MARLA

MARLA
Sesal Tiada Arti



BIMA


Pekerjaan kali ini selesai lebih cepat dari perkiraan.


"Besok sudah bisa pulang kita Bim. Ini tinggal merapikan saja. Kalau sudah selesai langsung uji coba. Besok simulasi sampai sore, malam kita


berangkat pulang. "Hans menjelaskan detil kerjaan.


"Berarti besok sudah bisa pelunasan proyek ?"Hans mengangguk.


"Simulasi mau jam berapa ?"


"Tergantung pihak mereka. Operatornya jam berapa bisa hadir. Usahakan pagilah, jadi kalau ada yang mereka belum faham atau mau ditanya tanya bisa banyak waktu ngajarin mereka mengoperasikannya. "


"Ok."


Begitu Hans bilang kerjaan akan selesai, otakku langsung memetakan tugasku. Hari ini dan sampai besok, di kepalaku sudah terderet list apa saja yang harus kukerjakan.


Termasuk apa saja yang akan kulakukan begitu sudah sampai di kotaku, kota M. Bukan tanpa alasan aku bilang begitu, karena memang aku lahir dan dibesarkan di kota itu. Sampai hari ini belum pernah berpindah kota.


Siangnya aku berjalan kaki ke depan sekolah tempat kami mengerjakan proyek, mencari tempat fotocopy sekaligus printing. Ya..., aku mau menyiapkan berkas laporan proyek yang kami kerjakan untuk diserahkan ke pihak sekolah besok.


Karena sudah ada file nya , jadi aku tinggal memasukkan saja data data yang perlu, dan mulai memprint. Tak sampai satu jam berkasku untuk besok serah terima dengan pihak sekolahpun selesai.


Aku lalu mendial no Lina.


"Tuuut...,tuuut...,klik.., halo..." Lina mejawab.


"Hai Lin..,kami jadinya pulang lebih cepat."


"Oh iya....,jadi gimana ?"


"Rencananya Rabu malam kami berangkat pulang, jadi Kamis pagi sudah sampai di sana. Bantu atur Kamis malam atau Jumat malam, bisa ?"


"Ooo gitu, nanti coba aku tanya tanya Marla dulu ya. Kalo Marla bisa aku baru bantu set acaranya. Gimana ?"


"Ok ok....,mantap."


Aku dan Lina sudah membahas ini jauh hari, rencana aku menyatakan cinta pada Marla. Aku ingin melakukannya dengan cara yang special, yang akan menjadi ingatan indah buat kami berdua.


Sangat berterimakasih pada Lina, dia memang sahabat yang luar biasa. Entahlah, aku dan Lina mudah berteman, meski sebelumnya tidak dekat. Mungkin karena karakter kami yang sama membuat kami gampang jadi teman.


Saat aku kembali ke lokasi proyek, kulihat Hans dan tukang sedang kebersihan dan merapikan ruangan laboratorium bahasa yang kami buat.


"Wah......,udah rapi ya." Kataku begitu masuk ke ruangan itu.


"Tinggal uji coba ini. " Hans berkata sambil melangkah ke sampingku. Kami lalu berdiri berdampingan menatap keseluruh ruangan itu. Ada perasaan bangga dan puas tergambar di sana, melihat hasil kerja kami sekian hari di sini.


Aku bangga dengan abangku Hans, meski belum pernah secara langsung ku sampaikan. Tak hanya pekerja keras tapi juga dia sangat kreatif dan punya skill. Dunianya adalah tentang elektro, gatget dan sejenisnya. Tak perduli sesulit dan semahal apa dia harus belajar, kemanapun dan kepada siapapun dia harus belajar tetap akan dicarinya. Kesukaannya belajar membuat ilmu dan keterampilannya selalu berkembang. Hingga hari ini, keahliannya itu menjadi mata pencaharian kami.


Aku yang hanya mahir berjualan, bernegosiasi dan melobi orang menjadi pasangan yang tepat dengan abangku dalam memulai usaha ini. Meski tak selalu ada proyek, namun hasil dari 1 proyek mampu menghidupi kami beberapa bulan ke depan.


Sore ini sembari mereka uji coba, sambil juga Hans menyempurnakan rakitannya itu. Rakitan yang kami berikan logo kami sendiri dan sudah di gunakan di beberapa tempat.


"Gimana ?"


"Udah....,udah beres. Tinggal merapikan kabel kabel saja, biar orang ga terganggu saat lewat. Dimata juga enak dilihat kalau rapi." Kata Hans menjelaskan.


Malamnya Lina chat aku, mangatakan kalau Marla bisa hari Jumat malam.


Aku hanya sempat membaca, karena kami sedang mengemas barang2 yang akan dibawa pulang sekaligus memeriksa kembali kesiapan proyek kami untuk simulasi besok. Baru bisa aku balas beberapa jam kemudian.


"Ok Lin, thanks sudah bantu memastikan." pesan kukirim


"Tentang rencana acaranya buat hari Jumat malam ya Lin. Minta tolong bantu siapin tempatnya sekalian. Nanti biayanya aku yang urus." pesanku lagi


"Ok..,ada lagi yang perlu di pastikan ?"


Text Lina.


"Oh iya, bisa pesankan bunga sekalian ga ya Lin ? Terserah deh yang gimana aja juga ok, yang penting bagus dan Marla suka. "


"Siiiip ,nanti aku siapkan."


