
Bima merenungkan kembali kata kata Hans siang tadi.
"Kalau kamu mencintai dengan tulus, kamu tidak akan keberatan mengalah dan berkorban untuk dia Bim."
Sesuatu yang lebih dalam dari sekedar mencintai adalah mengasihi setulus hati. Bukan keinginan dimengerti dan difahami, tapi mencoba mengerti dan memahami. Itulah arti cinta yang sesungguhnya.
"Belum tidur Bim?" Tiba tiba Hans sudah berdiri di sampingnya. Mengusap rambut basahnya dengan handuk menggantung di bahu.
"Mmmmm...,"Bima menggeleng.
Hans duduk di samping Bima, diatas meja tersusun yang disulap menjadi tempat tidur. Bima bergeser sedikit memberi tempat untuk Hans duduk.
"Pernah ga kamu berfikir, kalau kamu seperti berjuang sendirian untuk hubunganmu dengan Kak Dina?"
"Pernah."
"Pernah?"
"Iya. Pernah."
"Terus gimana?"
"Yah....,kita berantem."
"Terus ?"
"Kita duduk bersama dan bicarakan. Waktu itu ada Bang Roy dan Hana yang bantu kita selesaikan."
Bima terdiam, sambil berpikir.
"Kamu ga penasaran, gimana ceritanya?"
"Enggaklah. Itu kan privasimu."
"Mmmm....,"Hans mengangguk lalu melanjutkan. "Setelah masalah itu, aku belajar banyak hal."
"Apa?"
"Laki laki itu beda dengan perempuan. Kalau kita menunjukkan cinta dengan terang terangan,karena laki laki itu banyak memakai logika. Tapi perempuan tidak begitu. Mereka mencintai dengan perasaan. Mereka banyak memendam, menahan, tak mau merepotkan."
"Maksudnya gimana?"
"Lewat konflik itu aku baru tau kalau ternyata Dina pun banyak berkorban. Hanya saja tidak kelihatan dan tidak diceritakan. Dia membelaku mati matian di tengah keluarganya yang mengkritik aku. Bagaimana ia berjuang membuat keluarganya bisa menerimaku tanpa konflik."
"Bukankah seharusnya begitu?"
"Buat kita mungkin itu hal biasa, karena kita terbiasa hidup dan besar tanpa ikatan kasih orangtua sejak kecil. Tapi Dina ? Coba kamu bayangkan, Dina harus berkonflik dengan orang terdekatnya demi membela aku yang baru dia kenal. Itu bukan hal mudah lo."
"Aku masih belum faham."
"Nanti kamu akan faham sendiri. Intinya yang harus kamu ingat adalah, bisa jadi Marla pun berkorban dalam diam. Mungkin ada pertimbangan yang dia pikirkan dan kamu tidak tau."
"Masih belum mengerti."
Hans tersenyum kecil "Bim, menjalin hubungan itu ga boleh egois," ia menepuk pundak Bima lembut dan beranjak.
Pria bertubuh besar itu turun dari meja tempat Bima akan berbaring dan merebahkan diri di atas kursi sofa panjang tak jauh dari situ. Sofa tua yang dipinjamkan pihak sekolah untuk mereka pakai selama mengerjakan proyek disana.
Terdengar sayup sayup suara jangkrik dari kejauhan , seperti musik penghantar tidur yang memecah keheningan. Kelap kelip lampu rumah rumah warga pun masih terlihat indah ditengah kegelapan malam. Bima masih duduk manis menikmati pemandangan itu.
"Benarkan aku egois?" Dalam hati ia mempertanyakan itu. Lalu bagaimana dengan laki laki yang bersama Marla di foto itu? Apakah sebaiknya dia abaikan saja itu?
Rasa kantuk yang perlahan menghampiri, membuat Bima akhirnya menyerah pada malam. Berbaring di tempat tidur ala kadarnya dan mulai terlena. Melepaskan semua beban pikirannya untuk saat ini.
Dalam kesibukan pekerjaan, waktu seakan berlari kencang. Hari demi hari berganti dengan cepat.
"Bagaimana finalnya Hans?"
"Sempurna. Sudah aku cek beberapa kali. Sudah demo 2 kali, ada beberapa perbaikan kemarin. Tapi sekarang sudah ok semua."
"Kapan bisa demo uji coba dengan pihak sekolah?"
