MARLA

MARLA
Jatuh Cinta Vs Patah Hati



"La....,ceritalah......,gimana rasanya ?"


"Apaan sih ?"


"La...,"kembali Lina memonyongkan mulutnya.


"Ahhhhhhhh......,"Marla merebahkan tubuhnya legah di samping teman satu kampusnya itu. "Seriuuus...,atau...."Marla menggantung kalimatnya.


"Seriuslaaahhh....."


Lina langsung berteriak protes.


"Ha ha ha ha...."Marla langsung terbahak lagi. Hari ini terasa begitu sempurna baginya. Dengan Bima, apa yang terjadi tadi masih menyisakan luapan luapan kebahagiaan kecil di hatinya. Dan malam ini sahabat terbaik yang pernah dia punyai pun mendampingi dengan setia. Melengkapi cerita bahagianya hari ini.


"Rasanya tuh.....,gimana ya ? Senang iya, bahagia iya, bangga iya, berbunga bunga iya, aduh campur aduklah pokoknya."


Lina memandangi teman yang berbaring disampingnya itu dengan tatapan turut berbahagia. Sudah sepantasnya dia mendapatkan kebahagiaan ini.


"Selamat ya La.......,ku doakan hubungan kalian langgeng sampai pernikahan. Amin. " Doa Lina dengan tulus.


"Amin.....,"Marla ikut mengaminkan. "Thanks ya Lin, aku tau kamu banyak bantu hubungan kami terwujud."


"Biasa aja La....."


Keadaan sunyi, mereka masih dengan senyum di bibir masing masing, memandang ke arah yang berbeda beda. Lina memandang lurus ke arah jendela kamar di samping pintu, sementara Marla memandangi langit langit kamar berwarna putih gading itu.


"Hmmmm....,masih seperti mimpi rasanya Lin."


"Mmm ? Apanya yang seperti mimpi ?"


"Aku dan Bima. Pacaran. Kayak mimpi." Marla bangkit dari posisi tidurnya dan duduk bersandar ke tembok di samping Lina, ia berpangku dagu sambil memeluk lututnya.


"Kenapa bilang begitu ?"


"Entahlah..., rasanya Tuhan sedang berbaik hati padaku sekarang. Kalau ingat yang lalu lalu itu, rasanya ini kayak sebuah keajaiban . "


Lina hanya tersenyum menanggapi. Dia tau, getir di hati Marla belum sepenuhnya hilang. Butuh waktu untuk menyembuhkannya.


"Sudahlah....,ga ada gunanya juga kamu mengenang yang lalu lalu, hanya akan bikin kamu makin sakit hati." Lina coba menghibur.


Marla mengangguk mantap, ia setuju dengan kalimat Lina barusan. Benar, fikirnya, tidak ada gunanya mengenang yang lalu lalu. Bima berbeda dari mereka, tak ada gunanya mengenang laki laki di masa lalunya itu.


"Udah malam. Tidurlah yuk. "


Lina meraih selimut dan berbaring. Marlapun ikut berbaring lalu menarik selimut sampai batas lehernya. Kemudian tak lagi terdengar suara keduanya berbincang. Masing masing mencari lamunannya sendiri sendiri, sebelum akhirnya terlelap nyaman dalam dekapan malam.


____________


Desy memperbesar gambar di layar ponsel yang baru dia beli kemarin. Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya sambil memandangi foto dan video di laman sosial media miliknya.


"Inikah namanya patah hati ? Kenapa rasa ini begitu menyakitkan ?" Pikirannya bertanya pada diri sendiri.


Status sosial media yang dilihatnya tak salah orang. Sangat jelas dan pasti bahwa itu gambar Bima bersama Marla yang memeluk buket bunga.


"Selamat buat Bima dan Marla akhirnya resmi pacaran, semoga langgeng terus sampai pernikahan. Amin." Caption akun milik Join itu memperjelas kisah dibalik gambar status yang dilihat Desy.


Senyuman sumringah Marla di foto menambah sakit di hati Desy. "Senyum itu seharusnya menjadi milikku. Bunga itu seharusnya untukku." Gumamnya di dalam hati.


Sedih sekaligus sakit hati rasanya saat ini. Sosial media Join, Lina, Hans dan yang lainnya memposting foto dan video yang sama. Saat saat Bima menyatakan cinta pada Marla.


Semakin sedih karena Lina juga ada di sana, tapi tak mengatakan apapun padanya. Lina yang sudah menjadi sahabatnya sejak SD, berbagi cerita dan kisah tentang banyak hal dengannya, kenapa tega menghianatinya begini ?


Desy menangis sejadi jadinya, ingin bercerita mencurahkan semua sedih dan sakit hatinya, tapi pada siapa ? Tak ada siapapun teman dekat yang dia punya selain Lina. Keadaan ini membuatnya semakin merasa bodoh.


Perlahan demi perlahan tangisannya mulai mereda, tapi kemelut di pikirannya masih tetap sama. Desy meraih ponsel di sisi kirinya, mencari cari nomor seseorang yang dia kenal.


"Ric lagi dimana ?" Tersambung ke nomor terdial.


