MARLA

MARLA
Satu Hari Dengan MARLA



BIMA


Sore itu aku sudah bersiap menjemput Marla di rumah pasien tempat dia jaga. Hanya tinggal mengambil kunci motor dan helm extra untuk nanti Marla pakai, lalu berangkat. Aku sengaja pergi lebih cepat agar Marla tak perlu menunggu saat tugasnya sudah selesai. Begitu dia keluar, sudah ada aku menunggu disana. Itu rencanaku.


Dan pesan itupun masuk. Pesan dari Marla. Cepat aku membuka ponselku dan membacanya.


"Bang sory ya, sepertinya sore ini aku tidak bisa pergi. Teman dinasku yang harusnya masuk sore ini, ga bisa datang, jadi aku gantikan dia jaga sampai besok pagi. Sekali lagi sory ya bang. "


Aku terdiam setelah membaca pesan itu. Menggaruk kepalaku yang tak gatal, meletakkan helm dan kunci sepeda motor ke tempatnya semula. Duduk menekur di kursi makan merangkap kursi untuk tamu itu. Mencoba menetralkan rasa kecewa di hati. Berusaha membangun fikiran positif sebelum aku membalas pesan itu.


"Begitu ya....,ok deh, ga apa apa. Lain kali kita atur waktu lagi ya." pesanku membalas.


Setelah aku membalas pesan tadi, kubuka sepatuku dan menaruhnya asal saja. Hilang sudah semangatku .


Aku lalu berganti pakaian dan rebah di tempat tidurku. Memilih untuk tidur daripada harus pergi hang out dengan teman teman yang seharusnya pergi bersama dengan Marla. Aku sudah kehilangan minat.


Tak lama Hans pulang, sehabis mengantar pacarnya ke stasiun bus jurusan ke kampungnya.


"Lah....,kok leyeh leyeh ?" (maksudnya kenapa santai santai)


Aku hanya menoleh sebentar dan kembali menutup mata dengan sisi tanganku diatas kepala. Memilih diam seribu kata.


"Woi....,"Hans menepuk sisi kiri pundakku.


"Apa sih ?" Aku yang kaget, lalu menjawab dengan nada kurang senang.


"Bukannya kamu bilang mau pergi hangout ngajak Marla ? Tadi aku ditelepon sama Lexi, nanya kok ponselmu ga diangkat."


"Ga jadi pergi aku, Marla batalin janji."kataku tanpa semangat.


"Lah....,kenapa lagi ?" Hans berfikir kami ada salah faham lagi.


"Teman dinasnya ga datang, jadinya dia harus gantikan sampai besok pagi. "jelasku


"Ohhh.....,ya ga apa apa lah. Biasa aja itu sih. Besok kan masih bisa ketemu." kata Hans santai.


"Besok kita kan harus berangkat keluar kota." Aku mengingatkan.


"Oh iya ya....,waduh, kok bisa lupa aku." Hans lalu teringat.


"Jadi gimana ? Kita lumayan lama lo di sana." Tanya Hans.


"Besok aku lewatkan dari depan tempat kerjanya saja. Siapa tau bisa ketemu sebelum berangkat ibadah." Kataku kemudian.


Hans mengangguk angguk dan masuk bergerak ke kamar mandi.


_________________


 


Masih sangat pagi saat aku bangun dan beres beres. Aku kemas barang barang yang akan kami bawa nanti malam. Berhubung kami akan berangkat dengan bis besar dan memakan waktu perjalanan 8-10 jam jadi barang perlengkapan yg kami bawa cukup banyak. Apalagi kami akan lama di sana.


Setelah itu aku bersiap siap untuk ibadah pagi. Selesai mandi dan berkemas aku berangkat. Meninggalkan Hans yg masih tidur, katanya dia akan ibadah sore saja.


Aku sengaja berangkat ibadah lewat jalan tempat Marla kerja, berharap bisa bertemu dia. Aku sengaja parkir tak jauh dari tempat dia merawat pasien, berhubung tak bisa parkir di depan tempat kerjanya.


Tak lama kemudian Marla muncul, persis seperti perkiraanku. Kunyalakan sepeda motor dan melaju mendekat.


"Bang Bima ?!!!" Marla kaget melihatku.


Aku tersenyum lebar dan berhenti tepat di depannya.


Tak disangka ternyata dia akan pergi ibadah pagi juga.


"Sudah sarapan ?" Tanyaku sambil memberikan helm untuk dia kenakan.


"Belum."Katanya menggeleng.


"Kita sarapan dulu ya, "ajakku. Sambil melirik jam di lenganku. Masih banyak waktu sebelum ibadah.


"Boleh."


"Apa aja."Katanya sambil naik ke boncengan.


"Ada sarapan lontong yg enak dekat sini La, mau kesana ?"


"Boleh."


Kami lalu melaju ke tempat yang aku maksud.