"Sesuai jadwal kemarin, siang ini usai jam sekolah kita uji coba dengan beberapa siswa dan guru."
Bima mengangguk angguk puas. Lalu kembali memeriksa dokumen dokumen penting untuk serah terima proyek ke pihak tender sekolah. Urusan ini hanya dia yang tau dan bisa menyelesaikannya.
Dua bersaudara laki laki itu berbagi tugas dan tanggung jawab dalam usaha yang mereka bangun bersama. Hans yang bertanggungjawab mengurus fisik proyeknya. Lalu Bima yang mengurus semua legalitas dan dokumen perjanjian tender.
Dalam keadaan sepi proyek, Bima akan promosi dengan mengajukan proposal ke sekolah dan kampus. Melobi kenalan yang mengerjakan tender sekolah. Dan Hans akan memodifikasi rakitan laboratorium bahasa sesuai perkembangan yang ada.
"Hans." Bima mendekati abangnya bersama salah satu guru dari sekolah itu. "Kenalkan ini Pak Roby, yang nanti akan demo di depan. Tolong bantu sosialisasikan ya."
"Oh iya." Hans menyambut jabatan tangan di depannya.
"Pak Roby, ini abang saya Hans. Dia yang tau tentang pekerjaan proyek ini."
"Oh iya.....,kalian bersaudara rupanya." Roby menggambarkan kekaguman.
"Iya pak. Abang saya ini ahlinya merangkai komponen elektro. Jadi tidak usah ragu menanyakan apapun tentang laboratorium bahasa sama dia pak. Dia tau dari ujung ke ujung semua rangkaian yang kita bangun pak."
"Oooo...,iya iya iya." Wajah tua itu tak hentinya kagum.
Hans hanya tersipu sipu kecil mendengar pujian adiknya barusan.
"Silahkan pak, saya bantu perkenalkan cara kerja laboratorium bahasanya." Seperti biasa penuh kesopanan, Hans mempersilahkan Roby masuk ke ruangan lab yang mereka kerjakan.
Bima mengikut di belakang mereka masuk ke ruangan, tak lama ia berbalik meninggalkan ruangan itu dan Hans yang mengambil alih menjelaskan. Pekerjaan Bima yang lain sudah menunggu untuk dibereskan. Dokumen serah terima proyek, mencetak panduan laboratorium bahasa dan akta kontrak yang harus dilengkapi.
"Tut..., tut...,tut...," Bima menunggu panggilan teleponnya tersambung.
"Halo." Telepon tersambung di panggilan kedua.
"Selamat pagi Pak Siswo."
"Pagi pagi pak Bima."
"Maaf mengganggu kesibukannya sebentar pak."
"Oh ga apa apa Pak Bima. Gimana tadi pak?"
"Ini pak, mau info tentang progres kerja proyek kita. Ini pekerjaan kita sudah selesai pak. Siang ini akan demo dengan pihak sekolah. Bapak mau bergabung pak."
"Oh iya iya. Wah..., cepat juga ya. Tapi sepertinya saya tidak bisa hadir disana nih. Siang ini saya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal pak Bima. Nanti saya suruh anggota saya saja yang hadir ya pak, mewakili perusahaan kita di sana."
"Oh begitu ya pak. Baik pak Siswo. Lalu penyelesaian kontrak kerjanya bagaimana ya pa?"
"Iya, nanti anggota saya yang selesaikan ya Pak Bima. Saya akan suruh dipersiapkan semua berkas dokumennya. Kalau dia bilang sudah kelar semua, uang sisa tender segera saya transferkan ya."
"Oh iya pak. Baik pak. Terimakasih Pak Siswo."
"Sama sama." Bima menutup panggilan.
Karakternya yang tegas dan lugas mampu membuat prioritas urusan tersusun dengan rapi. Bagian bagian terpenting dari penyelesaian tender sudah selesai. Sembari Hans membantu demo dalam ruangan, Bima menyelesaikan urusan dengan orang orang yang terkait pelunasan proyek. Sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui.
Ketika berhadapan dengan urusan pekerjaan, Bima sebisa mungkin menepikan urusan pribadi untuk sementara. Dengan begitu dirinya bisa fokus dan memperoleh hasil yang maksimal pula. Bima punya prinsip, "kerjakan apa yang bisa dikerjakan saat ini, kalau tidak bisa lanjutkan lagi besok."