MARLA

MARLA
Rindu Untuk Marla 1



BIMA


Beberapa hari dirumah, tanpa berbuat apa apa. Tidak bisa kemana mana. Dengan pergerakanku yang terbatas ini, rasanya memang benar benar menyiksa. Dan lebih tersiksa lagi karena harus menghadapi Desy setiap hari.


Yah....,Desy. Perempuan cantik yang dulu pernah aku kejar kejar setengah mati. Seandainya dulu dia bersikap manis begini, pastilah aku akan senang bukan kepalang.


Tapi sayang......,dia bersikap manis setelah perasaanku hilang. Sulit bagiku mengembalikan rasa yang telah hilang itu. Ditambah lagi saat ini sudah ada Marla di sana.


Kemarin Desy sengaja permisi dari kantor, membawa mobilnya sendiri, hanya untuk menjemput aku dan Hans dari Rumah Sakit. Meski berusaha aku tolak, tapi dia tetap kekeh. Lalu ini, setiap hari dia permisi dari kantor dan datang menjagaku dirumah. Selalu ada saja yang dia bawa dan dia kerjakan selama menjagaku di rumah.


Hari ini dia juga permisi dari kantor, katanya akan merawatku sebisa mungkin.


"Ini buahnya." Desy menyodorkan sepiring apel yang sudah dikupas dan dipotong potong.


Aku yang melihat TV namun melamun itu, menerima saja piring berisi buah itu diserahkan.


"Besok kamu ga usah datang lagi Des. Aku ga enak jadinya." Kataku sambil mengunyah buah.


"Ga apa apa kok. Aku udah bilang sama abangku, kalau beberapa minggu ini aku ijin pulang lebih cepat." Jawabnya mengabaikan kalimatku. Abang tertua Desy seorang yang punya jabatan bagus di tempat dia bekerja. Wajarlah dia dapat ijin.


"Des...,aku tidak bisa menerima kebaikanmu." Kataku hati hati.


"Biasa aja Bim....,aku hanya......"


"Aku mencintai orang lain Des." Kataku tegas memotong kalimatnya.


Aku menatap kearahnya , menegaskan bahwa aku serius dengan ucapanku.


Desi yang tadinya menatapku, menarik pandangannya ke arah lain tanpa bicara.


Lalu Desy mengemasi barangnya. Mengambil tas tangan dan kunci mobilnya bersiap untuk pergi. Lalu katanya, "besok aku akan datang lagi."


Dia keluar dan menutup pintu dengan pelan.


Aku menghela nafas sambil terpejam.


Aku benar benar tak suka keadaan ini. Keadaan yang membuat hatiku dilema.


Lebih menyakitkan lagi ketika dalam keadaan ini, komunikasiku dengan Marla benar benar terputus. Telepon dan pesanku tidak direspon, dari Lina juga aku tak bisa dapat kabar apa apa tentang dia. Lina bilang sejak kejadian kumpul kumpul itu Marla tak pernah ke tempatnya lagi. Aku seperti kehilangan jejak Marla.


_______________


Hari ini Hans menemaniku kontrol ke dokter. Saat mengantri di depan Poliklinik Rumah Sakit aku melihat antrianku masih jauh. Lalu aku pergi menjenguk ke ruangan Marla bekerja, ketemu dengan teman dinasnya. Tapi aku kecewa karena Marla masuk dinas malam hari ini.


"Dari mana ?" Hans bertanya karena kecarian dari tadi.


"Dari kamar mandi, " jawabku berbohong.


"Marla hari ini dinas malam. Besok dia libur. " Hans sepertinya tau aku kecarian Marla.


"Kok kamu tau ?"


"Tadi aku telepon dia sebelum kita ke sini. Dia sudah di jalan pulang waktu kita menuju ke sini." Katanya salam saja buat kamu."


"Kenapa baru bilang sih !!!" Kataku penuh kecewa.


"Lah....,kamu ga ada nanya. "Hans membela diri. "Barusan pake bohong segala lagi. Aku tau kamu ke ruangan tempat Marla kerja kan ? Kalau kamar mandi arahnya ke sana, bukan kesana. "Hans menjelaskan sambil menunjuk 2 arah yang berlawanan dari keteranganku.


Aku yang terciduk, tak bisa membela diri lagi. Tanpa basa basi aku cerita apa adanya ke Hans. Karena Hans satu satunya orang yang saat ini bisa aku tanyai tentang Marla, maka tak ada pilihan lain.


"Apa kabar Marla Hans ?"


"Kenapa ga pernah angkat teleponku, tidak balas pesanku. Apa dia sedang menghindariku ?" Tanyaku pada Hans.


"Mungkin saja, "kata Hans menebak. "Meski aku belum tanya ke Marla langsung ya, tapi bisa jadi begitu." Lanjutnya kemudian.


