
BIMA
Sesampainya di rumah kontrakan, aku lihat barang barang sudah Hans persiapkan. Tapi dia belum ada di rumah. Mungkin belum pulang ibadah sore, pikirku.
Aku berbaring sebentar melepas penatku. Tanpa rencana aku malah tertidur pulas. Baru terbangun saat Hans tiba di rumah.
Hans mulai mengangkat barang barang satu persatu ke teras rumah, sambil menunggu aku selesai mandi dan berberes diri.
Setelah aku selesai, Hans memesan taxi. Sengaja pesan taxi karena barang barang tidak muat bila harus dibawa pakai sepeda motor.
"Jangan lupa matikan semua lampu dan colokan (maksudnya colokan listrik yang terpasang) ." Hans mengingatkan dari arah teras.
Aku lalu memeriksa ulang semua lampu dan colokan listrik yang terpasang, kalau kalau aku ada yang terlewat.
Setelah semua selesai kuperiksa aku pastikan lagi tas bawaanku. Ternyata sudah lengkap. Lalu aku mengunci pintu rumah. Tak lama taxi pesanan kami tiba.
"Makan malam dululah kita."Hans menyarankan, begitu kami tiba di stasiun bus menuju ke kota A.
Mengingat perjalanan kami memakan waktu yang panjang sampai ke kota A, aku setuju menyempatkan makan malam dulu. Seperti biasa, selalu Hans yang pilih tempat makan. Sampai sejauh ini, belum pernah kecewa dengan tempat makan pilihannya.
Selama makan kami tak sempat berbincang, sengaja biar cepat, karena mengejar waktu keberangkatan bus.
Setelah selesai makan, benar saja seperti dugaan kami. Para penumpang sudah disuruh naik ke bus. Lalu Hans naik ke bus duluan, sambil mencari tempat duduk untuk kami berdua, sementara aku memastikan barang barang kami tak ada yang ketinggalan dan masuk dengan aman ke bagasi bus yang kami naiki.
Saat aku masuk ke dalam bus, Hans melambai memanggilku duduk ke sebelahnya.
"Barang sudah masuk semua ?" Tanya Hans memastikan.
"Aman." Jawabku singkat.
"Eh.....,lupa beli minum." Kata Hans mengingatkan.
Aku yang duduk sebelah luar kursi penumpang, inisiatif segera turun membeli beberapa botol besar air mineral. Aku bergegas masuk lagi karena bus akan segera jalan.
--------------‐----------------
Setiba di kota A, kami menunggu jemputan ke daerah T. Sebelumnya sudah pesan mobil jemputan lewat kenalan, saat kami masih di kota M. Butuh 2 jam perjalanan lagi sampai kami tiba ke lokasi proyek.
Singkat cerita kami segera ketemu dengan penanggung jawab pihak sekolah dan pengerjaan proyek segera dilakukan hari itu juga.
Karena pekerjaan yang padat, aku tak sempat mengabari Marla kalau kami sudah tiba disini. Sampai malam tiba, saat akan istirahat, aku membuka ponsel dan melihat ada panggilan tak terjawab dari Marla dan dari Desy. Lalu beberapa pesan belum terbaca.
Aku membuka pesan masuk dari Marla
"Hai bang Bima, sudah sampaikah di sana ? Bagaimana kabar kalian di sana ?"
Aku tersenyum membaca pesan itu. Ini pertama kalinya Marla mengirimku pesan duluan dan menanyakan kabarku. Pertama kalinya dia menghubungiku duluan.
Segera aku dial nomor gadis pujaanku itu.
Tak lama segera terdengar suaranya mengangkat telepon. "Halo....,bang Bim. Sudah sampai di sana ?" Tanyanya lembut.
"Halo La.....,sory tadi banyak kerjaan, tidak sempat angkat telepon." kataku.
"Kami sampai pagi menjelang siang di sini. Begitu nyampe langsung kerja, jadi lupa ngabarin. " kataku lagi menjelaskan.
"Ga apa apa bang, yang penting sehat dan selamat sampai di sana. " katanya penuh pengertian.
Kemudian kami saling bertanya kabar dan berbincang banyak hal. Setiap cerita semakin mendekatkan kami, seperti tidak ada jarak, seperti tanpa rahasia. Seperti sepasang kekasih, hanya saja belum ada ikatan. Aku jadi terfikir ingin meresmikan hubungan ini, menyatakan cintaku secara jelas dan meyakinkan memintanya menjadi kekasihku.
Kesibukan pekerjaan membuat aku dan Hans melewati 1 minggu dengan cepat.
"Kayaknya bisa selesai lebih cepat ini Bim." Hans yang lebih faham detail pekerjaan, memberi prediksi
"Oh iya.....,bisa kejar berapa hari lagi ?"
"Paling 4 atau 5 hari selesai ini. Kamu siapkan aja berkas kontraknya, biar aku sama tukang yang selesaikan proyeknya."
