelaskan.


"Disini ada menu apa aja sih." Tanyanya memotong ucapan Lina.


"Oh, ini ada buku menunya kak." Kataku berusaha ramah.


"Ga usah sok ramah deh..., aku bisa ambil sendiri." Desy melotot galak ke arahku. Sembari mengambil daftar menu dari meja kosong di sebelah.


Wajahku spontan memerah menahan malu.


Lexi yang datang bersama Desy merasa tidak enak dengan situasi itu, inisiatif mengajak Desy duduk di meja kosong yang lain.


"Des, kita duduk di sana aja yuk." Ajak Lexi .


"Memangnya ga boleh duduk di sini. Ga suka aku duduk di sini ?" Desy lanjut menyerang.


Aku yang sejak tadi sudah tak nyaman, memilih pamit pulang duluan.


"Aku ijin pulang duluan ya, udah agak malam. Takut ga ada angkot. Besok mau jaga pagi soalnya. " Kataku segera berpamitan.


"Aku antar ke depan La. " Bima menyusulku tanpa minta ijin.


Aku hanya membiarkan dia mengikutiku.


"Sorry ya ketidaknyamanan tadi."


Aku hanya senyum terpaksa tanpa menjawab.


Meski dadaku sesak rasanya. Banyak kata yang ingin kukeluarkan saat itu. Tapi aku memilih diam.


Kalau saja aku tau akan ada Desy, aku tidak akan datang hari ini. Ada banyak seandainya yang bermunculan di kepalaku. Merasa menyesal kenapa tadi aku berusaha untuk datang. Beginilah jadinya.


Aku naik angkot pulang tanpa sepatah kata, meski Bima menawarkan ingin mengantarku pulang, aku tak merespon apa apa. Sebaliknya memilih berdiri menunggu angkot di tepi jalan. Bima menemaniku disana, sampai aku menaiki angkot itu, meninggalkannya tanpa kata dan tak menoleh sedikitpun.


Aku merasa dipermalukan tadi. Aku ingin Bima tau ketidaknyamananku.