
Bima dan yang lainnya tiba di rumah Dina sudah sangat sore, dimana hari menjelang gelap. Memutuskan menginap di situ dulu malam ini, lalu akan berangkat ke rumah Marla besok pagi sehabis sarapan.
Kampung Dina dan Marla searah perjalanan, namun berjarak agak jauh dari kota M. Mengingat besok akan pergi ke rumah Marla, hati Bima dag dig dug tak tenang. Bagaimana nanti kalau bertemu keluarga Marla, bertemu orangtuanya. Sehabis makan malam, dia keluar dan memilih duduk bersantai di kursi teras rumah. Sambil mengenakan kain sarung yang diberikan mama Dian, menutupi tubuhnya dari udara dingin sampai ke leher . Cuacanya cukup dingin di sana, membuat badan mudah mengantuk, sehingga yang lain sudah berangkat tidur.
Tapi tidak dengan Bima, malam ini seolah Bima ingin mempersiapkan dirinya, bila besok akan bertemu keluarga Marla . Menyusun kalimat yang akan dia sampaikan . Terus berfikir dalam kesendiriannya, karena yang lain sudah terlelap dibalik selimut yang nyaman di ruang tengah rumah itu. Hanya Lina yang tidur di kamar bersama Dina dan adiknya. Ada dua kamar di rumah itu. Yang satunya kamar orangtua Dina dan yang satunya lagi kamar Dina dan adik perempuannya. Abangnya sudah menikah dan tinggal di kota lain. Kalau abangnya datang, biasanya untuk tidur, mereka akan menggelar tikar dan ambal tipis di ruang tenggah itu. Begitulah kebiasaan di kampung itu. Anak laki laki mulai mereka remaja jarang punya kamar sendiri.
Besok paginya skenario perjalanan berubah, Dina akan membawa Hans Lina dan Join jalan jalan melihat spot cantik di sekitar kampung terdekat . Jadilah Bima hanya akan diatar ke rumah Marla dan akan ditinggal di sana sendiri sementara mereka berkeliling. Entah kapan diskusi itu terjadi dan entah siapa yang punya ide. Intinya Bima hanya bisa setuju dengan ide tanpa tuan itu. Apalagi urusan Marla memang sejak awal adalah tanggung jawabnya.
Butuh satu jam lebih baru sampai ke rumah Marla. Bima dan yang lainnya turun sebentar, lalu masuk ke rumah Marla melewati warung di depan halaman rumahnya. Lina yang memang sudah pernah beberapa kali mampir mempimpin rombongan berjalan di depan memasuki rumah.
Hanya ada bapak dan adiknya di rumah, Marla dan ibunya pergi ke pasar mingguan di kecamatan. Mungkin akan pulang agak sore, karena sekalian mengunjungi bounya di sana. Lina yang memang sudah kenal dengan keluarga itu, segera disambut dengan ramah. Lalu Lina memperkenalkan teman temannya yang ikut datang. Seperti kebiasaan orang tua di daerah itu, pembicaraan tak jauh dari tarombo, adat dan lain lain.
Saat akan pergi , mereka merasa canggung meninggalkan Bima sendirian. Kasihan juga dia kalau ditinggal sementara belum kenal dengan keluarga Marla. Tapi Hans berpendapat berbeda.
"Udah....,ditinggal aja !"
Bima yang kaget dengan keputusan dadakan itu, melotot tak percaya. Seketika wajahnya berubah sendu dan memelas.
"Tulang, kami pergi dulu ya tulang." Hans menyambung kalimatnya tadi seolah tak perduli dengan wajah Bima yang memelas minta di temani.
"Eh, mau kemana rupanya kok cepat kali ?"
"Kami aja kok yang pergi tulang. Adekku Bima masih akan di sini, soalnya dia yang mau ketemu Marla."
"Oh......,gitu rupanya. Ya sudah, hati hatilah kalian ya."
"Ok tulang, makasih tulang." Mereka segera beranjak setelah berpamitan.
"Nanti sore kami jemput. Ok. " Join menepuk pundak Bima dan berlalu.
Tinggallah Bima yang merasa serba salah di hadapan ayahnya Marla.
"Orangtuanya tinggal dimana ?" Ayahnya Marla memulai pembicaraan.
"Saya sudah yatim piatu sejak kecil tulang."