"Hei......,Des....., lama gak ada kabar. Aku lagi nongkrong sama anak anak nih, Kenapa beb ?" Suara di seberang riang menyambut panggilan seluler dari Desy.


"Aku kesitu ya."


"Wow wow......,yakin putri alim mau ikut nge-club ?"


"Ya boleh lah...,tapi...."


"Udah ah....,bilang aja dimana, aku kesana sekarang. Lagi stres nih aku." Desy memotong cepat kalimat orang bernama Eric itu.


"Tahu kan GELATIO di Pattimura ? Datang kesini ya."


"Ok. Aku OTW."


Desy menyambar kunci mobil di atas meja rias. Ketika melihat wajahnya di kaca , baru menyadari betapa berantakannya wajah itu.


"Ah...,grrrmmm." Geramnya pada diri sendiri. Dan lagi, air matanya berlinang kembali, kenyataan yang ada membuatnya menangis lagi. Berjuang menenangkan diri sendiri, lalu duduk di depan cermin meja rias dan merapikan tatanan wajahnya sebentar.


Tak sampai 10 menit, tampilan wajahnya sudah sempurna kembali. Desy menghela nafasnya beberapa kali sebelum melangkah pergi sambil menyambar tas tentengnya dari atas ranjang .


Mobil Honda Jaaz itupun melaju kencang membelah malam yang mulai sepi. Dinaungi sinar bulan separuh dan cahaya temaram lampu jalanan. Hanya butuh 15 menit untuk tiba ditempat yang dituju.


Tak banyak kendaraan malam ini, tak ada macet juga di setiap jalur yang dilaluinya.


"Hei beb...,welcome."


Eric segera menyambutnya, saat wajah manis berpenampilan trendi itu keluar dari mobil. Lalu memandunya memasuki club, ke arah meja tempat mereka berkumpul.


"Hei hei guys, kenalin kenalin. Ini Desy, teman cantikku malam ini."


"Ihh..,apaan sih." Desy menonjok galak bahu Erik.


"Ha ha ha....,bercanda bercanda."


"Hai...,aku Desy."


"Hai, Nela"


"Jamie."


Beberapa bersalaman dengannya memperkenalkan diri, beberapa yang dia kenal hanya menyapa dengan anggukan kepala.


Sudah lama kebiasaan ini dia tinggalkan. Sejak dia tamat kuliah tepatnya, komunitas muda mudi tempat Lina mengajaknya waktu itu banyak membantu Desy untuk lepas dari dunia malam seperti ini.


"Mau fly beb ?"


"Enggak Rik. Aku nyetir sendiri soalnya."


Pil kecil pemacu adrenalin itu masih bisa dia tolak.


Desy bersandar santai di sofa berwarna merah marun itu. Di tangannya segelas martini sudah menemani.


Kepala dan tubuhnya mulai bergoyang goyang mengikuti irama musik yang berdentum keras.


"Turun yuk..."


Desi mengangguk setuju. Menegak habis martini di tangannya dalam sekali teguk. Membiarkan Eric menuntunya menuruni tangga ke lantai dansa.


Tak butuh waktu lama baginya menyesuaikan diri dengan irama musik yang berdentam. Tubuh ramping itu telah bergoyang goyang menikmati suasana. Keadaan ini benar benar melepaskan semua stress di pikirannya, tapi tak bisa menghilangkan rasa kosong dan sedih dalam hatinya.


Patah hati ini benar benar menyakitkan. Air mata Desi keluar lagi di tengah hingar bingar musik yang dimainkan dan kumpulan orang orang yang bergoyang goyang di lantai dansa. Untung saja cahaya redup bisa membantunya menutupi wajah yang basah oleh air mata itu.


Desy berusaha menyangkal perasaan ini, mengabaikan seolah olah itu tak pernah ada. Namun sekuat apapun dia menolak,tentu saja hati tak pernah bisa membohongi diri sendiri.


"Rik.......," Desy melambai ke arah Eric memberi tanda kalau dia sudah selesai menari.


Eric hanya mangangguk dan memilih tinggal menari lebih lama. Berpikir Desy mau rehat sejenak di kursi sofa tempat mereka tadi kumpul.


Namun Desy ingin keluar dari tempat itu, ia lalu masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil ia mulai menangis tersedu sedu lagi, membiarkan mobil terkunci rapat, tak ingin orang menemukannya sedang menangis di sana.


Menyadari sekali lagi, bahwa apa yang dilakukannya kali ini sudah salah. Tempat ini adalah pelarian yang salah.


Tangisnya mereda setelah beberapa saat. Dia kembali tenang dan menguasai keadaan sekarang.


"Brumm, brrum,brrruum......."Mobil dihidupkan. Desy mengemudi pelan menuju pulang , tak sempat berpamitan pada teman temannya tadi. Kedua jendela mobil dia buka selebar lebarnya. Membiarkan udara malam mempermainkan helai rambutnya. Menikmati sapuan angin bersamaan embun menyapu wajah sembab itu. Memberikan sedikit kedamaian dari keheningan malam.