"Mau ajak siapa aja ?"


"Teman teman dekat aja Lin, tapi jangan ada


Desy ya ."


"Gitu ya....,kenapa ? Takut kayak kemarin lagi ya ?"


"Ga nyaman aja kalau ada dia nanti."


Singkatnya, rencanapun ter-prepare dengan baik. Tinggal eksekusi.


_________________


Pagi ini proses serah terima pun kupersiapkan dengan baik. Sementara Hans sibuk dengan simulasi guru bahasa yg akan mengoperasikan laboratorium itu.


Bersyukurnya semua berjalan dengan baik dan lancar. Tukang yang membantu pekerjaan kami, sudah pulang duluan pagi tadi. Beberapa barang proyekpun kami titip mereka bawa pulang, biar nanti ditinggal di penitipan barang di stasiun bus setelah samoai dikota M.


Simulasi juga tidak selama yang kami perkirakan. Bisa selesai lebih cepat. Bahkan siangnya sudah bisa langsung mereka gunakan dan operasikan sendiri.


Kami bisa pulang sedikit lebih santai, karena tiket bus, baru akan berangkat nanti malam. Setelah mengepak barang barang, sorenya kami menuju stasiun bus menuju pulang. Ada beberapa jam lagi kami menunggu bus, aku dan Hans memilih tiduran di kursi tunggu yang panjang disitu. Karena kebetulan masih sepi, jadi bisa istirahat dengan tenang beberapa jam.


Jam keberangkatanpun tiba, kami hanya tinggal membawa barang tentengan sediri masuk ke dalam bus dan duduk di kursi sesuai tiket. Sepanjang jalan aku dan Hans tertidur sampai paginya tiba di kota tempat tinggal kami, kota M.


Aku lalu mengirim pesan


"Lin kami sudah tiba di sini, gimana persiapan untuk jumat malam ?" Pesan terkirim. Lalu terlihat tanda bahwa pesan sudah dibaca.


"Apa lagi yang perlu di pastikan kira kira Lin ? Berharap semua bisa berjalan sebaik mungkin. Baru kali ini aku mau nembak cewek. Agak deg deg an aku, ha ha ha." Pesan kukirim lagi. Masih hanya dibaca, tapi belum dibalas. Pikirku, mungkin Lina sedang sibuk.


Yang tidak kuketahui adalah, pesanku di ponsel Lina ternyata Desy yang baca. Desy sedang ada di rumah Lina, hari ini dia singgah karena akan ambil jahitan bajunya yang ditempah sama Lina.


Saat pesan Bima masuk, Lina sedang di dalam kamar kerjanya membongkar box pakaian jahitannya. Berhubung bakal Desy itu sudah lama ditempah namun belum diambil2 ,Lina mengingat ingat lagi kira kira si box mana dia simpan itu baju. Cukup lama juga dia membongkar beberapa box sampai akhirnya baju itu ditemukan.


Sementara ponsel Lina yang tertinggal di ruang tamu terletak tak jauh dari Desy. Pesan masuk itu menarik perhatiannya, karena nama Bima beberapa kali mengirim pesan tak biasa. Desy dengan penasaran lalu membuka pesan itu, dan membaca semua isi chat mulai dari awal. Jantungnya langsung berdegub kencang, seperti tak percaya dengan isi chat yang barusan dia baca. Dan perasaannya semakin tak karuan ketika menyadari bahwa Lina merahasiakan semua ini darinya.


Dengan tubuh gemetar, Desy langsung berhambur ke mobilnya. Menghidupkan mobil dan pergi secepat mungkin. Mulutnya tak bisa berkata apa apa, jantungnya masih berdegup sangat keras. Namun sekarang ini, ada selusup perih diantara degupan itu. Desy menangis tanpa suara. Air matanya berurai deras membasahi hingga pakaiannya. Sesekali dia menghapus air mata itu dengan punggung tangannya, karena menghalangi pandangan matanya.


"Udah kelamaan baju ini........," Lina mendadak berhenti bicara. "Des....,Desy.....,"Lina menjenguk ke arah teras, berfikir mungkin Desy ada di sana. Tapi tak menemukan dia di sana. Ketika Lina melihat mobil Desy sudah tak lagi terparkir di depan rumah, dia lalu menyimpulkan bahwa Desy sudah pergi. Mungkin ada urusan mendadak, pikirnya lalu masuk kerumah dan menyimpan kembali baju yang tadi dia bongkar. Ini bukan pertama kalinya Desy pergi mendadak tanpa pamit. Lina menganggap itu biasa saja.


Tiba di rumah Desy segera masuk ke kamar dan mengunci diri. Menghempaskan tubuhnya di ranjang kamar yang cukup luas itu. Hatinya benar benar hancur. Bukan hanya karena Bima, tapi juga kecewa dengan sikap Lina. Desy seperti kehilangan 2 sosok berharga dalam hidupnya.


Perasaan sesal mulai muncul dalam hatinya. Mulai berandai andai dalam fikirannya. Seandainya dia mau membuka hati waktu itu, Seandainya dia bisa menjaga sikap, tidak searogan ini. Seandainya dia bisa jujur dengan perasaannya, bahwa diapun mencintai Bima. Seandainya.........,ahhhh.....,entahlah. Sekarang semua benar benar sudah terlambat. Bima sudah menghapusku dari hatinya. Begitu Desy bergumam di dalam diri.