MARLA

MARLA
Cemburu Bukti Sayang



Menjelang sore obrolan Bima dan ayah Marla semakin seru saja. Togar ayah Marla seperti merasakan punya anak laki laki saat berbincang dengan Bima. Dia begitu menghargai dan sopan. Sikap Bima dalam mengejar Marla sampai ke sini mengingatkan kenangan Togar saat masih muda. Kala itu untuk bisa mendapatkan Rohulina mamanya Marla, Togarpun berjuang seperti Bima ini.


"Horas......," suara di pintu rumah membuat dua pria tadi menoleh serentak. Itu suara laki laki yang terdengar tegas dan berwibawa.


"Bah......,kau rupanya Binsar. Kapan kau datang bere." Togar menyambut riang laki laki yang bersama Marla itu.


Dibelakangnya menyusul Marla dan Rohulina ibunya.


"Eh..., ada tamu rupanya." Rohulina menyalami Bima.


"Bima, nantulang." Katanya memperkenalkan diri.


Marla yang masuk paling belakang terdiam begitu melihat Bima ada di situ. Kaget. Tak menyangka sosok itu ada di rumahnya. Mungkin itu kalimat yang tepat mendeskripsikan perasaannya.


"Hai La." Sapa Bima sebiasa mungkin. Terlihat kurang senang dengan perlakuan Binsar pada Marla. Sepertinya mereka sangat dekat, sampai laki laki itu menyentuh bahu Marla, ingin merangkulnya dari belakang.


Marla yang menyadari itu segera bergeser ke sebelah ibunya.


Bima bertanya tanya siapa Binsar ini sebenarnya ? Pastinya bukan abang Marla, karena setahu Bima Marla tak punya abang.


"Eh kenalkan sini." Togar inisiatif memperkenalkan.


"Ini Bima teman Marla dari kota M. " Bima senyum terpaksa, menyambut salaman laki laki itu dan menyebutkan namanya.


"Binsar bang, aku pariban Marla." Pria itu memperkenalkan dirinya. Sepertinya dia juga kurang senang dengan kehadiran Bima di sini merasa tersaingi mungkin.


"Oohhhh......,"Bima mengangguk faham. Lebel saingan segera dia sematkan disamping nama Binsar dalam memorinya.


Ayah Marla seperti menyadari kecanggungan itu.


"La...,ambilkan gelas untuk paribanmu ini dulu. Biar ngopi sama dulu kami."


"Oh ga usah tulang, aku langsung pulang aja. Mau beresin barang aku tulang. Besok harus sudah berangkat ke Sulawesi. "


"Bah.....,yang udah pindah laginya kau rupanya ?"


"Iya tulang, ginilah kalau jaksa." Binsar mempertegas profesinya dengan nada suara yang diperbesar, lalu memandang tak suka pada Bima. Seolah olah seperti mengatakan bahwa dia lebih pantas memiliki Marla.


"Oh iya ya....,ok lah. Hati hatilah di jalan ya."


"Ok tulang, Kuusahakan akhir tahun aku pulang. Ada hal serius yang aku mau bahas sama tulang dan nantulang. "


"Hal apa pula itu ?"


"Nantilah kita bahas tulang."


Binsar bergegas ke dapur menjumpai Marla.


Marla sudah muncul di ruang tamu sebelum disusul ke dapur.


"La aku pulang ya dek. Baik baik di sini ya, hati hati kalau berteman. " Sambil melitik ke arah Bima. Sekali lagi tangannya akan mengelus kepala Marla penuh sayang. Tapi keburu ditepis oleh Marla. Bima semakin tak senang melihatnya.


"Ditaaaa......., pulang abang ya dek."


Binsar berteriak berpamitan.


"Yooo." Dita adik Marla yang sedang ada di dapur pun menjawab dengan teriak juga.


"Pulang aku ya tulang, titip Marla ya tulang."


"Bah apa pulanya kau, si Marla kan memang anakku, ngapain pula kau yang titip. Terbalik bahasamu itu."


"Iya kalo mau si Marla, tapi kalo ga maunya dia, mana bisa kupaksa."


"Ah sudahlah......., ngapain bahas bahas itu sekarang. Ayok nantulang antar ke depan Binsar." Rohulina yang sedari tadi diam, aksi cepat menyadari situasi canggung itu. Segera dia menggandeng tangan Binsar dan menuntunnya keluar rumah. Sambil berbincang santai menuju mobil Binsar yang diparkir di dekat jalan.


"Aku pergi ngopilah dulu ke warung ya. Kalian ngobrol ngobrollah dulu." Togar memberi privasi buat mereka bicara. Rohulina juga sengaja ke halaman samping menampi beras. Sengaja tak ingin mengganggu pembicaraan mereka berdua.


Sepeninggal mereka, ruang tamu itu kembali hening.


"Bang Bima kapan datang ?"


Marla inisiatif memulai percakapan. Mengambil tempat duduk didepan Bima yang ditengahi meja tamu dari kayu berbentuk panjang.


"Tadi pagi."


Sesingkat itu Bima menjawab. Menunjukkan rasa ketidaksukaannya pada pemandangan barusan. Dia kehilangan kata kata akibat kejadian tadi. Kalimat yang telah dirangkainya dalam ingatan, sekejap buyar semuanya.


Ada rasa cemburu yang besar di hatinya.


"Kamu dan paribanmu keliatannya sangat dekat ya, kayak udah pacaran aja ?" Tanpa disadari kalimat satire itu meluncur cepat.


Wajah Marla berubah tak senang.


