MARLA

MARLA
Cinta Untuk Marla 1



BIMA


Minggu ini aku dan Hans abangku cukup sibuk. Mengurusi persiapan untuk proyek di kota S. Bersyukurnya bisa dapat kontrak pekerjaan di sana.


"Selesai kontrak ini aku mau melamar Dian." Kata Hans curhat. Gimana menurutmu ?"


"Bagus itu. Sudah bisalah kalian serius. Aku dukung. " Kataku memberi semangat.


"Kamu sama Marla gimana ?" Tanyanya mengagetkanku.


Ditanya mendadak begitu aku kaget.


"Aku? Sama Marla ?"


"Iyalah........,sama Marla. Apa ada yang lain lagi rupanya ?" tanya Hans memastikan.


"Oh... ,enggaklah. Cuman Marla untuk sekarang."Kataku meyakinkan.


"Desy gimana ?"


"Sama Desy tak ada perasaan apa apa lagi " Jawabku apa adanya.


"Hati hati dengan perasaan perempuan. Nanti kamu yang tersakiti. Kalau dengan Desy sudah selesai, jangan kasi perhatian lagi. "kata Hans mengingatkan.


"Aku tidak ada perhatian apa apa lagi dengan Desy." Kataku menjelaskan.


"Kemarin itu kenapa ada Desy di tempat kita kumpul kumpul ? "


"Aku juga ga tau, tapi kemarin Lexi sudah jelaskan, katanya Desy sendiri yang mau datang. "


"Kamu udah cerita belum ke mereka ?"


"Tentang ?"


"Tentang kamu dan Desy dan Marla ?"


"Kemarin itu belum. Tapi setelah kejadian itu aku langsung cerita. "


Hans hanya menggangguk, lalu pergi meninggalkan rumah dengan sepeda motornya. Ada alat merakit yang perlu dibelinya.


Aku kembali membereskan barang barang yang sudah selesai dirakit. Minggu depan kami harus berangkat, semoga semua bisa selesai dirakit minggu ini.


Aku duduk sebentar setelah menyusun hampir semua alat untuk Laboratorium Bahasa nanti.


Menghubungi nomor Marla.


"Halo bang ." Suara Marla terdengar ceria dan ramah.


"Hei......,semoga ga mengganggu ya.....


Kataku memastikan.


"Oh....,enggak bang. Hari ini aku off."


"Oh gitu......,cuman mau bilang, nanti malam aku jemput kamu ya, jam 6 udah sampai sana."


"Oh, ok bang. Jam 6 sore ya."


Aku mengakhiri panggilan telepon dengan senyum sumringah. Bergegas membereskan barang barang proyek lainnya.


_____________


Sebelum menjemput Marla aku singgah di toko kado searah jalan menuju kesana. Sesampai di toko kado , aku mencari cari sesuatu. Dan mataku menemukan satu boneka kecil yang menarik.


Aku senyum sambil mengambil boneka itu. Membayangkan Marla akan bahagia menerima hadiah itu.


Aku segera ke kasir, membayar benda itu dan meminta dibungkuskan sebagai kado.


Kali ini aku menjemput Marla seorang diri, tanpa Lexi dan Join. Sudah janjian akan ketemu di lokasi.


Sepanjang jalan hatiku bersenandung lagu cinta. Mengemudikan sepeda motorku penuh perhatian.


Tiba tiba satu sepeda motor menyambar sisi kiriku dengan cepat dan mendadak. Aku hilang keseimbangan dan terjatuh. Tanpa bisa kuhindari, 3 sepeda motor di belakangku menggilas tubuhku beruntun. Lalu aku tidak tau apa lagi yang terjadi. Sampai terbangun, ternyata aku sudah ada di IGD rumah sakit.


"Bima....,Bim......,Bima....."Suara yang memanggilku terdengar sangat jauh sekali.


"Bima........."Tiba tiba suaranya terdengar jelas dan dekat.


Spontan aku membuka mata seperti terkejut. Melihat ke arah suara, dan mengenali wajah Hans di sisi kananku.


