
Suara kluntang klantung di dapur memecah kesunyian pagi. Marla sedang mencuci piring, sambil menyiapkan keperluan bumbu dan bahan makanan untuk memasak sarapan.
Pagi ini dia akan kembali ke kota. Pukul 8 pagi bus trip pertama dari desanya akan berangkat. Jadi 1 jam sebelumnya dia harus sudah berangkat ke stasiun, agar bisa memilih bangku tempat duduk yang nyaman di dalam bus.
Jadwal keberangkatan bus dari desanya menuju ke kota hanya ada 3 kali , jam 8 pagi, jam 1 siang dan jam 4 sore hari.
Sebelum berangkat Marla ingin memastikan rumahnya rapi dan bersih saat dia tinggalkan. Setidaknya sekedar sarapan sempatlah dia sediakan. Selalu seperti itu.
Marla sangat perduli pada hal hal sekecil itu. Akan merasa bersalah bila tidak melakukannya. Perduli dengan kebutuhan dan kenyamanan orang orang di sekelilingnya.
Selama dia dirumah, Marla ingin melakukan hal hal yang berguna untuk membantu. Meringankan pekerjaan mamak mengurusi masakan dan belanjaan dapur, mengambil alih pekerjaan Dita membereskan dan membersihkan rumah, juga membantu bapak mengurus ternak di sore hari. Toh dia hanya sekali sekali saja ada dirumah begitu pikirnya.
"Udah bangun kak ?"
"Eh....,iya. Kamu kok udah bangun ?"
Dita muncul di ambang pintu dapur dengan mata yang masih mengantuk.
"Iya.....,kupikir entah siapa ribut di dapur. Rupanya kakak."
Marla hanya tersenyum melihat wajah bantal adik semata wayangnya itu, tangannya tak lepas dari mengiris bumbu bumbu.
"Aku balik tidur lagilah."
Dita berbalik masuk ke kamar dan melanjutkan tidurnya.
Marla hanya tersenyum lucu melihat adiknya itu sambil mengantuk tergopoh gopoh kembali masuk ke kamar lagi.
Pukul 6 pagi lewat sedikit, satu persatu penghuni rumah mulai bangun. Bersiap mengerjakan tugasnya masing masing.
Di meja dapur, sarapan sudah selesai dimasak. Rumah sudah selesai dibersihkan. Marla bergegas ke kamar mandi membersihkan diri, bersiap siap mau kembali ke kota.
"Dit....,kemarin kamu simpan dimana sepatu kakak ?!"
Dengan handuk yang masih membungkus kepala, Marla celingak celinguk mencari sepatu yang dimaksud. Jejeran sepatu di dalam rak yang diletak di sudut rumah dia perhatikan satu persatu.
"Ada disitu kak !"
"Dimananya ? Ga ada kakak lihat ?!"
"Eh he......,disini lo !"
Dita mendatangi kakaknya lalu menarik kotak yang tersusun di rak sebelah bawah. Sepatu yang sempat dia pinjam kemarin untuk kegiatan sekolah itu dia keluarkan dari dalam kotak.
"Ini lo....."
"Ohhhh.....,kamu simpan di dalam kotak rupanya. Manalah kk tau. "
"Iya...,biar ga kotor ketimpa sepatu yang lain."
"Ihhh...,pintarnya adekku ini."
Marla mengacak acak rambut lurus Dita. Bertolak belakang dengan bentuk rambut Marla yang ikal.
Siswa kelas 2 SMA itu hanya cengar cengir diperlakukan penuh sayang sedemikian oleh Marla.
"Harus ya kak, kakak pulang hari ini ?"
Protes Dita tak rela.
"Hmmmm. " Marla mengangguk sambil memakaikan sepatunya.
"Heh....,sst. Jangan asal ngomong ah."
Buru buru Marla menghentikan omongan adiknya dengan telunjuk di depan bibir. Tidak ingin orangtuanya mendengar omongan barusan.
"Habisnya, kakak tiba tiba aja bilang mau pulang hari ini. Harusnya kan besok."
"Hhhhhmmm..,"Marla berdiri memeluk adiknya itu, setelah sepatu terpasang nyaman di kakinya.
"Biar kakak bisa istirahat dulu besok, sebelum masuk kerja. Soalnya kakak langsung dapat jadwal dinas malam dek."
Marla berusaha memberikan alasan yang masuk akal. Sambil tanggannya memainkan pipi imut adiknya itu. Meski pada faktanya Bima memang alasan terbesar Marla memilih pulang hari ini.
"La, ingat nanti bawa kotak ini sama pelastik hitam itu ya nang ?"