Tiba disana ternyata lumayan ramai. Aku celingak celinguk mencari tempat duduk untuk 2 orang. Ternyata ada 2 bangku kosong berhadapan di dekat jendela. Aku bergegas kesana sebelum keburu diduduki orang. Marla menyusulku duduk di sana.


"Mau makan apa, bang , kak ?" Tanya mbak pelayannya.


Masing masing kami menyebutkan pesanan. Lalu mengobrol sambil menunggu pesanan datang.


"Aku baru tau daerah sini ada sarapan selengkap ini." Kata Marla.


"Aku juga taunya dari abangku Hans."


"Bang Hans hobi kuliner kayaknya ya ?"


"Oh iya....,dia suka survey tempat makan yang enak. Mulai dari yang murah sampai yang mahal mahal."


Tak lama pesanan kami datang. Kami menikmati sarapan itu sembari bercerita.


Aku bisa bilang, sarapanku kali ini adalah yang terenak yang pernah aku makan. Sarapan dengan seseorang yang kita cinta benar benar beda rasanya. Berharap Marla merasakan hal yang sama. Betapa sangat ingin nya aku menyatakan perasaanku saat ini juga dihadapannya. Entahlah.....,setiap berada di dekatnya aku selalu terbawa suasana.


Kudengarkan dengan seksama setiap cerita yang keluar dari bibirnya. Seakan itu suara merdu yang selalu kurindukan setiap hari. Tidak mudah bagiku meski sekedar bertemu dengannya, mendengar suaranya. Dan kali ini bisa jalan berdua dengannya adalah sebuah keberuntungan.


Kami berangkat ibadah pagi bersama, setelah usai sarapan. Aku membantunya dengan barang bawaan yg selalu banyak setiap dia habis jaga di tempat pasien pribadi.


Rasanya ingin sekali melindungi gadis ini, meringankan bebannya, menciptakan senyum diwajahnya, membuat hari harinya selalu ceria. Seperti saat ini, aku menuntun nya ke kursi kosong di tempat yang terbaik. Kami duduk bersampingan dan dapat mengikuti ibadah dengan nyaman karena bisa melihat seluruh bagian mimbar ibadah dari tempat kami duduk.


Sesekali aku melirik ke arahnya, memastikan kalau dia duduk dengan nyaman di sampingku. Ini kali kedua kami duduk bersama saat ibadah. Aku berharap sambil berdoa di dalam hati semoga ini bisa terulang lagi.


"Masuk dinas jam berapa hari ini ?" Tanyaku seusai ibadah.


"Masuk sore jam 14.30 ngabsen bang."


"Aku antar aja nanti ya." kataku menawarkan diri


"Aduh ga usahlah bang, aku mau ke kost dulu ambil baju ganti."


" Ga apa apa , aku bisa antar kok." Kataku tak keberatan.


"Aku jadi ga enak ini, mengganggu kegiatan abang seharian."


"Sedang tak ada kegiatan juga kok." kataku memberi alasan.


Sebenarnya, justru aku memang ingin menghabiskan hari bersama Marla. Sayangnya dia akan masuk sore, dan malam aku harus berangkat keluar kota. Seandainya bisa kutunda kepergianku. Tapi kontrak kerja sudah dibuat. Mau tak mau aku harus berangkat.


Aku menemaninya menjemput baju dinas kerjanya ke kost-an lalu makan siang bersamanya dan mengantarnya pergi kerja.


Sesampai di di depan rumah sakit tempat dia kerja, rasanya sangat berat harus berpisah.


"Nanti aku ga bisa jemput kamu pulang kerja. Aku dan Hans akan berangkat keluar kota nanti malam." kataku saat dia turun dari boncengan.


"Ga apa apa bang, udah biasa kok pulang sendiri." Katanya bercanda.


Tapi kalimat itu justru membuat aku semakin tak rela membiarkannya pulang sendiri.


"Aku dan Hans akan cukup lama di sana, sekitar 2 minggu," kataku melanjutkan.


Dia tak menjawab, hanya terdiam dan menghindari tatapanku.


Untuk sesaat kami hanya saling terdiam. Dalam diam itu, aku perhatikan wajahnya yang tertunduk. Ada gurat sedih tersembunyi di sana. Melihat itu aku tak tau harus bagaimana. Ingin sekali rasanya kugenggam tangannya, menariknya kedalam dekapku dan menghiburnya. Mengatakan bahwa aku akan pulang secepatnya. Dan kembali menemani hari harinya. Atau berharap waktu berhenti sebentar, membiarkan kami saling memandang beberapa saat lagi. Memberikan kami kesempatan untuk mengakui perasaan di hati.


Tapi kemudian kata Marla, "aku harus absen sore bang, aku masuk dulu ya." katanya dan berlalu. Akupun tak ada pilihan selain melaju sepeda motorku pergi. Meski kemudian aku memutar balik lagi, kembali ke tempat tadi aku berhenti. Memandangi punggung Marla yang berlalu pergi, semakin menghilang kedalam lobi rumah sakit besar itu.