Pembicaraan kami terhenti sejenak, mendengar panggilan untuk pemeriksaan. Sambil menunjukkan semua hasil pemeriksaan terakhir kepada dokter, Hans agresif bertanya tentang keadaanku. Hans lebih perduli banyak tentang kesehatanku, mungkin karena khawatir. Mengingat sebelum sebelumnya aku sering masuk Rumah Sakit .


"Baik dokter...,terimakasih dokter." Hans telah mendapatkan semua informasi yang perlu dia tau. Setelahnya kami permisi dan keluar ruang periksa dokter.


Seusai pemeriksaan dan menebus obat serta beberapa suplemen tulang, aku dan Hans memesan taxi kearah pulang. Tapi kemudian aku berubah fikiran.


"Kita ke rumah Join saja Hans. Sementara aku tinggal di sana saja dulu." Kataku memberi ide.


Tanpa bertanya kenapa, Hans hanya setuju. Atau mungkin dia sudah tau kenapa ?


Aku mau menghindar dari Desy, satu satunya tempat yang aku tau bisa nyaman hanya di tempat Join. Dia sahabatku sejak lama, pekerjaan nya sebagai editor video membuatnya banyak dirumah saja. Akan sangat membantuku kalau Hans harus pergi mengerjakan proyek. Setidaknya aku tidak akan kesepian. Soal makan tinggal pesan rantangan, kalau baju tinggal laundry kiloan saja.


Join termasuk beruntung, orangtuanya membelikan satu rumah untuknya ketika dia lulus di Universitas Negeri ternama di kota ini. Orangtuanya menetap dikota lain, hanya sesekali datang berkunjung. Join termasuk teman yang baik, tidak neko neko. Bergaul juga tidak sembarangan. Berteman dengan dia sejak bertemu di kumpulan muda mudi gereja. Sudah lama dia menawari kami, untuk tinggal satu rumah saja dengan dia, ada sisa 2 kamar yg tak terpakai di rumahnya. Dulu untuk kamar kakaknya semasa gadis. Tapi 1 tahun lalu kakaknya menikah dan diboyong suaminya keluar kota. Jadilah Join sendiri dirumahnya yang luas.


"Join.......,"teriakku memanggil pemilik rumah dari balik pagar. Setelah panggilanku kesekian, orang yang diharapkan muncul di depan pintu. Dengan muka kusut seperti baru bangun tidur.


"Oh......,masuk masuk. Katanya sambil bergegas membuka pintu pagar. "Sory sory, aku ketiduran." Katanya memberi penjelasan.


Setelah masuk ke rumahnya ,aku segera rebahan di sofa panjang. Mengesampingkan penopangku. Sudah beberapa kali aku menginap di sini, dan sering main ke sini di waktu waktu sepi proyek. Sudah sangat terbiasa dengan rumah ini. Bisa dibilang aku lebih banyak nongkrong di sini.


"Banyak kerjaan Jo ?" Hans berbasa basi.


"Yah...,gitulah. Ada beberapa yang tinggal finishing." Join menjelaskan.


"Jo....,aku titip Bima di sini ya. Beberapa hari aja kok. Besok aku keluar kota mengerjakan proyek." kata Hans.


"Apaan sih, kayak anak kecil aja dititip." Kataku protes.


Join hanya tertawa lucu, melihat aku protes.


"Ya harus dititiplah, keadaan kamu begini."Hans menjelaskan.


Singkatnya aku menginap di tempat Join.


"Jo.....,jangan bilang ke Desy ya kalau aku nginap disini. "kataku mewanti wanti.


"Loh, kok gitu. Kenapa cerita ?" Join bertanya bingung.


"Nanti tanya aja Bima lah. Aku juga ga terlalu ngerti, "kata Hans menghindari pertanyaan. "Ok...,aku jalan ya, mau jemput barang keperluan Bima dulu."


Lalu Hans berangkat keluar kota setelah mengantarkan semua keperluan dan perlengkapanku. Sengaja dia berangkat lewat siang, agar tidak kepanasan di perjalanan. Akan menginap di lokasi proyek malam ini, dan besok langsung mengerjakannya.


"Bim...,kamu sama Desy gimana ?"


"Sudah tamat cerita Jo. Sengaja ngungsi ke sini gara gara dia."


"Iya yang aku tanya, kenapa ?"


Aku lalu duduk mengambil posisi nyaman bercerita. Menjelaskan kepadanya keadaan sebenarnya. Dan alasanku menghindari Desy.


"Astaga...,kasianlah dia itu Bim." Cetusnya setelah ceritaku selesai.


"Justru karena itulah aku mengungsi ke sini. Biar tidak merepotkan dia lagi."


Join hanya menggelengkan kepala dan berlalu pergi melanjutkan tidurnya yang terganggu tadi. Meninggalkanku yang asik dengan ponselku.