"Oh iyanya ? Jadi kalian tinggal sama siapa selama ini ?"
"Tinggal dengan opung tulang."
"Wah...,luar biasa perjuangan kalian ya. Tulang juga yatim piatunya meskipun ga sejak kecil. Ga jauh beda cerita kita."
"Ini tambah lagi kopimu." Ayah Marla menuangkan kopi kedalam cangkir Bima yang hampir kosong. Beliau tak segan segan melayani, meski usianya jauh lebih tua dari Bima.
"Aduh....,biar aku aja tulang." Bima merasa tak enak hati.
"Ah...,ga apa apa."
Pria berkharisma ini mengingatkan Bima pada sosok Marla yang juga sangat sopan dan melayani. Persis sama seperti ayahnya yang duduk di hadapan Bima saat ini. Memang benar kata pepatah, kalau buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kebiasaan baik Marla pastilah dia dapat dari rumahnya.
Obrolan merekapun berjalan seru, dari satu topik pindah ke topik yang lain. Ayah Marla termasuk orangtua yang modern, berpikiran terbuka dan bertoleransi. Meski anaknya hanya dua dan perempuan semua, tak mengurangi semangatnya untuk menyekolahkan mereka setinggi tingginya, sesuai minat yang mereka mau. Tidak seperti kebanyakan orang Asia yang mengutamakan anak laki laki. Tak mau memaksakan kehendak pada kedua putrinya. Membiarkan mereka memilih jalan dan impiannya masing masing.
Meski hanya seorang petani biasa dan hanya lulusan sekolah menengah, Ayah Marla tidak menunjukkan begitu. Sebaliknya dia tau banyak hal, termasuk tentang teknologi.
"Anak tulang itu dua duanya perempuan, tapi tulang mau mereka berangkat dengan kepala tegak, menikah dengan terhormat, berpindidikan. Tulang ga minta banyak hal, yang penting mereka bahagia saja, itu sudah cukup."
Bima sedikit tersentak dengan pembahasan yang itu. To the point sekali beliau ini, begitu dalam pikirannya. Bima hanya mangangguk menyetujui perkataan itu.
"Maaf kalo tulang terlalu terus terang, tapi buat tulang ini penting. Bagaimanapun menjaga anak perempuan ga semudah kelihatannya. Mereka itu harga diri saya. Teringatnya, apa hubunganmu dengan Marla ?"
"Hah.....,oh...,aku...,mmmm.....,hanya berteman dengan Marla tulang." Dengan gagap Bima menjawab. Tak menyangka pertanyaan itu akan muncul.
"Oh....,masih berteman ? Belum berpacaran berarti ?" Ayah Marla merespon dengan santai, tak meletakkan beban dalam kalimatnya.
"Sebenarnya karena itu saya datang tulang. Saya suka sama anak tulang. Kalau saja dia mau jadi pacar saya. " Bima akhirnya berani berterus terang juga.
"Mmmmmm.........., tulang hargai keberanianmu. Tapi kalaupun Marla tak menerimamu, jangan berkecil hati ya. Jangan mendendam. Kadang kadang perasaan perempuan itu sulit dimengerti "
"Ah......,ga apa apa tulang, saya siap dengan apapun jawaban Marla. Yang penting saya sudah sampaikan niat saya dengan benar."
"Bagus....,jadi laki laki harus begitu. Jangan baperan ." Ayah Marla ngerti juga dengan istilah baperan.
Bima seperti menemukan teman ngobrol yang menyenangkan, mengayomi dan menginspirasi, ini seperti kerinduan akan sosok ayah yang tak pernah dirasakannya. Pria ini benar benar memperlakukannya dengan baik. Seperti Marla yang juga memperlakukannya dengan baik. Hal yang tak pernah dia dapatkan sejak kecil dari orang lain, bahkan dari keluarganya sendiri, karena dia yatim piatu. Kemudian selusup rindu seperti cengkeraman kuat di dada itupun muncul lagi, rindu pada Marla.
Bima menempuh perjalanan yang jauh, demi untuk menemui Marla. Cinta dalam hatinya, kekasih dalam impian masa depannya. Dia datang. Bima datang menjemput rindu itu.
*tulang (paman dalam bahasa batak)
*bou (saudara perempuan dari ayah)
*tarombo (silsilah dalam adat batak)