Rohulina membawa sekotak besar perbekalan, dan sekarung beras lalu meletakkannya di samping kursi tamu.
Semalam pulang dari kilang padi, Marla bilang akan pulang ke kota hari ini. Isteri Togar itu segera belanja ke grosir Cek Aseng, tempat terlengkap dengan harga lebih murah untuk keperluan sabun, jajanan dan lain lain.
Seperti biasanya perempuan paruh baya itu akan melengkapi keperluan keperluan Marla yang bisa dibawa. Mulai dari sabun, deterjen, odol gigi, ikan kering, minyak makan, bumbu bumbu dapur dan sayur sayurannya yang bisa tahan lama.
Lalu beberapa roti dan aneka macam cemilan siap makan yang bisa dibawa di dalam plastik hitam.
Tak lupa sekarung beras baru yang dia bawa dari kilang padi semalam.
"Kok banyak kali mak ?"
"Ga apa apalah nang. Biar ga usah beli lagi disana, bisa kamu simpan uangmu."
Tak lama Togar pun muncul dari dalam kamar. Mengambil 3 lembar ratusan ribu dan memasukkannya kedalam genggaman Marla ketika gadis itu menyalaminya hendak berpamitan.
"Pak......,ga usahlah pak." Tolak Marla halus.
"Ambil aja boru, uang hasil jual ayam kemarinnya itu. Kamu kan ikut juga mengurusnya. Jadi anggap ajalah itu upahmu boru."
"Makasih ya pak."
Marla pun menerima uang itu, lalu memeluk Togar dengan rasa terimakasih yang besar. Ia tau, sekalipun bukan karena jual ayam, pasti bapaknya akan selalu memberikannya uang saku. Kadang dititip pada Rohulina untuk diberikan kepada putri tertuannya itu. Bisa dengan berbagai alasan, agar Marla tak sampai merasa malu saat menerimanya.
Pria dengan rambut yang mulai memutih itu tetap saja mengganggap Marla adalah putri kecilnya. Entah sampai kapan dia menganggapnya begitu. Laki laki pekerja keras itu selalu berusaha agar anak anaknya tidak kekurangan, selalu ada untuk melindungi mereka.
Pernah satu kali Marla dibuli di sekolah saat masih duduk di bangku SD. Sempat trauma dan tak mau pergi ke sekolah. Pelan pelan Togar menanyai Marla dengan mengajaknya bermain ke ladang sambil bercerita sepanjang jalan. Jadilah hari itu putrinya tidak ke sekolah, melainkan menemani ayahnya ke ladang. Ketahuanlah ada beberapa anak laki laki nakal yang merundungnya di kelas.
Besoknya Togar ke sekolah Marla sendirian, menjumpai wali kelas anaknya dan menjelaskan masalah perundungan itu. Mewanti wanti akan memindahkan Marla bila hal ini masih terulang lagi. Dia kenali dengan baik anak anak yang merundung Marla.
Malam hari, dia datangi rumah anak anak itu satu persatu, berjumpa dengan orangtuannya dan menyampaikan perlakuan anaknya yang merundung Marla di sekolah. Togar memberi peringatan pada orangtua anak anak itu, bila hal itu masih terulang, jangan salahkan kalau Togar sendiri yang akan menghajar anak anak mereka.
Sejak itu, tak ada lagi yang berani merundung Marla di sekolah. Sikap guru dan anak anak yang merundungnya waktu itupun berubah. Marla kembali nyaman menjalani hari harinya di sekolah.
Marla baru tau kisah itu ketika dia sudah duduk di bangku SMA. Teman masa kecil yang pernah merundungnya itu tak sengaja keceplosan bicara.
Begitu banyak kenangan kenangan baik yang Marla ingat tentang tempat ini. Tempat terbaik untuk dia bisa pulang adalah rumah ini. Suasana ini, dan orang orang didalamnya, selalu memperlakukannya penuh kasih.
Marla lalu mengangkat barang ke atas becak mesin yang sudah menunggu di depan rumah. Rohulina membantu membawa plastik hitam berisi cemilan. Marla tak bisa menahan haru di dadanya, memeluk dan mencium pipi ibundanya yang mulai keriput, sambil berpamitan pergi.
Moment seperti ini selalu saja haru bagi Marla. Bagaimana baiknyapun keadaannya di kota, tetap saja rumah ini tempat paling nyaman baginya.
Dita yang sudah duduk di atas becak, memandangi saja adegan itu penuh pengertian. Berusaha menahan diri untuk tidak mendesak kakaknya cepat berangkat. Meski sesekali dia juga melirik jam di tangannya, khawatir terlambat ke sekolah.