"Iya, kami sudah dekat sejak kecil." Merasa tersindir Marla sengaja tak menyangkal tuduhan itu. Kalimatnya barusan seperti menyiram minyak keatas api bagi Bima. Meski tadinya Marla berniat bicara baik baik, tapi ucapan pedas Bima membuatnya terpancing emosi.


Mendengar jawaban Marla itu, Bima semakin terbakar api cemburu.


"Tadinya aku sempat khawatir karena kamu tiba tiba menghilang La. Tapi sepertinya kamu baik baik saja. " Bima melampiaskan kecewanya.


"Kenapa harus khawatir, ga ada hubungangannya kan sama abang ? Ga penting juga." Balas Marla semakin sengit.


Dalam hatinya berharap Bima melunak, minta maaf padanya. Toh kejadian barusan bukan apa apa, begitu jelas Marla menghindarinya. Dibanding dengan yang terjadi kemarin antara Bima dan Desy, adegan mereka yang lalu itu bukan hal yang pantas dipertontonkan di depan matanya. Kalau saja Bima menyadari kesalahan itu. Seharusnya tak akan ada kalimat menyedihkan tadi keluar dari mulutnya.


Ucapan barusan bagai pedang menghujam hati Bima, lalu tersadar batasannya. Memang tidak ada hubungannya sama sekali. Toh Marla juga bukan kekasihnya yang pantas dia cemburui, mereka tak punya ikatan sepenting itu. Sebenarnya Marla lebih punya hak untuk cemburu pada Bima dan Desy ,kejadian kemarin itu pastilah sangat menyakiti Marla. Tapi siapa bilang Marla tidak penting. Justru karena dia sangat penting baginya makanya Bima datang sejauh ini. Tak berani membela diri lagi, Bima memilih diam. Berusaha menenangkan hatinya, mengajak logika otaknya bekerja. Menimbang nimbang kalimat yang tepat untuk diucapkan. Kalimat yang tepat untuk meredakan ketegangan suasana ini.


Sementara Marla berusaha menahan emosinya. Gemuruh amarah didada bergejolak ingin diluapkan. Bersiap siap merangkai kalimat perlawanan yang lebih sengit di dalam pikirannya. Telinganya awas menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikeluarkan Bima.


"La aku minta maaf. Benar benar minta maaf La." Bima memilih menghentikan argumen. Dia menyadari tak ada gunanya bila dia terus menyerang Marla dengan kalimat kalimat tak bijaksana.


Pertahanan Marla runtuh seketika, kalimat maaf dari Bima barusan seperti panas mentari yang melelehkan beku di hatinya. Membuat butiran kecil dan hangat itu meluncur dengan mudah dari sudut matanya. Lalu cepat cepat dia seka, tak ingin Bima mendapatinya menangis. Bagaimanapun harga dirinya perlu dijaga dari adegan cengeng itu.


" Sebenarnya apa yang terjadi kemarin diluar kendaliku. Aku tak pernah mengundang Desy untuk hadir . Aku sendiripun heran kenapa dia bisa ada di sana. "Bima berusaha menyampaikan setenang mungkin.


Marla meremas ujung lengan bajunya berusaha menahan air mata itu supaya tak terus menetes. "Ah kenapa kalimat demi kalimat Bima tadi, mengharu biru hatinya, mengaduk aduk perasaannya," keluhnya di hati.


"Aku dan Desy tidak pernah ada hubungan apa apa La. Bahkan setelah malam itu, Desy tetap hanya masa lalu buatku. Tidak ada hubungan apapun diantara kami. Sayangnya aku tidak sempat menjelaskan semuanya. Sekali lagi aku benar benar minta maaf La ." Lagi Bima berusaha menyampaikan dengan kalimat yang tepat,sambil memandang Marla penuh penyesalan sekaligus pengharapan untuk dimengerti.


Namun gadis dihadapannya itu hanya tertunduk tanpa kata, tidak membalas tatapannya.


Demi melihat butiran bening yang jatuh di pangkuannya, Bima lalu mengerti, Marla sedang menangis. Pujaan hatinya itu sedang menyembunyikan wajahnya yang menangis. Melihat itu Bima semakin merasa bersalah. Dadanya seperti dihujam sesuatu yang keras dan menyakitkan. Bima mengepalkan tangannya menahan rasa sakit itu, tangan yang bertumpu di atas lututnya itu mengepal begitu kuat.


Bima menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan berkali kali, "Huuuhhh.....," sekedar mengurangi sesak di dadanya.


Kembali Bima memilih diam, benar benar tak ingin menambah kesedihan Marla lagi.


Marla tak mampu menyampaikan kalimat apapun lagi. Hati dan fikirannya sedang tidak sinkron untuk saat ini, sulit bekerjasama merangkai kata. Mungkin karena kecewa yang terlalu besar, atau pengharapannya kepada Bima yang terlalu besar. Pengharapan yang terbangun dari perhatian dan perlakuan manis Bima selama ini padanya. Wajar rasanya Marla mengharapkan sebuah hubungan yang pasti.


Atau mungkinkah karena cintanya pada Bima begitu besar ? Cinta . Yah..., bisa jadi itu adalah cinta. Cinta yang tak disadarinya telah bertumbuh begitu besar. Cinta yang membuat hatinya tersayat sayat cemburu saat melihat Bima dipeluk dan di cium perempuan lain. Cinta yang membuatnya menginginkan Bima dengan utuh menjadi miliknya. Cinta yang mampu membuatnya menangis seperti saat ini.


Bagimu seperti apakah cinta itu ?