"Duhhh.....,"Begitu tersadar aku merasakan sakit di sekujur tubuhku.


Lalu aku melihat bayangan samar mendekat dan menyapaku.


"Pak Bima.....,bisa dengar saya dengan jelas ?"


Seorang perawat datang ke arahku. Sepertinya memeriksa keadaanku kembali.


"Pak Bima, bisa lihat ke arah jari saya ?"


Aku mengikuti arah jari perawat itu ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, mendekat dan menjauh di depan wajahku.


"Pak Bima, bisa sebutkan berapa jumlah jari saya."


Kembali kuikuti gerakan tangannya dan menyebutkan berapa jumlah jari di tangannya.


Setelahnya ada beberapa pemeriksaan lagi yang di lakukan oleh perawat tadi.


Lalu kembali aku ditarik rasa kantuk dan tertidur.


Rasanya ngantukku sangat berat, tidak bisa kutahan dan tak bisa kulawan.


Beberapa waktu kemudian aku terbangun lagi namun dengan mata masih terpejam, rasanya kelopak mataku berat untuk kubuka. Aku bisa mendengar banyak suara dari tempatku berbaring,aku mendengar suara sirene ambulans yang mendekat, lalu langkah langkah orang bercampur dengan suara roda yang bergegas. Suara suara perintah dengan kata kata medis yang tidak kupahami. Kupaksa mataku terbuka, penasaran dengan keadaan yang sedang terjadi. Tapi ada gorden di sekelilingku yang menghalangi pandanganku.


Setelah membuka mata, aku memandang ke sekelilingku yang tersekat gorden . Terpasang alat alat rumah sakit di badanku. Lalu penciumanku menangkap aroma pembersih lantai rumah sakit yang sangat khas. Aku familiar dengan aroma ini karena dulu sering opname karena sakit. Ruangan aku dirawat dulu selalu dibersihkan dengan cairan yang beraroma seperti ini.


"Halo bang Bima. "Sosok yang kukenal masuk kedalam gorden yang menutupiku. Berpakaian biasa dan melukiskan senyum ramah di wajahnya.


"Hai La......,kenapa ada si sini ?"Tanyaku ingin tau.


Abangku Hans menyusul masuk di belakangnya dan menjawab pertanyaanku.


"Marla yang bawa kamu ke sini. Tadi dia langsung telepon aku, suruh ketemu disini. Marla kerja di sini ternyata." Kata Hans menjelaskan. Hans pastilah baru tau.


"Udah gimana perasaannya bang ?" Marla bertanya lagi.


"Ahhh......,entahlah. Pusing. Sakit. Nyeri. Semualah La......., ga tau lagi gimana menjelaskannya." Kataku pelan.


Dia hanya tersenyum dan menepuk punggung tanganku lembut, seolah menenangkan.


"Sebentar lagi masuk ruangan. Aku akan tunggui sampai masuk ruangan ya bang." Katanya kemudian.


"Thanks ya La....,aku ga tau lagi mau gimana seandainya ga ada kamu tadi. Udah pasti kebingungan aku. " Kata Hans tulus.


"Nanti pulang naik taxi aja La, ini sudah malam soalnya. Ongkosnya nanti aku aja yang bayar." Kata Hans melanjutkan.


"Ah.....,ga usah bang. Aman itu. Biasanya kalau aku dinas sore pulangnya malam juga kok. Udah biasa bang. Sampe kenal sama sopir angkotnya." Katanya sambil tertawa kecil.


"Bang Bima. Kita antar ke ruangan sekarang ya." Seorang perawat datang dan mempersiapkan aku masuk ruangan.


"Kamu ikut antar ke ruangan La ?" Perawat itu bertanya ke Marla. Pastinya mereka kenal.


"Iya kak. "Marla menjawab.


Aku didorong menuju ruang rawat. Setelah tiba di ruang rawat, beberapa perawat diruangan menyambut dan mempersiapkan aku di dalam ruangan.


"Keluarga ya La ?" Perawat yang diruangan bertanya.


"Teman saya kak Bet. "Marla menjelaskan.