Aku menyimak perkataan Hans. Sambil aku merapikan sisa kerjaan dan segera menyelesaikan kerjaan yang lain.
Hari ini aku dan Hans bisa istirahat sebentar sehabis makan siang. Tukang lain melanjutkan pengerjaan. Hans memilih tidur siang di atas karpet yang di atas meja. Sementara aku menghubungi Lina, mendiskusikan sesuatu.
"Hai juga, kabar baik aku. Ini habis makan siang, mau lanjutin jahitanku lagi. Kenapa ?"
"Oh iya ya...., bisa ngobrol bentar kan ?" Kataku sambil membenarkan dudukku di kursi darurat tak jauh dari tempat proyek.
"Bisa bisa....,apa itu ?"Lina menjawab antusias. Aku mulai nyaman berdiskusi tentang Marla pada Lina. Belakangan aku sering bertanya tentang Marla padanya. Meski Lina sering mengingatkanku juga tentang Desy. Bagaimanapun keduanya bersahabat dekat dengannya.
"Lin......,apa kabar Marla ?"
"Ya ampun Bim, kan bisa tanya langsung ke orangnya, masak tanya aku ?"
"Iya....., udah nanya sih.....
"Lah terus......?"
"Maksudnya dia ada cerita tentang aku ga sama kamu ?"
"Oh...., adalah pasti. Minggu lalu dia nginap di sini, kita banyak ngobrol tentang kamu, dia tanya tanya tentang kamu juga."
" Ah masak sih ?"
"Iya beneran, dia bilang suka sama kamu Bim."
Mendengar itu hatiku bersorak bahagia. Sudah sejak lama aku mencari informasi tentang Marla dari Lina. Belakangan ini pertemanan mereka mulai membaik lagi, yang sebelumnya pernah renggang karena kekacauan Desy waktu itu. Marla sudah sering main dan curhat ke Lina lagi.
"Halo Bim....., masih dengar suaraku "
"Oh. Halo Lin, iya denhar kok." Untuk sesaat aku sempat melamun ternyata.
Masih kudengarkan Lina berbicara, menceritakan tentang Marla dan curhatan perasaannya.
"Lin..., kalau aku nembak dia, mau ga dia jadi pacarku ya Lin ?" Aku bertanya langsung setelah Lina selesai cerita.
"Kalo itu aku harus tanyakan langsung ke orangnya Bim. Sabarlah kamu. Besok dia mau nginep di sini. Nanti aku tanya deh. " Jelas Lina padaku.
"Jangan bilang kalau aku mau nembak dia Lin."
"Ya iyalah bosss, aku ga mungkin bilanglah. Yang gitu gitu aku ga usah diajarin. " Lina membela diri.
Kemudian kami mendiskusikan hal ini dan itu, sebelum menutup telepon.
______________________
Malam ini pekerjaan lebih cepat selesai, masih banyak waktu luang untuk bersantai. Aku melihat Hans sedang bertelepon, sepertinya dengan pacarnya.
Aku memilih baringan dengan nyaman di atas sofa kamar tempat kami menginap. Mendial nomor Marla dan....
"Halo....," suara gadis yang kurindukan itupun terdengar
Hampir setiap malam, selesai kami mengerjakan proyek, aku ngobrol dengan Marla melalui telepon.
"Berapa lama lagi di sana ?" Tanya Marla dengan suara sendu.
"Sedikit lagi kerjaan di sini selesai." Kataku apa adanya. Aku tak bilang kalau kami akan pulang lebih cepat. Aku takut siapa tau ada halangan, kami batal pulang cepat, nanti Marla berharap.
Dari percakapan itu aku tau dia sedang libur, tapi tak pergi kemana mana. Pikirku, kalau saja aku ada di sana pastilah sudah aku ajak jalan dia. Tiba tiba aku merindukannya. Mungkinkah dia juga sedang merindukanku.
Seandainya saja Doraemon itu nyata, maka hal yang ingin kupinjam darinya adalah pintu kemana saja. Agar aku bisa pergi menemui Marla malam ini juga. Lalu kembali lagi besok kesini menyelesaikan proyek yang tertunda.
Namun sayangnya Doraemon itu tidak nyata. Hanya rindu dan cintaku yang nyata saat ini.
Ingin sekali aku mengatakan, "La, aku rindu sama kamu, " tapi kalimat itu hanya di dalam hati. Yang keluar malah kalimat ,"selamat malam, bye," lalu telepon ditutup.
Kupandang bulan yang hanya separuh, menggantung indah dikelilingi bintang bintang. Seperti ornamen natal yang digantungkan di sana, menghiasai langit malam.
Apakah Marla sedang memandang bulan yang sama di sana ?
"La......,aku rindu kamu. Tunggu aku pulang."
Kusampaikan kalimat itu pada bulan. Berdoa didalam hati, semoga rindu yang sama Marla juga rasakan.