"Ohhhhh...."


"Kak Bet, besok aku gantikan kk masuk pagi, bisa kak ? " Marla bertanya. "Tapi kakak gantikan aku dinas pagi di hari lain." Katanya melanjutkan. Aku baru tau kalau ini ruang rawat tempat Marla bekerja.


"Oh iya.....,bisa dong La.....,aku memang butuh digantikan besok, udah capek aku cari orang ganti, tapi ga ada yang bisa. "Elisabet tampak legah dengan negosiasi itu. "Jadi kamu mau kapan ku gantikan ? " tanya Elisabet kemudian.


"Nanti aja kak kalau aku ada perlu."


Setelah teman Marla itu selesai memberikan terapi dan perawatan, dia keluar dari ruangan. Marla masih disana menjelaskan keadaan Bima kepada Hans.


"Tadi hasil Scaning kepala bagus kok bang, tidak ada yang mengkhawatirkan. Hanya hasil rontgen kelihatan ada retak tulang di kaki dan lengan. Mungkin karena itu tadi sempat shock waktu dibawa ke sini. Tapi bagaimana kesimpulannya, biar lebih jelas besok kita dengar dari dokternya ya bang. Besok aku masuk pagi kok bang. Ada apa apa telepon aja ya bang." Marla mencoba menenangkan Hans abangku.


"Bang Bima, aku pamit pulang ya." Katanya ke arahku sambil menyentuh lenganku pelan. Aku hanya menjawab dengan anggukan. Seperti tak berdaya menyampaikan kalimat.


"Aku permisi pulang ya bang, sampai ketemu besok. " Pamitnya pada Hans abangku.


Besok paginya, aku bertanya ke Hans kronologis kejadianku.


"Gimana ceritanya, kenapa aku bisa ada si sini ?"


Hans kemudian duduk di sofa tempat dia tadi berbaring dan mulai menjelaskan.


"Tiba tiba aku terima telepon dari Marla, katanya kamu kecelakaan. Pas aku lagi merakit papan master untuk laboratorium bahasa di rumah. Marla bilang sedang dalam perjalanan membawa kamu ke rumah sakit. Terus dia pandu aku, untuk bawa apa apa aja yang perlu. Cepat cepat aku berkemas dan berangkat ke Rumah Sakit ini. Untungnya Marla udah jamini duluan, jadi kamu langsung di tangani." Hans menjelaskan.


"Kok bisa Marla tau aku kecelakaan ?"


"Oh....,itu pas kamu jatuh, orang orang pada tolongin. Jadi hp kamu diambil, terus mereka menghubungi no terakhir yg kamu hubungi. Tersambunglah ke Marla. Karena daerah kamu kecelakaan ga terlalu jauh dari kost-an nya, dia bisa sampai dengan cepat. Memastikan motor dan barang2 kamu aman. Langsunglah bawa kamu ke sini naik taxi."


Mendengar semua cerita Hans, aku benar benar bersyukur dan berterimakasih pada Marla. Tuhan itu sangat baik mempertemukan kami. Satu sisi aku terharu, di sisis lain aku sedih. Terharu karena bisa selamat dari kejadian naas itu dan sedih karena tidak bisa menepati janji makan malam dengan Marla. Yang seharusnya aku yang melindungi dia, tapi di keadaan sekarang dia malah jadi pahlawan untuk hidupku.


Kejadian kali ini benar benar semakin menguatkan perasaanku pada Marla. Gadis luar biasa yang tulus. Ingin rasanya memberikan segalanya untuk dia. Sulit kujelaskan perasaan apa yang kurasakan sekarang. Terharukah aku ? Jatuh cintakah ? Atau bersyukur ? Entahlah. Sulit menjelaskannya.


Namun perasaan yang campur aduk itu mendorongku ingin segera sembuh, segera pulih. Mempersiapkan segala sesuatunya dan meminta Marla menjadi kekasihku. Ingin segera meresmikan perasaanku dan memperjelas status kami. Seperti berdoa di dalam hati, aku berharap Tuhan menjawab doaku.